Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
ugal ugalan


__ADS_3

Garra duduk santai di depan, dan Rama memfokuskan pandangan


nya  dengan tajam. Untuk jarak 20 meter


samar samar Rama melihat mobil yang sama, menginjak pedal gas,  menambah kecepatan laju mobil, dengan wajah


yang serius.


Sementara.....


 Di dalam mobil Bian


dan Maira belum menyadari itu, percakapan diantara keduanya masih seperti


biasa.


Maira yang meminum obatnya, saat masih ada di dalam mobil


bersama Bian.


“Kabar tante sama om gimana.” Tanya Maira setelah meneguk


air dari botol.


Terlihat wajah Bian menjadi tegang, mengangkat kedua alis


nya dan melipat bibir masuk kedalam untuk beberapa saat.


“Baik ko, semuanya baik baik aja.” Sahut Bian tersenyum


tanpa kerutan di mata. Terlihat seperti paksaan


“Bian kita udahan, tapi masih bisa jadi teman kan.” Sahut


Maira membalas dengan tatapan iba.


Berharap semoga Bian bisa menerima hal yang menimpahnya. Mengingat ucapan Bian yang tak di gubris Maira saat itu.


Maira yang pernah menjadi kekasih Bian saat SMA, sangat tahu


situasi tentang kehidupan Bian. Dan hingga sekarang di mana Maira hanya ingin


memastikan sesuatu.


“Aku paling gak mau buat orang khawatir tuh kamu, jangan


kasih hani aku dengan tatapan itu." Sahut Bian dengan nada tak suka.


Kemudian karena ingin merubah suasana akhirnya ia menatap


kaca spion tengah, dengan tatapan kesal. Saat melirik tak begitu membuat Bian


sirih, namun saat ingatan nya sudah kembali tenang barulah Bian menyadari kalau itu


adalah mobil dari Garra sang monster


“May, kalo saat ini orang yang paling kamu gak mau temui

__ADS_1


siapa.” Taya Bian bersiap tangan di atas pedal gas.


“Tentu saja Garra.” Sahut Maira cuek, tak sadar di ikuti mobil


Garra.


“Baik.” Sahut Bian menarik pedal gas, membuat jarak yang


jauh agar mereka tak saling bertemu, dan disinilah raja jalanan bisa di


tentukan.


Menancap gas di jalanan, yang terbilang padat, membuat Maira


menatap kesal dengan Bian tak paham, tangan nya mulai memegang hand grib,


ingatannya dengan Garra waktu di mobil membuat Maira ingin muntah.


“Bian kamu apa apaan sih.” Jika dengan Garra, Maira tak bisa


bicara ataupun bertanya, maka beda hal dengan Bian. Maira bahkan bisa mengumpat,


dengan kata kata mengekpresikan ketakutannya.


“Bian kamu gila.” Ucap Maira yang kesal.


“Bian aku mau kamu berhenti.” Teriak Maira tanpa di Sanggau


Bian sama sekali.


Menyadari kalau mobil di tumpangi Maira semakin melaju,


Fokus Bian tak teralihkan, lirikan mata semakin tajam


memperkirakan jarak yang harus di hindari. Aksi kejar kejar di jalan pun terjadi,


klakson mobil Bian tak henti henti nya berbunyi agar pengendara yang di depan


menepikan mobilnya. Karena itu aksi keduanya banyak para pengendara yang


mengomel, bahkan ada yang merekam nya dan juga melaporkan ke polisi, Ke duanya pergi ke kepolisian yang mereka lihat. Aksi selip bahkan tak sedikit mobil yang mereka


senggol hingga membuat badan mobil tak mulus lagi.


Tak hanya sampai di situ, kedua mobil itu menerobos di lampu


merah, hingga banyak pengandara yang berjatuhan. Maira semakin kesal dengan


ulah Bian, tatapan mata Maira menangkap lirikan mata Bian yang di spion tengah,


Maira pun mengalihkan pandangan nya, paham dengan ucapan dan tindakan Bian, ke


khawatiran Maira pun merayap pada hatinya.


“Kamu udah lari sejauh ini, aku gak mau ke tangkep.” Sahut


Maira menatap Bian yang langsung menyingung kan senyuman di sudut bibir nya.

__ADS_1


“Oke ayok kita, balapan liar. Belum pernah kan.” Ucap Bian


menginjak pedal gas.


Aksi kejar kejaran pun berlanjut. Rama menatap dengan tatapan


tajam, mobil kembali berpacu dengan laju, kini Rama mulai tak peduli dengan


jalanan, kalau tadi yang memulai kekacauan adalah Bian, maka kali ini adalah Rama


yang mulai menanggapi serius tindakan sepupunya Bian.


Garra terlihat tak peduli, dan masih menatap iPad nya dengan


tenang, tanpa gangguan walaupun Rama melaju di jalanan dengan kecepatan penuh.


 “Kau ingin ku buatkan


area balapan.” Sindir Garra mulai kesal


“Maaf bos, tapi sepertinya mereka menyadari sedang di


kejar.” Sahut Rama tetap tenang


“Jadikan ini area balapan liar, jangan membuat ku kehilangan


jejak.” Sahut Garra percaya pada Rama sepenuhnya.


Laju mobil yang d kendarai Rama benar benar di luar nalar,


seperti menganggap nyawanya tak berharga karena ucapan Garra barusan membuat


rama terlihat sangat menyeramkan dengan senyuman aneh di wajahnya.


Sementara di mobil Bian, Maira terlihat sangat panik. Di mana


ia berulang kali memantau laju mobil Garra yang semakin tak terkendali, awal


nya Tarik ulur namun siapa sangka di pijakan berikutnya mobil Rama memimpin di


arena balap liar, bahkan mobil polisi  banyak yang mulai berpatroli dari jarak 300


meter, untuk menangkap pelaku yang membuat kekacauan sepanjang jalan.


Namun bagi seorang pengusaha seperti Garra, hal itu hanya


seperti semut, yang tak punya peran penting.


Arah mobil Garra yang mencoba menghalangi jalan agar mobil


Bian berhenti, namun sayangnya bukan berhenti Bian malah menancap pedal gas


dan melaju dengan kegilaan menabrak beberapa pengendara lainya hingga mobil


fortune itu beberapa kali terbentur dengan keras.


“Bian, cukup. Kalau demi aku kau bisa berhenti

__ADS_1


sekarang.” Ucap Maira yang sudah mengeluarkan darah


__ADS_2