Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
menjadi perkara utama


__ADS_3

Suara Langkah kaki khas milik Garra terdengar mendekat kearah mereka, aroma parfum khas itu tercium di kedua lubang hidung pria yang berjas dokter, dan satunya hanya memakai dalam jas saja.


“Sepertinya terlambat.” Ali berkata dengan yakin saat seorang yang memiliki suara Langkah kaki khas itu berdiri sempurna di bawah lampu.


Tangan nya merogoh saku sambil menyalakan korek api dengan sebatang rokok yang menempel di bibirnya


“Aku mencari mu, kata salah satu dokter kau ada di sini. Sedang ada operasi organ mendadak.” Garra bertanya sambil menghisap sebatang rokok.


“Kenapa dengan pakaian mu.” Garra menatap setengah lirikan pada Luis


 Ceklekk ….


 Daun pintu terbuka wajah Ali semakin  memucat saat melihat lengan yang putih mulus itu nampak setengah di balik pintu. Semua mata menatap kearah pintu yang akan terbuka.


Dokter laki laki yang baru saja keluar dari ruangan itu terperanjat kaget saat melihat ketiga tuan muda, orang yang memiliki pengaruh besar di kota itu sedang berkumpul di depan ruangan nya dengan tatapan berbeda beda.


Sampai sosok gadis yang akan merubah status pertemanan mereka menampakan diri. Yah Maira keluar dari ruangan dengan jas Luis yang masih menempel di bahunya. Tatapan buas dengan amarah penuh yang berapi api jelas tergambar jelas di bola mata yang berwarna biru itu, yang saat ini bagai sebilah pisau menusuk ke dalam mata Maira.


“Bagaimana keadaan nya dokter.” Garra bertanya tanpa mengalihkan tatapan mata yang tajam itu dari Maira. Gadis itu tertunduk menatap lantai putih rumah sakit.

__ADS_1


“Ah p-pasien sedang ha-.” Suara dokter yang tercegat karena suara bersin Maira.


Hascim …


“Ah, maaf dokter biar aku saja yang memberitahukan nya.” Maira menyela dengan  senyuman.


“HM.” Alis mata Garra terangkat. Berbagai pertanyaan harus Maira jawab nantinya di atas ranjang panas.


Garra Kembali melirik  jas yang sedang menempel di bahu indah itu dengan tatapan tak suka.


“Katakan atau aku jahit mulutmu.” Garra melirik dokter dengan mata elang.


“Istriku.” Garra berkata. Maira yang kala itu menunduk tiba tiba bola matanya melebar. Semburat rona wajah nampak sekilas di sana. Gara baru saja mengatakan kalau Maira istrinya. Sebenarnya Garra ini mencintai Maira


tidak.


Jelas wajah dari dokter itu sempat kaget tak percaya, bisa melihat wajah dari istri rahasia pebisnis ternama di kota itu sebuah anugrah mungkin.


“Istri anda saat ini.” Maira Kembali berteriak agar dokter itu tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“Aku ingin mengatakannya sendiri.” Suara Maira  sedikit mengeras dengan nafas terengah engah. Entah keberanian dari mana itu.


Dokter itu Kembali terdiam, sedetik melirik dokter Ali yang hanya menatap apa yang terjadi barusan.


“Terimakasih dokter.” Ucap Garra mendekat pada Maira dan segera melepas jas Luis yang menempel di bahunya.


“Baik tuan Garra. Senang bisa membantu anda.” Dokter itu berkata sambil melirik  dokter Ali dengan kesal


“Maksudnya, senang bisa melihat tubuh istriku.” Sorot mata Garra terlihat ingin menyayat tubuh dokter yang baru saja memeriksa Maira.


“Oh tidak tuan, maaf.” Dokter berkata dengan ketakutan yang menohok.


“Dokter Syarif, terimakasih atas bantuan anda.” Ali menganggukkan kepalanya agar dokter Syarif pergi.


Dokter syarif tersenyum kaku seolah mengatakan ‘Lain kali jangan aku kalo periksa orang kaya tuan Garra, bukanya tenang malah apes’ lanjut dokter Syarif melangkah setengah berlari menjauh.


Garra menatap  baju Maira yang yang robek,  lirikan matanya Kembali menatap baju Luis yang basah entah kena cairan apa, yang keduanya sama sama basah. Garra menarik jas yang menempel di baju Maira dengan sekali tarikan


“Aku akan bicara padamu nanti. Luis.” Gara membuka jas nya lalu memakaikan nya pada Maira.

__ADS_1


10 comentar author up doble yah


__ADS_2