
Di tengah perjalan mobil mereka berhenti tepat mendekati
rumah sakit. Di sana nampak banyak sekali orang yang bertubuh kekar dengan
senjata di tangan. Mereka di hadang?
Rama yang paling depan berhenti dengan bingung, di susul
dengan mobil yang lainnya. Semua laki laki itu keluar dengan tatapan
kebingungan.
“Ada apa Rama.” Tanya Luis nampak bingung.
“Mereka gangster.” Malik bicara.
Semua terlihat waspada. Diantara mereka Malik paling tahu
dengan dunia yang berkaitan dengan para gangster di kota itu.
“Lama tak jumpa malik.” Ucap seorang bertubuh tegap dengan
postur badan yang gemok. Malik melangkah dengan pasti mendekat pada para
gangster.
“Apa diantara kami ada yang bermasalah dengan kalian.” Malik
bertanya dengan curiga. Dari dalam mobil Maira menatap dengan tajam pada orang
yang berbaris dengan pakaian serba hitam itu, dia teringat sosok laki laki
yang tengah berbicara dengan malik. Dia adalah lintah darat yang pernah
berurusan dengan nya. Oh astaga apakah malik berutang lagi. Pikir Maira.
“Benar sekali. Tapi dia seorang Wanita.” Ucap laki laki
bertubuh gemok itu. malik menatap tak percaya. Adiknya dalam bahaya.
“Siapa yang mengutus kalian.” Malik bertanya. Laki laki itu
mengeluarkan senjata tepat di depan kepala Malik.
Pintu mobil terbuka Maira berlari mendekati Malik. “ Kakak.”
Teriak Maira berlari. Tepat saat itu pintu mobil lainya terbuka. Di sana
seseorang berpakaian jas rapi keluar dengan berlagak keren dia adalah Bian.
Langkah Maira terhenti.
“Apa kabar Maira.” Sapa Bian terlihat sangat tampan.
“Bian.” Maira berkata.
__ADS_1
“Come on baby.” Bian melangkah mendekati Maira.
“Aku rasa kau lupa sesuatu.” Suara Rama menghentikan Langkah
Bian. Luis berdiri tepat di depan Maira. Laki laki itu berusaha melindungi
gadisnya.
“Oh saudara cabang ku, apa kau ingin di sapa juga.” Sudut
bibir Bian meremehkan. “ What a shame. Aku gak ada waktu.” Sorot mata Bian berbeda.
“Jangan menyentuhnya. Ku pastikan langkah selanjutnya kau
akan tinggal nama.” Luis berkata suara nya terdengar dingin.
“Benar kah. Itu seharusnya kata kata untuk kalian.” Bian
berkata dengan terus melangkah.
“Kalian memang hebat tapi sayang sekali kalian kalah
jumlah.” Ucap Bian dengan angkuh. Yah Bian tak main main menyewa para gangster
di kota itu. Jika bertarung sekarang yang ada mereka hanya akan jadi mainan
para gangster mengingat pasukan Bian lebih dari 200 orang.
Seketika semua mengelilingi Maira. Perlawanan mereka
Hahahha
Hahhah
Hahha
“Apakah aku baru saja melihat avenger.” Bian berkata, suaranya terdengar meledek.
“Bian apa yang kau lakukan, ini bukan Bian aku
kenal.”giliran Maira yang bicara.
“Aku masih Bian yang dulu. Aku masih mencintaimu, oh
aku berutang penjelasan padamu. Dan itu
akan aku jelaskan setelah kita menikah.” Bian bicara seperti orang tidak
normal.
Semua yang mendengar itu merasa aneh dengan kepribadian Bian
yang sekarang. Bagaimana bisa dia berubah sangat egois kali ini.
“Bian buka matamu, aku bukan Maira yang dulu aku sudah
__ADS_1
menikah.” Maira berteriak.
“Aku tidak peduli. Lagian pernikahan kalian itu hanya
sandiwara. Kalian sudah bercerai.” Bian terbawa emosi.
Benar Maira dan Gaara sudah bercerai. “Buka matamu Maira,
dia akan kembali pada tunangannya.” Bian terus melontarkan kata kata
menyakitkan.
“Maira jangan dengarkan ucapan iblis itu.” Rama bicara
dengan emosi penuh.
Tangan Bian terangkat ke udara, dua jari pertanda mereka
harus menyerang. “Kau ikut dengan ku atau kau mau melihat orang orang itu
tergeletak dengan tubuh kaku.” ucapan Bian semakin membuat Maira tak bisa
berfikir.
“Kau ingin membawa dia. Bagaimana kalau melewati kami dulu.”
Ucapan Nevan membuat kesabaran Bian habis.
“Habisi mereka tapi jangan sentuh Wanita itu.” ucapan Bian
seketika semua gangster berlari dengan emosi yang siap memukul.
Perkelahian tak bisa di hindari semua saling menyakiti satu
sama lain. Bian menatap puas Ketika semua terlihat saling menyakiti. Maira
ketakutan dan menangis dirinya berada di tengah tengah yang lainya.
Pukulan dan teriakan dari kedua belah pihak terdengar jelas
di telinga Maira. Gadis itu berteriak histeris. Seketika dirinya teringat sosok Gaara
yang membutuhkan kehadirannya.
Maira melangkah keluar dari lingkaran perlindungan berjalan
kearah Bian dengan air mata. Keduanya terlibat percakapan Panjang. Tak ada waktu
bagi yang lain untuk memperhatikan itu.
Sampai Bian berkata. “ Berhenti.” Tatapan Bian menatap
rendah pada sahabat Gaara itu, mereka babak belur. Semuanya menatap heran dan
tetap mengikuti perintah Bian.
__ADS_1