
"Maira sadarlah, demi apapun juga aku berani pertaruhkan nyawaku kalau kamu masih mencintai diriku sampai saat ini." perasaan Bian mulai gelisah dengan tingkah Maira yang memberi respon tidak biasa.
"Ayolah Maira. Aku tahu rasa cintamu itu hanya untuk aku." memegang ke dua tangan Maira.
"Itu hanya cinta monyet. Apa ada yang kekal di dunia ini menurut mu." ucap maira dengan senyuman khas nya.
"Apa yang kau lihat aku masih sama seperti dulu. Perhatikan baik baik dari penampilan saja aku sudah sangat berbeda apalagi soal sifat Bian." maira menekankan suaranya pada setiap ucapan kata yang keluar dari mulutnya.
Dasar Bian brengsek. Apa dia tak tahu aku sedang menyelamatkan mu dari keganasan Garra. Meski aku sendiri belum tahu sekejam apa dia
Ekor mata Maira melihat ke arah Garra dan pandangan mata mereka bertemu. Maira yang tak sengaja menjadi gugup dengan aura Garra. sementara Garra sendiri tak dapat di pastikan apa yang sedang ia rasakan.
Sampai ke dua satpam penjaga keamanan datang lalu menyeret Bian dari tempat acara perjamuan raja Ibrahim.
Sekilas ada rasa iba di mata Maira melihat Bian yang di seret paksa agar keluar dari acara sambil memangil manggil namanya.
"Jangan sampai tuan Garra melihat rasa ibamu itu." seolah bisa membaca pikiran Rama berucap dengan sempurna gambaran perasaan Maira.
Demi apapun aku ingin memakai jubah saat berhadapan dengan sekertaris es ini.
Maira kesal dengan sikap dan kepintaran Rama yang bisa menebak dan membaca situasi.
"Siapa bilang aku merasa iba. Aku hanya terkejut." ngeles Maira sebelum ia berlalu.
__ADS_1
Rama mengangkat sebelah alisnya saat mendengar ucapan Maira .
Sudut bibirnya tersenyum hingga ia bertatapan dengan sang pemilik mata elang Garra dan pada akhirnya wajah sedingin es tanpa ekspresi itu kembali nampak pada Rama.
tatapan Garra seperti mengimintidasi perasaan Rama barusan pada Maira.
Acara penyambutan raja Arab berjalan semestinya setelah inside Bian. Garra pun buru buru pamit pada Ibrahim untuk pulang.
" Aku senang bisa masuk dalam circle sahamu." mengangkat tangan kanannya untuk bersalaman dengan Ibrahim.
"Tidak masalah, lagian pertemanan dua orang sukses dan muda adalah sebuah acungan jempol raksasa." mencoba mencairkan suasana dengan Senda gurau.
"Kalau ada kesempatan main lagi ayok ngobrol lebih lama." mengangguk kan kepalanya sebelum meninggalkan Ibrahim.
Gara berlalu keluar ia mencari sosok Rama dan Maira. Ia menatap sekeliling ruangan yang di penuhi orang orang yang juga sedang menatap nya.
Malas tersenyum dan hanya Anggukan kepala saja yang di perlihatkan sebagai menyapa. Garra merogih sakunya lalu mengambil ponsel miliknya dan menekan panggilan dengan nama Rama.
"Di mana." suara dingin Garra membuat Rama tahu situasi nya.
"Sedang berada dengan nona Maira. Kami berada di dekat taman." ucapan Rama penuh berhati hati.
"kami." gumam Garra tak suka.
__ADS_1
Garra mematikan ponsel nya dan Rama pasti sudah tahu dengan hal ini.
Rama mengajak Maira untuk segera pergi kepada Garra.
"nona Maira, tuan muda Garra sudah menunggu sebaiknya kita segera pergi."
"kita." ulang Maira membisu.
"Ada apa dengan dua orang ini." gumam Rama menatap kesal.
Maira berjalan mendahului Rama. Sementara Rama yang berada di belakang Maira dengan layaknya seperti sepasang kekasih yang sedang marahan.
Tak butuh waktu lama Maira juga Rama sudah bedmrada di parkiran di mana mobil mereka akan diantarkan oleh pengawal acara raja Ibrahim.
dan tepat saat mobil itu berada di depan Maira dan Rama seketika Garra keluar dari kerumunan para wanita dengan gagahnya.
Ia berjalan layaknya pangeran yang di anggungkan. Tampan dan paras yang sempurna membuat Maira beberapa saat terpana.
Garra membuka pintu mobil untuk mereka berdua namun dengan kecepatan tangan Garra membuka pintu bagian kemudi.
Rama paham dengan tindakan Garra ia menyuruh Maira untuk duduk di sebelah Garra yang berarti ia akan pulang naik taksi.
"Baru kali ini tuan Garra menjadi kemudi untuk seseorang." gumam Rama yang menatap mobil yang di kendarai oleh Garra dan Maira.
__ADS_1
Sedikit melengkung ujung bibir Rama karena tersenyum.