
“Ah, maaf akan aku simpan setelah ini.” Melirik kearah suci
yang tertunduk .
“Tak masalah, lagian aku tidak peduli padamu, apalagi urusan
pribadimu.” Lagi lagi ucapan garra yang sarkas itu menusuk tepat di jantung
maira.
Lalu tuan garra yang gila ini untuk apa menelfon ku.
“ingat, jangan membuat para pekerja terbebani dengan
kehadiran mu di rumahku.” Mematikan secara sepihak.
Ucapan barusan membuat hati maira sedikit mengganjal. Sesaat
kemudian ia menatap seluruh sudut ruangan platpon. Curiga Garra menyimpan sisi
tv tanpa sepengetahuan nya.
Bahkan ia melarang ku
untuk, berbaur dengan orang orang di rumah nya, dasar kejam.
“Em, Suci aku rasa sudah tak yang perlu aku bicarakan, kau
bisa kembali.” Usir halus Maira.
Mengangguk pertanda patuh dengan ucapan nona maira.
Kembali termenung di telan kesunyian malam, Maira menuju
balkon kamar yang menjadi tempat nya di saat ia sedih. Menatap langit malam
dengan tatapan yang ambigu.
Maira memeluk dirinya sendiri kedua tangan nya menyapu halus
lengan milik nya yang terasa dingin.
“Ah, aku sepertinya pernah membayangkan ini. Memandang
__ADS_1
langit di balkon kamar memakai baju tanpa lengan dan tiba tiba ada sosok
kekasih yang datang menutupi bahu ku yang polos ini dengan jaz kerjanya. Sayang
nya itu cuman sekedar mimpi gadis malang seperti ku.” Menghela nafasnya kasar.
“ laki laki yang sekarang adalah suamiku, sayang nya dia brengsek.” Umpat kesal
Maira di balkon kamar.
Hari ulang tahun Garra semakin dekat, bersamaan
dengan itu hari penentuan.
Hari ulang tahun garra semakin dekat, bersamaan dengan itu
hari penentuan ketua grup wiliam. Sebagai istri sah apakah Maira akan ikut
andil dalam peran istri sah? Yang hanya di atas kertas? Terlebih lagi sudah
dua hari maira bekerja di perusahaan Yamor sebagai desainer mode.
Pagi yang cerah, dengan cuaca yang bagus, matahari bersinar
dengan indah. Mood Maira juga sepertinya sangat baik sekali sebab ia mulai
“Selamat pagi nona muda.” Sapa pak Marta di depan tangga.
“Selamat pagi juga.” Sahut Maira tersenyum walaupun pak
Marta menunduk. Huh ngapain juga nyapa
kalo gak liat wajah, senyum ku terbuang sia sia.
“Sarapan nya nya sudah siap nona.” Persilahkan, mengikuti nona
Maira ke meja makan.
“Oh, pak Marta, selagi tuan bos kalian tidak ada di sini,
sebaiknya tidak terlalu memperdulikan aku.” Tersenyum canggung. aku merasa risih tahu, sejak lahir aku bukan
untuk di layani.
__ADS_1
“Jangan, seperti itu nona, kalau tuan bos tahu, kami semua
akan di pecat.” Hampir menangis pak Marta mengatakanya.
“Ini, hanya rahasia dintara kita.” Mengajak pak Marta untuk
berjanji dengan gaya anak sekarang jari telunjuk di depan bibir.
Pak Marta hanya tersenyum kecut, hampir saja ia bertekuk
lutut agar Maira tak melakukan hal seperti itu lagi kedepan nya, takut akan ketahuan tuan bos. candaan anda berlebihan nona,jangan lah
seperti ini, aku bisa di gantung seperti pajangan nanti.
Maira tengah asik menikmati sarapannya, ketenangan yang Maira
rasakan, membuat ia harus menjiwai sajian masakan lezat ini.
“Oh, pak Marta apakan tuan bos kalian, ada menitipkan
sesuatu untuk ku.? Tanya Maira basa basi sebenarnya ia hanya ingin tahu kemana
bos aneh itu pergi.
Tersenyum kecut,”Nona muda anda adalah istrinya, kenapa
tidak tanyakan langsung saja.? Sahut pak Marta menggeleng.
Tersenyum kaku, tuan
bos kalian itu orang nya aneh jika aku bertanya yang ada dia malah memojokanku.
“Aku tahu kemana dia pergi.” Sahut lantang seorang gadis
yang elegan mendekati meja makan.
Pak Marta dan Maira melihat kearah suara, tatapan Maira
menjadi bingung sementara pak Marta tersenyum.Gadis elegan itu berjalan dengan
santai, penampilanya begitu elegan,rambut panjang nya yang terikat tinggi
menampilkan kesan dewasa dan terlihat pintar.
__ADS_1
“Ah apakah ini salah satu simpanan Garra.? Gumm Maira
tercengang.