
“Ini tuh kan, rumah yang akan di kasih untuk tunangan nanti. Sasha,
setelah mereka resmi menikah.” Gumam Bian menatap Maira yang akan turun.
“Oh, emm soal luka di wajahmu itu gak mau cerita kah” singgung
Bian yang tak di tanggapi Maira
“Aku ucapin terimakasih lho untuk malam ini.” Ucap Maira akan
turun dari mobil.
“Mai, kita gak kaya dulu tapi, kalau temanan gak masalah
kan.” Tanya Bian menarik tangan Maira.
“Enggak, sebelum kamu jelasin, kenapa ninggalin aku waktu
itu.” Melepaskan tangan Bian, berlalu turun dengan tawa di wajahnya.
Bian menatap kepergian Maira dengan tersenyum, yang
menampilkan senyuman khas miliknya di mana lesung pipi begitu manis terlihat.
Maira berjalan menuju rumah yang megah itu, dan untuk
kesekian kalinya, dirinya merasa kesal karena lagi lagi berjalan di halaman yang
luas hingga kakinya terasa pegal.
Maira memegang gagang pintu, tak sengaja langsung terbuka.
“Eh, aku lupa kunci kah.” Gumam Maira mengingat.
Pergelangan Maira di Tarik kuat, dan tubuhya di banting ke sofa dengan keras.
“Uugghh, kasar banget.” Batin Maira sudah tahu kalau
ini adalah ulah Garra.
“Udah berapa kali aku bilang, kamu gak boleh di sentuh laki
laki manapun.” Garra mencengkram kuat tangan Maira.
“Abisnya aku mau gandengan sama kamu malah gak bisa.”
Singgung halus Maira soal dirinya dan Marisa
“Oh, sekarang udah mulai ngatur aku. Di sini aku bos nya.’
__ADS_1
Sahut Garra tak suka.
“Enggak, cuman perasaan aku sesak, lihat uang ku di pegang
orang lain.” Tersenyum bego saat Maira berkata sambil merinding.
“Kamu ini lagi balas aku.” Ucap Garra terlihat sangat marah.
“Mana mungkin, di sini kamu bos nya.” Gila apa gimana
aku sampe bilang kayak gitu. Umpat Maira
“Publis, hubungan kita atau berhenti kerja.” Ucap Garra
menarik diri membelakangi Maira yang terlihat kaget.
Hah kejam banget ngsih pilihannya . gumam Maira bingung
“Aku gk dilahirkan untuk menunggu.” Ucap Garra tak sabar.
“Publis aja deh.”sahut Maira berdiri ingin memeluk Garra.
“Heh akhirnya kamu, jadi diri kamu yang sebenarnya.” Ucap
Garra meninggalkan Maira yang mematung setelah perkataan nya.
dadanya dengan kuat agar rasa sakitnya berkurang.
“Kalau aku milih berhenti kerja, pas cerai aku gak ada
persiapan tunjangan apapun. Aku milih publis seenggaknya aku punya pekerjaan
untuk melanjutkan hidup.” Gumam Maira menyeka air matanya.
“Walaupun nanti bakal di kenal oleh orang orang bekas istri
penguasa, tapi seenggaknya aku punya bakat dunia fashion. Yah tetap aja bakal
di kenal karena dia juga.” Pikir Mairaira melangkah menuju kamar.
Maira membersihkan diri, memakai baju tidur seksi yang ada
di lemari. Lalu melangkah kan kakinya menuju tempat tidur.
Meraih ponsel nya, sebentar karena suara notifikasi, siapa
yang dapat menyangka, dalam sekejap pengikut Instagram nya langsung banyak
Maira jadi terkenal dalam semalam.
__ADS_1
Maira menatap tak percaya karena akunya di privat. Jadi ia harus mengkonfirmasi orang yang ingin
mengikutinya. Maira membungkam mulutnya tak percaya, memastikan angka
pengikutnya yang membludak.
“Hah, aku kayak jadi artis gak sih.” Gumam Maira tersenyum
senang. Sejenak Maira tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.
“Ya ampun, siapa sangka bisa kayak gini, pantesan Snefia
ngomong kayak gitu,ternyata ini alasannya.” Mengigit bibir nya tak percaya.
Tiba tiba Maira mendengar suara langkah kaki mendekat, Maira
langsung menutup dirinya dengan selimut tak mau berurusan dengan Garra, apalagi
di interogasi karena tadi menolak untuk pulang bersama dengan Garra.
Suara pintu terbuka, suara langkah kaki terdengar semakin
mendekat, Maira sampai menahan nafasnya perlahan, lalu mengatur untuk tidak
terlihat mencurigakan. Suara langkah kaki itu mendekat sesaat lalu di detik
berikutnya terdengar menjauh, dan suara pintu kamar mandi yang terbuka.
“Oh, rupanya mau membersihkan diri.” Gumam Maira kembali
melipat bibirnya.
Sudah lelah tapi belum mengantuk sama sekali, karena itu
Maira gunakan untuk melihat lagi Instagram nya. Lagi lagi seperti mimpi,
bagaimana mungkin dalam sekejap followersnya ribuan.
“Astaga, aku sedang tidak bermimpi. Bukan! Menyentuh layar
ponselnya menatap tak percaya.
Mata Maira semakin tak mengantuk, namun dirinya sudah merasa
lelah. Karena itu, ia ingin pamer pada Reina sahabatnya, dan melupakan
ketakutannya dengan Garra. Asik berbincang, semakin melebar percakapan
mereka, entah apa yang keduanya bahas, sampai suara pintu kamar mandi terbuka.
__ADS_1