
Antara pasti dan ragu Rama akan menjawab. Jika benar maka
betapa senangnya tuan Garra. Tapi jika tidak maka tuan Garra akan menjadi lebih
tambah parah dari saat ini. Mengingat Reina pernah mengatakan padanya kalau
Maira akan mengugurkan kandungan nya. Apalagi status mereka sudah bercerai.
Rama berkeringat di ruangan ber ac itu. Dia takut salah jawab.
“Tuan.” Rama memanggil sopan. “Usia kandungan nona memasuki
bulan 3-4 saat ini.” Terpaksa Rama mengatakan walaupun belum tahu kebenarannya.
Tapi dia mengingat pasti usia kandungan Maira setelah berbincang dengan dokter
Syarif waktu itu.
“Aku mau menemani Mairaku. Dimana dia, cepat antar aku
Rama.” Garra bicara tak sabar. Kakinya hendak turun namun Rama menahan nya.
Pukulan tangan Garra tak sekuat biasanya membuat Rama hampir tertawa. Kemana
tangan kekar yang biasanya menonjok wajah Rama. Apalagi kini Garra memberontak
kakinya mengudara tapi Rama menahanya dengan enteng.
Padahal dulu Garra sempat
menendang kaki Rama hingga tak bisa berjalan beberapa hari. Kasihan sekali
kekuatan itu lenyap.
“Tuan maaf jika aku lancang. Tapi nona Maira akan sangat
syok melihat penampilan anda saat ini.” Rama berkata ragu ragu. “Nona Maira menunggu kedatangan anda,
sebaiknya buatlah dia tak merasa bersalah.” Rama membujuk dengan permohonan.
1 minggu berlalu sasha berada di kediamannya. Kursi roda
menjadi tempat nyaman unuknya menikmati secangkir teh hangat ditaman. Seorang
ibu menemaninya dengan senyuman yang begitu ikhlas. Dan wanita cantik berdiri
tak jauh darinya. Marisa tersenyum.
“Pagi wonder women.” Sapa Marisa dengan secangkir teh
hangat. Sasha tersenyum mendengar suara itu.
“Berjalan lancar. Aku harap iya karena kabar ini sangat
membantu kesembuhanku.” Sasha menoleh ringan pada Marisa yang berjalan duduk di
depan nya.
“Kau lupa aku aktris.” Marisa memicingkan matanya. Tak mau
di ragukan. Sasha menampakan senyuman di wajah cantiknya yang terlihat pucat.
__ADS_1
“Tapi kenapa kau memintaku untuk mengatakan itu.” Marisa
memasang wajah kecut dan penasaran.
“Apa yang ku katakan.” Sasha bertanya dengan sesekali menyeruput tehnya.
“Sesuai scenario, aku bilang padanya kalau Maira tengah
mengandung anaknya. Dia menunggumu Garra. Dia sosok yang sangat mencintaimu
dengan sangat.” Marisa menjelaskan. Ada raut bingung di sana.
“Maira selalu ingin bertemu dengan kamu. Dia selalu menunggu
kabarmu. Melihatmu seperti ini membuat dirinya khawatir.” Jalas Marisa yakin.
“Sehatlah Kembali Garra. Lalu jemput dia dan bawa Kembali
bersamamu.”ucapan terakhir Marisa.
“Lalu.” Sasha penasaran. “ Apakah Rama bisa menebak sewaktu
kita menelfon. Ku harap dia pekah dengan apa yang kau sampaikan.” Sasha berkata
khawatir.
“Tenang lah Sasha. Rama adalah orang yang paham situasinya.
Aku bicara dengan jelas dan nama Luis aku katakan dengan sangat jelas.” Marisa
meyakinkan.
“Semoga saja.” Sasha berharap. Dia mengigir kukunya khawarti
Seperti yang di katakan oleh Reina kalau Sasha adalah gadis
baik hati hanya saja di bawah pengaruh Ellyana. Sasha juga berpotensi tantrum
seperti Garra. Bedanya Garra akut. Dengan berpotensi mengidap tantrum makanya
Ellyana menghasut Sasha agar bisa merasakan hidup tanpa di bawah tekanan bayang
bayang Garra. Ellyana yang kerap kali ketakutan mejadi terprovoksi. Akhirnya
menuruti permintaan Ellyana lalu bersekongkol. Sekarang bagaimana kabar
Ellyana. Nanti kita bahas!
Sasha dan Marisa adalah sahabat sejak mereka masih satu
agensi di wiliam group. Sayang sekali Sasha memilih study di luar untuk
memperdalam pengetahuan soal biola. Namun dirinya koma memakan banyak waktu. Dan itu juga
dbalik permainan Ellyana. Marisa masih
tetap menjadi aktris film di bawah naungan group tapi terancam saat ini karena
mengalami perosostan keuangan beberapa bulan terakhir.
Kabar terbarunya soal wiliam group setelah sang bos Kembali
__ADS_1
bagaimana yah?
Ali terus menerus memantau perkembangan Kesehatan Garra. Laki
laki itu mengalami kenaikan berat badan yang drastis. Dirinya sangat serius
untuk membuat kebugaran dan mencetaak perut sispax lagi.
“Aku rasa untuk hormone dan amunisi Kesehatan tuan garra
sudah totalitas. Makanya bisa obesitas.” Ali berkata dengan santai .
Pagi yang cerah udara yang segar membuat suasana hati Garra
Kembali hidup. Kini seperti hidup untuk kedua kalinya. Garra bertekat akan
Kembali merebut mantan istri yang kabur.
Setelan jas mahal menutup sempurna di badan sang bos, jam tangan melingkar indah di
pergelangan, sorot mata biru yang memancarkan kecerahan, aura sang bos bersinar
Kembali. Jauh lebih hidup.
Menapaki kantor yang terlihat mati Garra melangkah dengan
yakin layaknya bos penguasa dirinya menjadi sorot mata banyak karyawan.
Elevator pribadi mengahantarkan Garra dan Rama langsung ke ruangan kantor yang
sangat elegan itu.
“Rama kolega yang kemarin membatalkan proyek, buat mereka
membayar 5x lipat pada perusaahan dalam rapat direksi. Dan buat perusaan yang
berinvertasi mendapatkan keuntungan 3x lipat dari dari perusaahan.” Garra
berakta dengan nada perintah.
Rama mengaguk yakin kalau bosnya sudah bicara tak ada yang tak mungkin. Hanya saja bosnya sangat keterlaluan untuk apa memberikas
keutungan pada perusaaahn bertahan mereka semua hampir menghilang kalau Nadia
tak pandai bicara. Dan itu yang melakukan pembatalan proyek sangat menyesal
pasti. Tahu begitu lebih baik kemarin itu Nadia tak usah merengek untuk tetap
bertahan. Logikanya.
Rama menuruti ucapan sang bos. Rapat direksi di lakukan dan
benar saja. Ruangan yang tadinya mereka beramai ramai ribut saat Rama yang
duduk di kursi kebesaran itu tiba tiba suara nafas pun tak terdengar. Rama
menatap kesal para penjilat yang waktu itu bicara soal pembatalan dengan rahang
tegas dan angkuh. Kemana semua ekspresi mereka itu sekarang.
Jangan lupa like dan comen yah, vote juga.
__ADS_1
yuk intip bab selanjutnya di ig;PZAIMA