Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
kemarahan Garra


__ADS_3

Maira mengikuti langkah Rama menuju mobil. Mereka berdua menyusuri jalanan yang sedikit padat .


Tak ada percakapan selama beberapa saat. Rama memperhatikan Maira yang terlihat gelisah.


Tatapan mereka bertemu saat saling menatap melalui kaca. terlihat keduanya menjadi canggung dan saling mengalikan pandangan.


"Nona, apa anda sudah membaca semua peraturan nya." tatapan mengarah pada jalanan.


"Peraturan apa.? Seolah mengatakan begitu banyak peraturan, aku mana mungkin ingat semua dalam waktu satu hari. Melempar pandangan malas ke luar jendela.


"Sebaiknya, anda berhati-hati." Rama berkata tanpa ekspresi.


Perasaan takut macam apa ini.Gumam Maira.


Mobil mereka berhenti tepat di depan apotik. Rama keluar sesaat dan kembali membawa beberapa plastik obat yang baru saja di beli.


Mau apa dia, siapa yang sakit?.


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di apartemen reina." sekilas melirik lalu mengalihkan pandangannya.


"Nona, tuan adalah orang yang mudah marah. Membuat nya khawatir itu bukan hal yang baik" Menghidupkan mesin melaju menyusuri jalanan.


"Seperti nya hari ini aku dalam masalah." mencoba untuk memastikan.


"Mungkin saja."

__ADS_1


Dasar sialan. Jawaban macam apa itu!


"Apakah tuan mu orang yang kejam?" cukup merinding Maira saat bertanya.


"Saya berfikir anda tak lupa dengan pertemuan pertama." Rama menekankan ucapan nya.


Maira berdecak kesal mendengar jawaban cuek. Maira kembali mengingat pertemuan menyebalkan mereka.


"ck."


"Laki laki itu sepertinya memang punya ilmu hitam, dia belajar aliran sesat." Tatapan Maira dengan mulut terbuka dan tak percaya dengan apa yang dia ucapkan sendiri.


"Maaf nona, pikiran anda seperti nya terlalu jauh." sekretaris Rama ingin tertawa dengan pikiran liar Maira.


Maira yang tadinya mendekat ke arah kemudi, tiba tiba saja kembali menarik diri dan duduk seperti semula.


*W*ah wah berarti ketampanan tuan Garra itu adalah simbol pemikat, kan sekarang pacarnya juga lagi di rumah sakit sedang sekarat. Bisa jadi itu adalah tumbal! jadi sebentar lagi pasti aku yang bakal jadi tumbal.


Tubuh Maira menjadi panas dingin karena takut jika Garra benar benar punya ilmu hitam.


Memasuki area Brescout rumah megah itu maira menahan tangannya yang semakin gemetar.


"Nona ini akan berguna nantinya." ucapan Rama seperti mengisyaratkan sesuatu yang buruk.


Kotak obat yang di beli tadi! Kenapa sekertaris es ini berikan untuk ku? " pikir Maira.

__ADS_1


"Apa ini.? Apa ini seperti jimat." Masih meraih dengan rasa gugup.


"Buatlah tuan merasa di inginkan. " menghidupkan mobil berniat akan segera meninggalkan Brescout.


"Ucapan mu seperti sebuah perpisahan, jangan buat aku ketakutan." berteriak kesal pada Rama.


Melihat mobil sekretaris Rama semakin menjauh di telan cahaya malam kini Maira menatap pintu yang menjulang tinggi itu dengan langka yang terpaksa.


Semakin Maira mendekati pintu itu rasanya ia semakin menggali kuburan yang dalam untuk dirinya.


Apa aku kabur saja? Tapi kemana hikss hikss hikss. Kaka sekarang aku ingin ini berlalu cepat dan jemput aku segera.


Pintu mewah yang besar itu tak tertutup rapat. Ada sedikit celah untuk melihat ke dalam namun, jika hanya mengintipnya maka tak akan nampak bagian lain dari rumah mewah itu.


Pintu megah itu memakai kode sidik jari sehingga sengaja tak di tutup rapat oleh Garra.


Kepala Maira masuk melihat keadaan di dalamnya, terkejut ia saat di lihatnya banyak barang barang yang berserakan di mana mana.


Gucci Gucci semuanya pecah di lantai. hiasan dinding tak lagi menempel dengan rapi. vas foto dan bagian kaca kaca lainya. semua terlihat sangat berantakan.


Maira melihat dengan wajah ketakutan. matanya menyusuri sudut ruangan mencari sosok yang ia khawatir kan sekarang.


Cahaya yang minim membuat Maira membulatkan matanya agar dapat melihat jelas setelah melihat sosok yang di kenalnya. Maira kembali menyepitkan matanya untuk fokus satu tujuan.


Terlihat sosok yang sedang duduk dengan di topang oleh kedua tangan nya yang menyangga kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Garra yang sudah di penuhi oleh darah segar yang menetes dari tangan nya. Berjatuhan di lantai bahkan ada yang menempel pada bagian bagian dinding tertentu.


Garra mengangkat kepalanya menatap Maira yang ketakutan berdiri di pintu.


__ADS_2