
“Maksud kamu.” Berfikir sejenak
“Ya ampun Mai, kamu bakal masuk di parson design, UAL.”ucap
Reina tak percaya, hingga tangan nya menutup mulut
Maira mengangguk membenarkan tebakan Reina.
“Suami kamu emang the best banget yah.” Kembali menyuapi
Maira makan. Ucapan Reina membuat Maira tersenyum kaku.
“Tunangan Garra sudah sadar.” Beritahu Maira tersenyum.
Suara sendok berdenting kuat jatuh di piring. Reina sangat
kaget mendengar nya.
“Kamu sakit karena ini.” Tanya Reina memastikan
“Gak, cuman sedih aja gak punya ATM lagi.” Ucapan Maira
mendapat pukulan lembut Reina
“Ah, aku kira kamu bakalan jatuh cinta sama bos Garra,
ternyata takut tunjangan mu hilang yah.” Mereka tertawa bersama
“Aku sih kalo jadi kamu, bakalan manfaatin waktu sebaik
mungkin.” Lanjut Reina berkata
“Contohnya.” Tanya Maira penasaran
“Emm, lakukan hal yang berguna buat masa depan. Seenggaknya
kamu dapat sesuatu investasi buat kedepannya.” Penawaran Reina.
“Hmptt itu menarik juga, apa aku minta grup wiliam aja.”
Sahut Maira dengan mata berbinar.
“Boleh, kalo kamu udah bosen hidup dan mau mati cepat.”
Berbicara ala psikopat dengan tatapan mengerikan membuat jantung Maira ciut
saat mendengarkannya
“Lagian kamu ini gila apaan sih.” Menatap kesal menyuapi Maira lagi
Maira terkekeh saat mendengar ucapan Reina yang memang
benar.
“Tuan Garra dan kamu nikah tuh hanya kontrak, kecuali kamu
__ADS_1
bisa dapetin hati nya. Yang ada sama siapapun tunangan nya itu baru deh kamu jadi
nyonya wiliam.” Jalas Reina
“Tapi kan sekarang aku kan masih jadi nyonya wiliam.” Ucap Maira
berfikir.
“Ya ampun, yang tahu aja kamu istri Garra tuh gak nyampe 50
orang, aku aja yang kalo kamu sendiri yang ngomong mana mungkin aku percaya,
sampai aku lihat dengan mata kepala sendiri gimana sekretarisnya itu datang
jemput aku, ketemu kamu di kamar Garra.” Sahut Reina sedikit pusing.
"Ha, yang kapan." tanya Maira mengingat.
"Waktu kamu hipotermia, gak sadarkan diri, aku yang bantuin kamu pake baju, baluri kamu pake minyak telon." ucap Reina sedikit galak.
Maira menyempitkan matanya, mengingat kapan kejadian itu terjadi.
Dan mata nya pun melebar bulat, ingat dengan ucapan Garra yang mengatakan kalau dirinya membantu memakaikan baju.
"Dasar brengsek." sahut Maira dengan wajah kesal
"Heh, kamu gilaa apaan.? menatap ngeri ke Amira.
"Si brengsek itu bilang dia yang bantin aku semuanya." Hampir frustasi Maira karena percaya ucap Gaara.
"Haha kamu di bohongin tuh, jelas jelas aku yang bantuin." protes Reina tertawa.
“Heh itu bukan kamar utama nya, aku juga awalnya mikir besar
banget kamar nya tapi setelah pak Marta jelasin kalau ada satu ruangan kamar
yang gak boleh aku masukin dan itu kamar nya.” Jelas Maira kesal
“Heh, orang kaya emang beda.” Ucap Reina takjub.
“Eh, ngomong ngomong soal sekertaris tuan Garra cakep juga.’
Lanjut Reina berkata
"Hmptt, kamu suka, naksir , cinta.” Sahut Maira kesal tanpa
ekspresi.
“Ya ya ya.” Ucap Reina dengan mata berbinar binar.
“Gak heran sih, cuman gaya bicaranya itu mirip Garra, dan
hanya dengan kata kata dia mampu menyudutkan lawan bicara.” Jelas Maira karena
karena sering terjadi padanya.
__ADS_1
“Wah, aku suka yang seperti itu.” Reina semakin terlihat
menginginkan Rama
“Wah, ternyata teman ku memang memiliki selera aneh.” Sahut Maira malas
“Eh, apa kamu gak cinta sama tuan Garra, tampangnya goodlooking,
hartanya banyak,dan itu akkcc dia kuat di ranjang kan.” Tanya Reina serius.
Dengan ekspresi membayangkan.
“Jangan gila kamu, dulu mungkin aku akan tergila gila dengan
orang seperti mereka, tapi sekarang aku hanya mau menikah dengan orang yang
mencintai aku saja.” Jelas Maira mengingat perlakukan kasar Garra.
“Wah pak Erian yah.” Sahut Reina tersenyum
“Eh, kok kamu kenal sama pak Erian.” Tnya Maira heran.
“Snefia itu temen aku, waktu kuliah. Gak deket sih cuman pas
liat dia up foto kalian di Twita, aku langsung bales bilang kalo kamu sahabat
aku.” Beritahu Reina.
“Hmptt Snefia, gadis polos itu.” Sahut Maira tanpa sadar
menyebutkan sifat orang padahal ia juga sama. Hal itu membuat Reina menata
malas.
“Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan.” Tanya Reina
“Apalagi, menjalani peran ku, sampai selesai.” Sahut Maira
membaringkan diri setelah selesai makan.
“Kamu akan bercerai dengan Garra.” Tanya Reina serius
“Tunangan nya udah sadar, kemungkinan gak sampe dua tahun
aku udah cerai dari bos itu.” Sahut Maira malas.
“Apa yang kamu dapat, kalau bercerai dengan Garra.” Menghayal Maira jadi miliarder.
“Sesuai perjanjian gak ada.” Sahut Maira yang mematahkan
khayalan Reina.
“What the duck.” Sahut reina kaget sampai ia berdiri dan
terlihat marah
__ADS_1
“Ada apa.” Kaget karena Reina berdiri hingga kursi yang di
duduki nya terpental.