
percakapan mereka melebar kemana-mana. Garra menanyakan perihal kehidupan Maira alami sebelum bertemu dengannya.
"Rencana nya aku mau melamar pekerjaan di beberapa perusahaan cuman kesibukan ku sekarang selain merajut aku mengajar sebagai guru privat." mulai menceritakan kisahnya sambil mengingat kejadian yang ia alami.
"Sudah berapa banyak yang kau rajut dan untuk siapa saja." Nada bicara Garra mulai dingin.
Di saat semua orang akan bertanya 'apakah kau pandai merajut atau wah ternyata kau bisa merajut juga' Ternyata tidak berlaku dengan Garra yang gayanya langsung ke intinya.
Maira mengingat yang melintas di ingatan tentang beberapa yang pernah ia buat.
"Aku tidak ingat semuanya, tapi aku pernah merajut syal." Maira memberhentikan pijatan nya di punggung Garra saat mengingat itu.
"Lalu." menaikan tangannya di atas paha Maira.
Mata Maira terbelalak melihat tangan Garra yang di sangga di atas paha miliknya.
"Ak .... aku tidak ingat kepada siapa pemesan nya." Bicara maira mulai tergagap karena grogi.
__ADS_1
"Kalau di rumah singgah apa bisa kau ajarkan." nada ucapan Garra sedikit mencemoh.
" Aku mengajari mereka beberapa hal seperti bahasa Italia dan bahasa Inggris juga Jepang."
"Lanjutkan pijatan mu." Garra mulai menyandarkan kepalanya di perut Maira.
"Heh." wajah Maira terlihat sedikit kesal karena Garra sama sekali tak tertarik dengan cerita-cerita nya.
Pijatan dan gosokkan di punggung Garra benar benar di lakukan Maira tak iklas sama sekali.
kenapa dia sangat menyebalkan tuhan.
Tubuh maira tak lagi mampu untuk membatu kaku. Kini pergerakan yang tersentak dari kaki mulai menimbulkan ombak kecil. Tangan mungil Maira pun mulai terangkat sendiri karena menggigil kedinginan.
Berusaha agar tidak menimbulkan pergerakan Maira mencoba kembali mengunci pergerakan sendi sendi nya.
Sayangnya Suara dari bibir tak bisa di bungkam lebih lama sampai terdengar jelas di telinga Garra dari gigi gigi Maira yang bernada khas itu.
__ADS_1
Garra yang mulai terlelap rileks kemudian membuka matanya yang sudah tertutup. Ia menarik diri lalu memutar badan melihat Maira yang sudah sangat menggigil.
"Kamu kedinginan." Ucap Garra mulai khawatir.
segera Garra bangun dan mengambil baju mandi lalu membungkus tubuh Maira.
Garra mengangkat Maira ala brikedele lalu di bawanya ke ranjang. Di letaknya dengan sangat hati hati.
Mengambil remote AC dan menghidupkan nya dengan mode hangat ruangan. Garra kembali menatap Maira ekspresi nya susah di jelaskan.
Memakai baju mandi untuk menutupi tubuh nya yang telanjang. Garra meraih ponselnya dan ia memainkan jarinya di benda pipih itu.
"Hallo, Rama telfon salah satu dokter untuk datang ke Brescout sekarang." nada dingin dan gugup terdengar di telinga Rama.
"Anda sedang sakit tuan?" sahut Rama khawatir.
" bukan aku! Pastikan dokternya datang kurang dari 10 menit. Eh, tidak tapi dalam 5 menit." paksa dan tegas sebelum Garra mematikan ponselnya.
__ADS_1
Garra segera kembali mendekati Maira yang tengah mengigil. Ia menggenggam kedua tangan Maira dengan jari jemarinya berharap itu dapat membantu untuk menghangatkan Maira.
Tangan Garra menyerap dingin dari jari jari Maira. Mencoba merasakan dingin yang tengah maira alami, sayangnya Garra hanya melakukan hal hal yang masih dalam batas wajar.