
Setelah melaksanakan pernikahan yang singkat itu Rama, membawa wanita yang baru saja sah menjadi istri tuanya Kembali ke brescout. Tentu saja atas perintah sang tuan.
“Setelah mengantarnya cepatlah Kembali.” Garra berkata.
Rama pun pamit dengan sopan pada tuanya itu untuk segera membawa gadis yang baru saja menjadi nyonya Garra.
“Mari nona ikut saya.” Rama berkata pada Maira dengan anggukan kepala.
Maira mengerti dengan ucapan itu secepatnya mengikuti Langkah Rama. Seperti anak bebek, Maira berjalan tepat di belakang Rama.
Rama melakukan hal yang biasa dirinya lakukan pada bosnya itu. membuka pintu untuk nyonya Garra. Menarik pedal gas dengan perlahan Rama memacu di jalanan untuk membawa gadisnya tuanya Kembali ke brescout.
Perjalanan mereka hening tanpa suara apapun selain mesin mobil. Mulut Maira gatal ingin bertanya. Tapi, mengingat sahutan Rama yang
judes membuat Maira ragu akan niatnya.
Situasi yang mencengkam bukan. Hening dan sunyi.
Jalan yang awalnya lancer dengan perlahan menjadi begitu padat saat memasuki pusat kota, berbagai lampu merah mereka lewati di tambah dengan kecelakaan yang beruntun di jalanan membuat Rama kesal sendiri.
“Wah macet sekali.” Maira berguman. Namun Rama dapat mendengarnya.
“Aku rasa tuan mu sudah bosan menunggu.” Lanjut Maira berucap. Karena perjalanan mereka memakan banyak waktu padahal Rama sudah berusaha membelah jalanan hanya saja
__ADS_1
mereka kena sial mungkin.
Keterlaluan sekali situasi ini.
“Sudah hampir sejam, tapi kita masih berada di jalanan. Apakah tuan mu itu tak akan mengamuk.” Maira mencoba bicara.
“Ini pertama kalinya aku terlambat.” Sahut Rama spontan.
Lagi lagi Rama harus melaju dengan membela jalan sore yang macet itu. mencari jalan yang sekiranya bisa melaju dengan mulus. Sayangnya itu hanya harapan dan ekspetasi Rama saja. Kenyataannya jauh berbeda.
Jalan yang ramai itu menghambat laju mobil mereka.
Benar benar situasi sialan.
Waktu berlalu begitu cepat tanpa dapat di cegah. Kini keduanya baru saja memasuki area brescout saat kegelapan mampir untuk waktu
Samar samar terlihat seseorang dengan pakaian jas tengah bersandar di pintu kendaraan yang terbang itu, hellikopter. Menatap kearah mobil yang melaju sedang.
Sampai mobil BMW itu berhenti tak jauh dari parkiran helikopter yang baru saja mendarat. Mungkin.
Laki laki yang tampan itu merogoh sakunya dengan sebatang rokok di mulut.
Menghidupkan macis yang berwarna gold itu lalu membakar sebatang rokok yang ada di jepit antara kedua bibir laki laki yang sedikit menghitam itu.
__ADS_1
Asap rokok itu mengembuskan dengan sempurna bersamaan dengan hembusan dari mulut Gara.
Rama keluar dari dalam mobil. Dirinya tahu sudah melakukan kesalahan. Yaitu membuat tuan bosnya menunggu hingga kesal.
“Maaf bos, jalanan macet dan beberapa tempat terjadi kecelakaan. Sangat padat tadi.” Jelas Rama menunduk.
Garra berjalan turun dari tangga hellikopter. Dirinya melewati Rama yang berdiri tak jauh dari mobil.
Tangan Garra membuka pintu mobil jok penumpang. Pemandangan aneh, gadis itu tertidur pulas.
“Kau boleh pergi.” Garra berkata. Rama segera meninggalkan tempat itu dengan menaiki hellykopter. Angin menerpa kuat namun tak ada
pergerakan yang terjadi pada Garra. Wow setegar batu karang bukan.
Garra mengangkat tubuh Maira memasuki rumah megah itu dengan desain mewah dan elegan. Ini seperti rumah kastil.
Membaringkan gadis itu dengan perlahan di ranjang yang berukuran king.
Predikat sekali Maira ini.
Hingga malam semakin larut, Maira tersadar dari tidur lelapnya. mengerjabkan matanya berkali kali. Dirinya tak melihat siapapun di kamar dengan pencahayaan minim itu.
“Di mana para penghuni rumah ini.” Gumam Maira mengucek matanya.
__ADS_1
Guys lahan parkir oke jangan lupa yah
Ig: Pzaima