
Garra duduk santai di depan, dan Rama memfokuskan pandangan
nya dengan tajam. Untuk jarak 20 meter
samar samar Rama melihat mobil yang sama, menginjak pedal gas, menambah kecepatan laju mobil, dengan wajah
yang serius.
Sementara.....
Di dalam mobil Bian
dan Maira belum menyadari itu, percakapan diantara keduanya masih seperti
biasa.
Maira yang meminum obatnya, saat masih ada di dalam mobil
bersama Bian.
“Kabar tante sama om gimana.” Tanya Maira setelah meneguk
air dari botol.
Terlihat wajah Bian menjadi tegang, mengangkat kedua alis
nya dan melipat bibir masuk kedalam untuk beberapa saat.
“Baik ko, semuanya baik baik aja.” Sahut Bian tersenyum
tanpa kerutan di mata. Terlihat seperti paksaan
“Bian kita udahan, tapi masih bisa jadi teman kan.” Sahut
Maira membalas dengan tatapan iba.
Berharap semoga Bian bisa menerima hal yang menimpahnya. Mengingat ucapan Bian yang tak di gubris Maira saat itu.
Maira yang pernah menjadi kekasih Bian saat SMA, sangat tahu
situasi tentang kehidupan Bian. Dan hingga sekarang di mana Maira hanya ingin
memastikan sesuatu.
“Aku paling gak mau buat orang khawatir tuh kamu, jangan
kasih hani aku dengan tatapan itu." Sahut Bian dengan nada tak suka.
Kemudian karena ingin merubah suasana akhirnya ia menatap
kaca spion tengah, dengan tatapan kesal. Saat melirik tak begitu membuat Bian
sirih, namun saat ingatan nya sudah kembali tenang barulah Bian menyadari kalau itu
adalah mobil dari Garra sang monster
“May, kalo saat ini orang yang paling kamu gak mau temui
__ADS_1
siapa.” Taya Bian bersiap tangan di atas pedal gas.
“Tentu saja Garra.” Sahut Maira cuek, tak sadar di ikuti mobil
Garra.
“Baik.” Sahut Bian menarik pedal gas, membuat jarak yang
jauh agar mereka tak saling bertemu, dan disinilah raja jalanan bisa di
tentukan.
Menancap gas di jalanan, yang terbilang padat, membuat Maira
menatap kesal dengan Bian tak paham, tangan nya mulai memegang hand grib,
ingatannya dengan Garra waktu di mobil membuat Maira ingin muntah.
“Bian kamu apa apaan sih.” Jika dengan Garra, Maira tak bisa
bicara ataupun bertanya, maka beda hal dengan Bian. Maira bahkan bisa mengumpat,
dengan kata kata mengekpresikan ketakutannya.
“Bian kamu gila.” Ucap Maira yang kesal.
“Bian aku mau kamu berhenti.” Teriak Maira tanpa di Sanggau
Bian sama sekali.
Menyadari kalau mobil di tumpangi Maira semakin melaju,
Fokus Bian tak teralihkan, lirikan mata semakin tajam
memperkirakan jarak yang harus di hindari. Aksi kejar kejar di jalan pun terjadi,
klakson mobil Bian tak henti henti nya berbunyi agar pengendara yang di depan
menepikan mobilnya. Karena itu aksi keduanya banyak para pengendara yang
mengomel, bahkan ada yang merekam nya dan juga melaporkan ke polisi, Ke duanya pergi ke kepolisian yang mereka lihat. Aksi selip bahkan tak sedikit mobil yang mereka
senggol hingga membuat badan mobil tak mulus lagi.
Tak hanya sampai di situ, kedua mobil itu menerobos di lampu
merah, hingga banyak pengandara yang berjatuhan. Maira semakin kesal dengan
ulah Bian, tatapan mata Maira menangkap lirikan mata Bian yang di spion tengah,
Maira pun mengalihkan pandangan nya, paham dengan ucapan dan tindakan Bian, ke
khawatiran Maira pun merayap pada hatinya.
“Kamu udah lari sejauh ini, aku gak mau ke tangkep.” Sahut
Maira menatap Bian yang langsung menyingung kan senyuman di sudut bibir nya.
__ADS_1
“Oke ayok kita, balapan liar. Belum pernah kan.” Ucap Bian
menginjak pedal gas.
Aksi kejar kejaran pun berlanjut. Rama menatap dengan tatapan
tajam, mobil kembali berpacu dengan laju, kini Rama mulai tak peduli dengan
jalanan, kalau tadi yang memulai kekacauan adalah Bian, maka kali ini adalah Rama
yang mulai menanggapi serius tindakan sepupunya Bian.
Garra terlihat tak peduli, dan masih menatap iPad nya dengan
tenang, tanpa gangguan walaupun Rama melaju di jalanan dengan kecepatan penuh.
“Kau ingin ku buatkan
area balapan.” Sindir Garra mulai kesal
“Maaf bos, tapi sepertinya mereka menyadari sedang di
kejar.” Sahut Rama tetap tenang
“Jadikan ini area balapan liar, jangan membuat ku kehilangan
jejak.” Sahut Garra percaya pada Rama sepenuhnya.
Laju mobil yang d kendarai Rama benar benar di luar nalar,
seperti menganggap nyawanya tak berharga karena ucapan Garra barusan membuat
rama terlihat sangat menyeramkan dengan senyuman aneh di wajahnya.
Sementara di mobil Bian, Maira terlihat sangat panik. Di mana
ia berulang kali memantau laju mobil Garra yang semakin tak terkendali, awal
nya Tarik ulur namun siapa sangka di pijakan berikutnya mobil Rama memimpin di
arena balap liar, bahkan mobil polisi banyak yang mulai berpatroli dari jarak 300
meter, untuk menangkap pelaku yang membuat kekacauan sepanjang jalan.
Namun bagi seorang pengusaha seperti Garra, hal itu hanya
seperti semut, yang tak punya peran penting.
Arah mobil Garra yang mencoba menghalangi jalan agar mobil
Bian berhenti, namun sayangnya bukan berhenti Bian malah menancap pedal gas
dan melaju dengan kegilaan menabrak beberapa pengendara lainya hingga mobil
fortune itu beberapa kali terbentur dengan keras.
“Bian, cukup. Kalau demi aku kau bisa berhenti
__ADS_1
sekarang.” Ucap Maira yang sudah mengeluarkan darah