
Langkah Laura terhenti Ketika mendengar suara tembakan.
Banyak memori pahit yang Kembali muncul hingga membuatnya ketakutan dan histeris.
Beralih ke tempat pernikahan. Beberapa tamu undangan berteriak histeris kala Garra
menembakan peluru ke lengan bahu Bian.
Tak hanya sekali Gaara menarik pelatuk tembakan. Jika di
total maka ada 3 tembakan lengan yang kiri dan kanan, lalu yang ke tiga berada
dibetis Bian.
Ada apa dengan Gaara.
“Gaara.” teriak Maira yang tadinya mematung.
“Jangan menyentuh tangan istriku.” Kata Gaara mendekat penuh
emosi.
Tak perduli dengan kesakitan yang di rasakan Bian, Gaara malah
semakin terlihat ingin menghabisi nyawa Bian saat ini juga.
Seakan tak peduli dengan darah yang mengotori bajunya, Maira
mensejajarkan tingginnya untuk membantu Bian berdiri.
“Akan aku tembak kepalanya jika sampai kau membantunya.” Ucap
Gaara menahan kesal.
Maira menatap tak percaya. Detik belum berganti menit di
mana Sebagian besar banyak orang yang masuk ke dalam Gedung menggunakan jas
hitam.
Sudah di pastikan mereka salah satu komplotan Bian.
Suara tawa menggelegar di ruangan itu. Bian mencoba berdiri
dengan beberapa darah segar yang menetes.
Tangan Maira di gengam dengan begitu erat oleh Bian.
__ADS_1
“Ikut aku.” ucap Bian menatap Gaara. Entah apa maksudnya?
Dengan Gerakan sarkas Maira melepas tangan Bian yang
memegang erat lalu menghentakanya dengan kasar.
“Jangan memrintahkanku.” Kata Maira dengan kesal. Setelah berkata
Maira berjalan dan berhenti tepat di samping Gaara.
“Aku akan benar benar menganggapmu musuh.” Kata Maira
menggenggam tangan Gaara.
Laki laki yang tengah emosi itu menyunggingkan senyuman
tipis.
“Kalau begitu kau akan melihat musuh mu seumur hidup denganmu.”
Kata Bian dengan tatapan tajam.
“Apa kau menganggapku mati.” Kata Gaara menyela pembicaraan
keduanya.
menyahut ucapan Gaara.
“Benar.” Sahut Maira meninggi. “ Itu karena aku yang
menghilang.” Lanjut Maira berkata dengan penuh penekanaan.
“Apa kau Bahagia bersamanya.” Bian bertanya.
Maira melirik Gaara,lalu mengeratkan gengamanya. Sialnya Bian
menyaksikan itu.
Maira mengangguk,dengan tatapan yakin menatap Bian kemudian.
“Aku tidak bisa memilikimu, aaa.” Ucap Bian seperti pelakon.
(bicara sendiri dengan intonasi)
“Lalu bagaimana kalau aku membuatmu tak di miliki siapapun.”
Ucap Bian menyunggukan senyuman menatap Gaara.
__ADS_1
Wajah Bian terlihat mulai memucat. Mungin saja karena
kekurangan darah.
“Aku akan memilih kiamat.” Kata Maira melihat khawatir pada Bian.
“Rupanya kau lebih menyukai pembunuh.” Kata bian mulai
terbata bata.
Bian terlihat kesulitan saat berdiri,hampir hilang
keseimbangan. Dirinya mematuk badan pada beberapa pengawalnya.
“Ikut dengan ku atau kalian semua mati.” Kata Bian bersusah
payah.
Seseorang memperlihatkan waktu yang berjalan mundur melalui
ipad di salah satu pengawalnya.
Sial ternyata Bian memasang jebakan. Untuk mengecoh beberapa
penjaga dirinya langsung yang menjadi umpan agar pengawalnya bisa memasang
denang mudah,selagi dirinya berbasa basi.
Cerdik sekali bukan.!
Suara nafas Gaara terdengar berat.
Haha
Haha
Haha
“Aku setuju dengan ucapan mu kalau dia tak di miliki siapa
pun.” Gaara berkata yang di mana matanya terlihat merah dan sedikit berair.
Apa yang tengah terjadi,suasananya cukup mencengkam? akankah Gaara atau Bian yang memenangkan hati Maira?
Perseteruan yang terjadi diantara keduanya membuat banyak konflik semakin memanas,belum lagi mereka saling membawa pengawal. hanya saja siapa yang lebih unggul?
jangan lupa tinggalkan jejak anda yah. terimaksih sudah mampir
__ADS_1