Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
pagi hangat


__ADS_3

Tepukan tangan Maira membuat langkah kaki Garra terhenti. Berbalik menatap Maira dengan alis yang mengerut karena bingung.


"Apa barusan kau menganggap aku mem badut.? Sorot mata tak suka.


"Aku hanya berfikir ternyata orang kaya itu seperti ini." Melipat bibir kedalam dengan rasa khawatir.


Semoga hal buruk tidak terjadi padaku.


"Memangnya, sebelum nya apa yang kau pikirkan tentang orang kaya." memperhatikan tubuh Maira.


"Yah, yang seperti ini. Gak ada pikiran khusus juga sih." tertawa paksa seolah-olah itu lucu.


"Kau ini suka bercanda tapi tidak penting." berlalu ke ranjang meninggalkan maira yang mematung.


Cih membuatku takut saja.


Maira pun berjalan ke tempat sampah lalu meletakan baju Garra ke dalam nya. Setelah itu ia bingung harus berbuat apa.


Antara mendekati Garra yang sedang berbaring di ranjang atau ia harus duduk di sofa depan ranjang.


Maira memperhatikan Garra yang kembali terlelap. Berjalan lesu duduk di sofa depan ranjang.


Ini tuh sebenernya perkawinan macam apa? Kaka kenapa kamu tega jual aku.


"Tak akan terjadi apa apa! Kau boleh tidur di samping ku." bola mata Gaara melirik tempat kosong sebelahnya.


Pikiran Maira mulai mengarah ke mana mana. Sampai ia tak sadarkan diri. Lelah dan akhirnya ia menyusul Garra terlelap.

__ADS_1


Keesokkan paginya Maira bangun lebih awal. Tetapi ia tak melihat Garra di tempat tidur. sejenak Maira terdiam untuk mengumpulkan nyawanya dalam mode penuh.


Di rasa sudah sadar sepenuhnya. Maira segera beranjak, ia berdiri dan menggeliat.


Pandangannya mulai luas. Menatap setiap sudut ruangan. Sampai suara perut nya membuat ia segera turun dan mencari letak dapur di rumah megah itu.


Saat menuruni tangga Maira begitu terkejut karena keadaan rumah yang sangat rapi dan bersih.


Maira pun Mendekat ke nakas yang di atasnya terdapat beberapa hiasan.


Melihat ada patung yang sedikit miring Maira mencoba untuk meluruskannya. Tapi siapa sangka baru saja tangannya menyentuh benda itu tiba tiba suara yang di kenalnya terdengar dan mengurungkan niatnya.


"Maaf nona Maira sebaiknya anda tidak merubah apapun posisi dari benda di rumah ini." menatap Maira tanpa ekspresi.


Hah bikin aku kaget saja .


Kenapa laki laki es ini bisa baca pikiran. Rasanya benar-benar memalukan.


"Aku hanya meluruskannya saja." menjawab jutek dan sedikit gelagapan.


"Oh ia apakah kau yang bereskan ke kacauan di sini." Melihat sekitarnya sudah rapi.


Namun bukanya menjawab pertanyaan Maira. Rama segera membukukan badan nya menyambut Garra yang baru saja turun dari tangga


"Selamat pagi tuan Garra." mendekati Garra dan berniat memasangkan dasi Garra yang selalu di lakukan Rama setiap pagi.


Kenapa dia begitu tampan

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan." Menatap Rama dengan tajam.


Paham dengan maksud Garra. Rama segera menarik diri menjauh.


Mengayunkan ke dua jari nya ke arah Maira dengan maksud agar Maira mendekat padanya.


Maira yang sudah paham pun segera mendekati Garra namun belum tahu apa tujuan Garra memangilnya.


Semakin Maira mendekati Garra aroma mint pudar pun semakin tercium di kedua hidung Maira.


Aroma ini bisa buat perempuan mana saja akan terlena.


Gaara melirik Maira. Gadis itu terlihat bengong.


"Apa kau bisa memakaikan dasi.? Gaara berkata


Cih, ku pikir ia tak mau kalau ku sentuh.


"Kau sedang memaki ku." nada kesal dengan tatapan menatap wajah maira dari atas.


"Mana mungkin. Tuan kan orangnya sangat tampan aku benar-benar bersyukur." mulai menjilat dengan ucapan manis


Ahh kata kata macam apa itu Maira! kalau saja sekretaris kulkas itu tidak menyuruhku untuk membuat bos gila ini merasa senang sudah ku gampar dia.


"Kau pandai juga bermulut manis. Tapi ingat dengan posisi mu. Jangan sampai kau lupa." Gaara memuji tanpa ekspresi.


Ah mulutku sudah ternodai.

__ADS_1


__ADS_2