
Pagi itu Rama tengah meminum secangkir kopi di temani dengan buku tentang perjalanan hidup, Rama menyeruput indah di bibir gelas kaca, wajahnya yang diterpa sinar matahari langsung menambah ketampanannya.
Benar benar pemandangan yang sangat indah, bahkan terlalu indah jika semakin lama di pandang, sayangnya keindahan itu tak berlangsung lama karena suara dering ponselnya membuat lelaki yang sedang bersantai itu harus mengangkat panggilan ponsel miliknya.
Rama tersenyum senang saat ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Pagi tuan bos." ucap Rama dengan nada semangat.
"Kau masih butuh libur, biar Jodi yang urus." sahut Garra tak ramah.
Mendengar ucapan Garra membuat Rama sedikit kaget namun ia menepis ucapan Garra.
"Liburan ku sudah cukup. Tubuhku sudah terlalu sehat untuk beristirahat. sekarang waktunya aku bertempur." Sahut Rama bersemangat.
Siapa yang ingin berurusan dengan Jodi orang kepercayaan bos Garra dalam men sabotase kesalahan orang, dan dapat di pastikan jika Jodi bertindak maka tak ada yang bisa melarikan diri lagi.
" Ada laporan." tanya Garra memastikan.
Oh tuan bos mustahil orang sekaya anda tak dapat laporan apapun apalagi ini sudah dua hari anda mengurung diri. gumam Rama.
" Sedang aku persiapkan , ini mengenai tambang minyak di kota z ." sahut Rama mendetail.
" Aku tunggu di Brescout, berangkat ke kantor bersama." pinta Garra mematikan panggilannya.
Rama pun segera bersiap untuk melaju ke rumah Garra, ia yang sudah wangi sejak pagi ini bergegas mengganti pakaiannya menjadi setelan jas, dengan begitu rapi dan paduan warna biru gelap rama kini menjelma menjadi pria terlalu tampan.
Pagi itu Garra lebih dulu berada di meja makan, meninggalkan Maira di kamar karena ia bangun lebih lambat kali ini. Garra turun dengan setelan rapi namun pakainya masih santai khas pakaian rumahan.
Pak Marta yang sudah berada di meja makan dengan beberapa pelayan yang siap menunggu perintahnya.
"Selamat pagi tuan bos." sapa pak Marta setengah membungkuk.
"Pagi pak.' sahut Gara yang langsung duduk di meja makan.
Pak Marta memberikan Garra tablet mengenai berita yang tengah hangat di dunia bisnis.
Garra menerimanya dan langsung membaca beberapa berita yang masih hangat di perbincangkan.
"Senang melihat anda kembali makan di ruangan ini." ucap pak Marta mencari topik.
"Aku harap pak Marta tak keberatan setelah dua hari ini aku meminta diantarkan makanan ke dalam kamar." sahut Garra menyeruput kopi hitam kesukaan nya itu.
"Sama sekali tidak tuan, saya merasa terhormat dengan hal itu." sahut pak Marta tersenyum walaupun Garra tak melihatnya.
__ADS_1
Tak lama Maira keluar dari kamar ia berjalan setengah memperbaiki rambut nya yang masih basah itu, suara tapak kaki Maira terdengar hingga mengalihkan pandangan orang orang yang ada di sana menatapnya .
Maira memakai gaun yang lengannya terbuka hingga ia kelihatan begitu manis dengan warna biru yang pas sekali dengan warna kulitnya yang tak terlalu putih.
Wajah Garra merona sejenak sebelum ia mengalihkan pandanganya ke pak Marta, kalau saja pak Marta memandang Maira entah bagaimana emosi Garra nanti.
Melihat pak Marta yang sudah menunduk membuat Garra merasa sedikit rileks, ia menghembuskan nafasnya segera.
"Kenapa kau begitu lama, aku hampir mati kelaparan." tatapan Garra menatap lengan Maira yang mulus.
Dasar idiot siapa yang menyuruhmu menungguku? batin Maira kesal.
"Ya sudah ayok makan." Maira duduk di samping Garra lalu mengambil makanan dan melahapnya.
Garra menatap Maira antara takjub dan kesal sebab Garra menunggu Maira menyendok makanan di piring Garra.
Salah satu pelayan yang berdiri dengan sigap langsung menyendok makanan ke piring Garra.
dan saat itu juga tatapan mata Garra berapi api melihat ke arah pelayan itu, sampai pak Marta yang langsung menarik tangan pelayan itu.
