
“Dia kakakku.” Sahut Maira, jutek.
“Owweeh” sahut Luis terkejut.
Beberapa saat mereka saling diam, sampai Luis membawa mereka
ke salah satu rumah. Tak berpenghuni
namun cukup terawat.
“Ini di mana.” Tanya Maira mulai waspada.
“Kalian kan gak ada tempat tinggal, jadi biar tempat ini
kalian tempati untuk sementara.” Jelas Luis memasuki halaman rumah yang tak
terlalu luas itu namun bertingkat dan terkesan mewah.
Setelah sampai, Maira cukup terpukau dengan keadaan di dalam
rumah itu, karena semua barang mewah dan tempatnya nyaman, jauh dari jalanan
yang bising dengan suara kendaraan.
“Em, kamu bukan salah satu dari mafia penjual organ kan.”
Tanya Maira merasa takut.
Luis membuka pintu dan membawa Malik ke kamar tamu, dan membaringkan
nya di sana dengan teramat hati hati.
“Bisa tolong kamu ambilkan kotak yang ada di mobil.” Ucap
Luis membuka perban di kaki Malik.
Awalnya Maira terlihat ragu ragu, namun tetap mengikuti
perintah Luis. Mengambil kotak dan membawanya kembali pada Luis.
“Terima kasih.”ucap Luis mengambil kotak lalu memakai
handskun.
“Kamu mau ngapain.” Tanya Maira curiga.
“Ini kalo gak di obati nanti infeksi.” Ujar Luis membuka
perban kaki Malik, yang darahnya sangat banyak.
“Kita gak saling kenal, dan aku gak percaya kamu.” Sahut Maira
__ADS_1
mengambil salah satu benda dengan ujung yang runcing lalu mengarahkan nya pada
Luis.
“Jangan macam macam kamu.” Dengan khawatir pada Malik.
Sudut bibir Luis terangkat sebelah, beranjak melangkah
perlahan mendekati Maira yang tengah ketakutan.
“Tadi kan kamu nanya, apa aku salah satu dari mafia.” Tersenyum
dengan tatapan tajam. “ Yah aku salah satu dari mereka.” Sahut Luis menggenggam
benda tajam itu hingga tangan nya mengeluarkan darah segar.
Maira kaget sendiri, melihat darah segar mengalir dari
tangan Luis, melepaskan benda yang runcing itu.
Luis kembali mengambil benda runcing yang jatuh di lantai,
lalu membantu menggantikan perban baru di kaki Malik, sementara tangan nya yang
luka hanya di bersihkan nya dengan tisu secara kasar.
Maira berdiri di sudut ruangan, memperhatikan apa yang Luis
oleh Luis.
Namun bagaimana selanjutnya?
Maira terdiam di ruangan depan tv, bersama dengan luis. Memperhatikan tangan yang di balut dengan perban akibat ulahnya tadi.
“Maaf, sudah melukaimu.” Ucap Maira yang kemudian menatap
kedalam mata Luis.
“Kau pernah mendengar kata pepatah, jangan meminta maaf
dengan ucapan.” Tatapan Luis semakin dalam.
“Maksudmu aku harus membantu untuk mengobati lukanya.” Sahut
Maira menatap Luis yang tengah membalut tangan nya dengan perban.
“Tanganku satunya masih berfungsi untuk melakukannya. Ada
yang lebih aku butuhkan.” Ucapan yang semakin membuat jarak wajah mereka hampir
tak ada.
__ADS_1
“Ah, apa itu.” Sahut Maira menatap kedalam mata Luis semakin
intens.
“Mau melakukannya.” Sahut Luis melirik bibir Maira.
“Aku rasa bisa, sebagai permintaan maaf ku.” Ucapan Maira
yang berarti menyanggupi.
Setelah ucapan itu keluar dari mulut Maira, Luis seorang
gengters mafia untuk pertama kalinya mencium seorang wanita yang baru ia temui.
Dia adalah Maira larasati istri dari seorang pemilik grup wiliam, Garra wiliam.
Maira tak menutup kedua matanya saat berciuman dengan Luis
yang terlihat menikmatinya. Bercumbu dengan suasana yang redup semakin
mendorong nafsu untuk jatuh kedalam kubangan dosa.
Sampai Luis dan Maira selesai bercumbu, keduanya saling
tatap namun dengan pandangan berbeda.
“Kau seorang ahli, sudah berapa banyak laki laki yang
merasakan bibirmu.” Tanya Luis mengelus lembut bibir Maira.
“Kau yang kedua.” Sahut Maira akan memalingkan wajahnya.
“Kenapa mau berciuman denganku.” Tanya Luis menahan wajah Maira
agar tetap menatapnya.
“Kau terlihat menginginkannya.” Sahut Maira kembali menatap
kedalam mata Luis.
“Apakah setiap laki laki yang terlihat menginginkannya selalu
kau berikan.” Protes Luis kembali menatap bibir Maira.
“Jangan salah, aku hanya mau berterimakasih.” Ucap Maira
penuh penekanan.
“Lagi pula aku sudah menikah, walaupun aku tidak mencintainya
tapi aku membutuhkannya.” Jelas Maira beranjak
__ADS_1