
Dua hari setelah kejadian itu pagi pagi sekali Rama mendapat panggilan telfon dari bos Garra. Ia menanyakan kabar Rama saat ini.
Dering telefon Rama membuyarkan fokusnya yang masih membaca beberapa laporan. Ia pun segera mengangkat telfon setelah melihat nama yang tertera di layar."Bagaimana keadaan kamu." Pertanyaan Garra yang langsung to the point.
Rama tersenyum menyeringai. Akhirnya bos Garra menanyakan juga kabar padanya setelah berhari hari ia tak saling mendengar kabar."aku selalu dalam keadaan baik." ucap Rama tersenyum di balik ponselnya.
"Bawakan aku beberapa laporan jika kau sudah merasa baikan. Kalau memang masih butuh istirahat biar Jodi yang urus keberangkatan mu." Ucap Garra sebelum ia menutup ponselnya secara sepihak.
Mana mungkin Rama berani, apalagi berurusan dengan Jodi yang dalam artian tamat lah sudah riwayat Rama.
Mengganti pakaian menggunakan setelan jas nya Rama terlihat begitu tampan , potongan belah sampingnya membuat ia begitu berkarisma.
Rama bersiap dengan beberapa dokumen penting yang akan ia bawa untuk bos Garra. Seperti libur lama dengan tak sabar Rama melaju di jalanan untuk segera bertemu dengan bos Garra.
Sementara di kediaman Garra di brescout ia sedang sarapan pagi bersama Maira, mereka terlihat begitu mesra seperti tak terjadi apapun 2 hari yang lalu padahal kalau di ingat ingat kembali suara Garra yang menggelegar sampai para pekerja yang berada di rumahnya mendengar dengan jelas.
Namun ada apa dengan hari ini, semuanya terlihat baik baik saja.
__ADS_1
"Aku senang melihat kalian berdua akur tuan bos." Ucap pak Marta.
Pak Marta terlihat begitu senang melihat Garra yang pagi itu sedikit berbeda. Wajah Gara terlihat lebih banyak tersenyum dan sapaan nya juga begitu sopan pada pekerja lainya.
Sayangnya itu tak berlangsung lama ketika Maira membangkang atas perintah Garra.
"Maira ambilkan aku udang." Ucap Gara memerintah kan dengan tersenyum sayangnya Maira malah terlihat kaget dengan permintaan Garra yang menurutnya itu aneh ada apa dengan dia? Bukan kah tangan nya baik baik saja. Gumam Maira memperhatikan tangan Garra.
"Tangan mu kenapa, aku rasa baik baik saja, bukan.! ucap asal Maira lebih parahnya ia tak mengiakan ucapan Garra.
"Apakah terlihat aneh jika seorang suami mu meminta di ambilkan udang." Ucap Garra mulai emosi;
.
"Yah aku akan ambilkan kalau tangan mu patah atau ..........." ucapan Maira spontan acuh.
"Jadi kau akan mengambilkan makanan kalau tangan ku patah, jadi aku harus menunggu tangan ku patah dulu baru kau akan mengambilkan aku makanan." Tatapan Garra tak bisa di kontrol lagi
__ADS_1
Perasaan Maira sudah tak nyaman mendengar suara keras Garra hingga membuat ia khawatir akan jadi tontonan bagi para pekerja di rumahnya .
"kau sudah berjanji Maira akan mencintaiku dengan menuruti semua perintah ku." ucap Garra tak kalah emosi
dan saat itu juga Rama sudah masuk dan mendengarkan percakapan mereka berdua.
"T tuan Garra eh bos Garra maafkan aku, ini cuman perkara undang akan aku ambilkan. Jangan kan udang air surga pun akan aku ambilkan." ujar Maira mengajak Garra untuk makan kembali.
andai kau tahu tuan Garra kau yang memintaku untuk mencintaimu..
Maira bertingkah manis dan mulai manja dengan Garra yang hampir saja meledak itu. yang tak mereka percayai di depan mata adalah ketika Garra sudah emosi akan sangat sulit untuk di kontrol namun apa yang baru saja mereka lihat adalah bukti nyata dengan mudahnya Maira membujuk Garra dan ia langsung terdiam seketika.
__ADS_1