
"Gak ada yang mustahil. Semua akan menjadi mungkin." Rama bicara dengan nada tegas.
"Menjadi pemimpin Wiliam group syaratnya harus menikah, Sasha kemungkinan besarnya belum sadarkan diri dalam waktu dekat." Rama menjelaskan.
*S*eharusnya anda sudah menikah dari tahun lalu, mengingat rencana paman Marcel yang ingin melengserkan anda dari perusahaan milik keluarga. Rama bicara dalam hati.
"Rama kau bersama ku tidak dalam waktu singkat. Aku rasa kau paham dengan situasi ku saat ini." Gatra berkata bimbang.
"Tak ada jalan lain. Menikahi gadis itu sudah paling tepat." Rama bicara spontan.
Karena mencari yang seperti Sasha sama saja membuat manekin hidup. pikir Rama dan itu merepotkan.
"Aku akan menyakiti 2 wanita nantinya Rama. Mama dan gadis itu." Gara berkata tak terima. Tangannya terkepal erat.
Rama melirik itu, dia paham kegalauan sang bos.
"Bos dia hanya wanita yang akan menikah kontrak selama dua 2 tahun. Kalau pun anda nantinya bercerai dalam waktu sebelum 2 tahun itu bukan masalah besar."
"Dan sepertinya paman Marcel sudah menyusun rencana untuk lengsernya anda." Rama bicara dengan nada serius.
" HM paman Marcel yah." Gara bergumam.
"Aku sama sekali tak mau menyakiti wanita manapun, aku masih menunggunya bangun." Gara terlihat tertekan.
__ADS_1
Rama paham dengan perasaan bos nya itu. Tapi di sisi lain dirinya juga perlu untuk memikirkan jalanya perusahaan ketimbang balas dendam. Terlalu chessy kalau bos Gara itu sampai bimbang.
"Bos sekarang kita sedang dalam pengawasan paman Marcel. Dengarkan aku." Rama mulai malas kalau sudah begini.
"Jika anda khawatir soal rupanya nanti kita bisa operasi wajahnya, tapi berhubung wanita yang harus menjadi nyonya Wiliam akan sangat berpengaruh ke kehidupan anda nantinya maka saya sangat menyarankan agar menerima pernikahan ini." Rama berceloteh panjang lebar
Garra mulai mendengarkan dengan seksama, alis matanya yang memilki harus lentur dengan daya pikat itu tak hanya sekali naik turun saat Rama berceloteh dengan opininya.
Hingga Rama selesai memberinya pandangan, akhirnya sang bos mulai membuka pikirannya. Tapi itu tidaklah mudah, melainkan dirinya memiliki segudang rencana yang tak bisa di tebak.
Bukanlah hal yang baik bagi Maira kalau sampai Garra menerima pernikahan yang akan mengubah hidupnya. Kasihan bukan!
Ah cara kerja takdir memang sudah di tebak bukan. Bahkan tak sedikit diantara mereka ada yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Apakah Maira akan melakukan itu juga? Jangan konyol kalian. Maira bukanlah gadis lemah yang akan pasrah dengan takdir sialan itu!
Setelah beberapa saat menunggu di luar ruangan, Rama kembali menemui mereka untuk menyeru agar mereka kembali memasuki ruangan tuan Garra.
Rama mempersilahkan Maira dan Malik duduk kembali di tempat mereka. Dengan perasaan was was Maira mencoba untuk tidak terlihat gugup sama sekali.
"Aku setuju menikahi adikmu" Gara menatap Malik. " Besok kita akan melangsungkan pernikahan nya." Gara berkata tanpa melihat Maira. Mata gadis itu berkaca kaca.
Rama berjalan ke arah Maira dengan beberapa lembar kertas. Memberikan dengan sopan yang di ambil Maira dengan gerakan tak bersahabat.
__ADS_1
wajah dengan penuh tanda tanya pun terlihat di wajah Maira yang penasaran.
Maira menatapnya dengan Lamat, membacanya berulang-ulang agar bisa mencerna sesegera mungkin maksud dari isi tulisan yang ada di lembaran kertas.
Mata Maira terbelalak semakin lama rasanya mata Maira akan meledak mengeluarkan bola mata yang indah itu.
Apa apan laki laki ini? apa dia gila.
"Itu adalah peraturan yang harus kamu lakukan selama menjadi istriku." Garra berkata dengan tangan yang saling bertautan di atas meja.
"Itu adalah syarat-." ucapan Rama terpotong.
"Aku sudah membacanya." Sahut Maira dengan nada jengkel
Nada bicara Maira membuat Malik naik pitam. Dan tanpa sadar tangannya begitu ringan menampar wajah Maira tepat di hadapan Garra dan Rama yang kala itu kaget melihat tindakan Malik.
plakkkkk.
"Apa apaan nada bicaramu itu." pekik Malik berdiri di hadapan Maira dengan nafas berderu.
Pertengkaran Kaka beradik itu membuat Rama membeku. Gara menatap acuh, dirinya sempat kaget namun setelah nya diam.
"Kali ini aku tak ikut campur, karena dia belum menjadi istriku. Lain kali aku pastikan tanganmu itu tidak lagi di tempat yang seharusnya." Gara berkata acuh tapi penuh penekanan. Sorot matanya menatap tak suka dengan ulah Malik. Di wajah Maira terlihat jelas bekas tangan Malik. Layaknya sebuah karya.
__ADS_1
Eh, Garra perhatian ternyata. Jangan lupa lahan parkir di episode ini yah guys.
Ig:Pzaimma