"Siapa yang menyuruhmu." tanya Garra dengan intonasi menahan kesal.
Pak Marta dan pelayan itu kaget dengan suara Garra, Maira pun menatap sekilas namun masih melanjutkan makan nya.
"Siapa yang menyuruhmu mengambilkan aku makanan." teriak Garra membanting piring makanya ke hadapan pelayan wanita itu.
Maira seketika menelan paksa makanan yang ada di mulutnya. ia menjadi ketakutan sama seperti pelayan itu.
Tatapan Maira melihat iba kepada pelayan wanita itu yang tengah terisak.
"S sayang biar aku ambilkan yah makanan nya. " Tawar Maira tergagap.
Maira memegang pergelangan tangan Garra mencoba membuat nya tenang.
Saat itu tak ada yang menyadari kedatangan Rama sebab semua sibuk dengan perkara itu.
Garra tak senang melihat itu , di mana Maira terlihat gemetar dengan suara gugup.
"Apa kau ketakutan." tanya Garra memandang kesal.
"M mana mungkin, aku hanya terlalu bersemangat."sahut Maira tersenyum pada Garra.
"Kamu mau makan apa."tanya Maira siap mengambilkan sarapan Garra.
__ADS_1
"Terserah." sahut Garra tak melepaskan tatapan nya dari Maira.
Di saat Garra mulai melupakan pelayan itu dengan kasusnya pak Marta membawa pelayan wanita itu kebelakang, dan Rama pun segera menyapa tuanya itu.
"Selamat pagi tuan bos." Sapa Rama mendekat.
"Jadi." sahut Garra menatap kesal Rama di mana soal warna pakaiannya yang sama.
"Jadi laporan apa yang ingin kau perlihatkan." bertanya dengan cuek lalu menghadap Maira.
"Soal pengalihan tambang minyak dari perusahaan xeone.' Sahut Rama memberikan statik laporan pada Garra.
Maira memberikan piring yang berisi makanan sarapan ke hadapan Garra.
"Apa menurutmu ini bisa menambah energi." Tanya garra tanpa protes mengambil dokumen dari Rama
"Yah,ini semua adalah makanan bergizi." Sahut Maira yakin.
"Benarkah ini adalah 4 sehat 5 sempurna." Meletakan kembali dokumen ke atas meja.
"Ehem." Sahut Maira mulai curiga.
"Kalau begitu makan ini semua." Menggeser piring ke hadapan Maira.
Maira jelas saja terperanjat dengan ucapan Garra barusan, di tambah lagi dia tak sadar saat mengambil beberapa menu makanan ke atas piring.
Ah! sialnya aku mengambil begitu banyak menu nya, bagaimana caranya aku menghabiskannya .
"Ayok makan." persilahkan Garra menatap Maira sambil tangannya ia sangga kan di meja untuk menopang kepalanya.
Maira menggembungkan pipinya, dengan tatapan memohon belas kasih pada Garra.
"Aku rasa ini kebanyakan." ucap Maira mencoba mengambil udang yang ada di piring nya untuk di letakan di tempat semula.
Garra memperhatikan gerak tangan Maira, ia menatapnya dengan tatapan yang memiliki arti menggemaskan.
"Makan." Satu kalimat itu berhasil membuat udang yang ada di tangan Maira di masukan nya ke dalam mulut.
"Pintar." Nada pujian Garra seperti suara horor sama sekali tak bisa di banggakan.
"Kamu waktu itu minta 1 minggu jangka waktunya kan, sekarang kamu lelet sekali." membaca statik dokumen dengan fokus.
"Pertambangan minyak sudah benar benar merugikan, cara kotor yang mereka pakai membuat kita tidak sadar mengambil untung yang sangat sedikit. Membombardir lewat lorong tanah dengan pikiran licik harus di kasih pelajaran yang setimpal juga." Penjelasan Rama yang mendetail masih berlanjut.
__ADS_1
"Mereka memang perlu merasakan sedikit siksa neraka saat di dunia supaya bisa tobat." Ucap Rama menyeringai.
"Mereka melakukan penggalian bawah tanah untuk mendapatkan minyak bumi lebih banyak dari pada pengalihan lewat jalur wilayah. Awalnya aku berfikir itu termaksud bagian mereka. Namun setelah aku lakukan penyelidikan beberapa waktu lalu soal keuntungan yang di bawah 70 persen sepertinya ada sabotase. Makanya aku kembali melakukan penyelidikan dan ternyata hasilnya mencengangkan sekali." memperlihatkan statik pada Garra.