Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
Pertemuan dengan luis


__ADS_3

“Dia kakakku.” Sahut Maira, jutek.


“Owweeh” sahut Luis terkejut.


Beberapa saat mereka saling diam, sampai Luis membawa mereka


ke  salah satu rumah. Tak berpenghuni


namun cukup terawat.


“Ini di mana.” Tanya Maira mulai waspada.


“Kalian kan gak ada tempat tinggal, jadi biar tempat ini


kalian tempati untuk sementara.” Jelas Luis memasuki halaman rumah yang tak


terlalu luas itu namun bertingkat dan terkesan mewah.


Setelah sampai, Maira cukup terpukau dengan keadaan di dalam


rumah itu, karena semua barang mewah dan tempatnya nyaman, jauh dari jalanan


yang bising dengan suara kendaraan.


“Em, kamu bukan salah satu dari mafia penjual organ kan.”


Tanya Maira merasa takut.


Luis membuka pintu dan membawa Malik ke kamar tamu, dan membaringkan


nya di sana dengan teramat hati hati.


“Bisa tolong kamu ambilkan kotak yang ada di mobil.” Ucap


Luis membuka perban di kaki Malik.


Awalnya Maira terlihat ragu ragu, namun tetap mengikuti


perintah Luis. Mengambil kotak dan membawanya kembali pada Luis.


“Terima kasih.”ucap Luis mengambil kotak lalu memakai


handskun.


“Kamu mau ngapain.” Tanya Maira curiga.


“Ini kalo gak di obati nanti infeksi.” Ujar Luis membuka


perban kaki Malik, yang darahnya sangat banyak.


“Kita gak saling kenal, dan aku gak percaya kamu.” Sahut Maira

__ADS_1


mengambil salah satu benda dengan ujung yang runcing lalu mengarahkan nya pada


Luis.


“Jangan macam macam kamu.” Dengan khawatir pada Malik.


Sudut bibir Luis terangkat sebelah, beranjak melangkah


perlahan mendekati Maira yang tengah ketakutan.


“Tadi kan kamu nanya, apa aku salah satu dari mafia.” Tersenyum


dengan tatapan tajam. “ Yah aku salah satu dari mereka.” Sahut Luis menggenggam


benda tajam itu hingga tangan nya mengeluarkan darah segar.


Maira kaget sendiri, melihat darah segar mengalir dari


tangan Luis, melepaskan benda yang runcing itu.


Luis kembali mengambil benda runcing yang jatuh di lantai,


lalu membantu menggantikan perban baru di kaki Malik, sementara tangan nya yang


luka hanya di bersihkan nya dengan tisu secara kasar.


Maira berdiri di sudut ruangan, memperhatikan apa yang Luis


oleh Luis.


Namun bagaimana selanjutnya?


Maira terdiam di ruangan  depan tv, bersama dengan luis.  Memperhatikan tangan yang di balut dengan perban akibat ulahnya tadi.


“Maaf, sudah melukaimu.” Ucap Maira yang kemudian menatap


kedalam mata Luis.


“Kau pernah mendengar kata pepatah, jangan meminta maaf


dengan ucapan.” Tatapan Luis semakin dalam.


“Maksudmu aku harus membantu untuk mengobati lukanya.” Sahut


Maira menatap Luis yang tengah membalut tangan nya dengan perban.


“Tanganku satunya masih berfungsi untuk melakukannya. Ada


yang lebih aku butuhkan.” Ucapan yang semakin membuat jarak wajah mereka hampir


tak ada.

__ADS_1


“Ah, apa itu.” Sahut Maira menatap kedalam mata Luis semakin


intens.


“Mau melakukannya.” Sahut Luis melirik bibir Maira.


“Aku rasa bisa, sebagai permintaan maaf ku.” Ucapan Maira


yang berarti menyanggupi.


Setelah ucapan itu keluar dari mulut Maira, Luis seorang


gengters mafia untuk pertama kalinya mencium seorang wanita yang baru ia temui.


Dia adalah Maira larasati istri dari seorang pemilik grup wiliam, Garra wiliam.


Maira tak menutup kedua matanya saat berciuman dengan Luis


yang terlihat menikmatinya. Bercumbu dengan suasana yang redup semakin


mendorong nafsu untuk jatuh kedalam kubangan dosa.


Sampai Luis dan Maira selesai bercumbu, keduanya saling


tatap namun dengan pandangan berbeda.


“Kau seorang ahli, sudah berapa banyak laki laki yang


merasakan bibirmu.” Tanya Luis mengelus lembut bibir Maira.


“Kau yang kedua.” Sahut Maira akan memalingkan wajahnya.


“Kenapa mau berciuman denganku.” Tanya Luis menahan wajah Maira


agar tetap menatapnya.


“Kau terlihat menginginkannya.” Sahut Maira kembali menatap


kedalam mata Luis.


“Apakah setiap laki laki yang terlihat menginginkannya selalu


kau berikan.” Protes Luis kembali menatap bibir Maira.


“Jangan salah, aku hanya mau berterimakasih.” Ucap Maira


penuh penekanan.


“Lagi pula aku sudah menikah, walaupun aku tidak mencintainya


tapi aku membutuhkannya.” Jelas Maira beranjak

__ADS_1


__ADS_2