
“Seperti katamu, kalau pun aku jelasin, kita gak bakal kayak
dulu lagi.” Sahut Bian yang langsung membungkam rasa penasaran Maira.
“Kamu itu sebenarnya pergi karena apakah.” Berkata dengan
sedikit sarkas.
“Lebih baik kamu gak usah tahu, takutnya kamu merasa
bersalah.” Sahut Bian tersenyum yang semakin membuat Maira kesal.
“Eh, ngomong ngomong kamu sampe nikah sama Garra tuh
kenapa.” Beritahu Bian mengalihkan pembicaraan.
“hebat kan aku, bisa menikah dengan orang kayak Garra.”
Sahut Maira sombong.
“Kamu ancam pasti.” Protes Bian.
“Gila kamu.” Sahut Maira tertawa.
“Tunangan nya tuh namanya Sasha dye. Dia adalah pemain biola
terkenal.” Beritahu Bian
“Tapi, dia gak pernah sedikit pun publis atau bicara pada
media soal Garra.” Beritahu Bian lanjut.
“Ha kenapa.” Sahut Maira penasaran
“Garra mempublikasikan hubungan mereka, sorenya Sasha kecelakaan
dan koma sampai hari ini.” Lanjut Bian berkata
“Kamu banyak tahu soal ini.” Tanya Maira tak menyangka.
“Itu karena aku punya mata dan telinga, di mana mana, aku
punya sumber informasi yang akurat.” Beritahu Bian dengan mengepalkan tinju.
“Kok bisa yah, padahal kan Garra orang terkenal.” Sahut
Maira merasa heran.
“ Mungkin karena sifat Garra yang tersebar kabar psikopat
atau apalah.” Jelas Bian menduga duga.
__ADS_1
“Ah, kalau itu mungkin saja.” Ucap Maira membenarkan ucapan
Bian.
“Waktu di kota z, aku hampir saja mati di tangan Garra, soal
tambang minyak.” Jelas Bian merinding mengingat kejadian itu.
“Sampai ingin membunuh orang.” Ucap Maira tak percaya.
“Garra itu orang yang berbahaya, kamu sentuh miliknya sama
aja cari mati.” Jelas Bian dengan tatapan fokus
“Ah aku ingat, seseorang memberi tahuku, kalau dirinya berada di kota z, tapi aku tidak
tahu apa yang dia lakukan, ternyata kamu adalah mangsanya.” Ucap Maira menatap
smirk Bian.
“Tapi aku rasa Garra tak mungkin melakukanya tanpa ada alasan
pasti.” Pikir Maira
“Paman Marcel, menyabotase isu, mengatakan kalau aku melakukan
tindak kecurangan pada tambang minyak, milik Garra di kota z, yang berada di lautan
“Sampe segitunya yah.” Wajah Maira terlihat ketakutan
mendengarnya
“Paman Marcel itu siapa.”tanya Maira seperti marasa tak
asing.
“paman Marcel itu pernah menjadi pemimpin sementara, di grup
wailiam, tapi itu sudah 2 tahun lalu , karena Garra saat berumur 25 tahun,
makanya dia yang memimpin.” Bian yang menjelaskan tampa sedikit bosan.
“Ah aku ingat, waktu Garra menikah, karena alasan paman itu,
waktu dia bicara dengan sekretaris Rama.” Sahut Maira mengingat
“Ternyata pernikahan kalian tuh gak saling cinta yah.” Bian
menyimpulkan setelah mendengar ucapan Maira
“Kamu gila apaan, kalau tuan Garra sampe suka sama aku! Kalau
__ADS_1
bukan karena ka malik, aku bahkan gak kenal sama mereka.” Sahut Maira mengingat
kakaknya..
“Berapa lama.” Tanya Bian
“Apanya.” Sahut Maira waspada
“Masa kontrak nya.” Tanya Bian malas.
“Dua tahun, tapi kayaknya gak nyampe deh, soalnya tunangan nya
udah sadar juga.” Mata Maira menampilkan
rasa kecewa yang Bian tangkap.
“Kamu sedih.” tanya bidan memastikan.
“ATM aku bakal hilang, wanita mana yang tidak sedih.” ucap
Maira kesal
“Wah ternyata perjanjian dari nenek moyang kita masih terus
berlaku yah.” Ucap Bian menyeringai
“Gak tahu juga, kadang Garra baik banget, kadang juga kasar
sampe aku trauma.” Sahut Maira memalingkan wajah nya
“Garra tuh bukan orang baik juga, tapi setahuku dia gak pelit,
untuk sesuatu yang memang harganya pantas.” Ucap Bian memberikan cermin pada
Maira
“Semoga aja, antar aku ke brescout.” Ujar Maira mengambil
cermin dengan heran.
“Mata aku ada belek kah.” Tanya Maira saat bercermin.
“gak, cuman kamu harus lihat wajah mu malam ini sangat
cantik.” Beritahu Bian melaju di jalanan.
Maira dan Bian pun semakin mendekati brescout. Berada di
halaman rumah yang luas itu membuat Bian membuka jendela mobil melirik brescout
dengan takjub.
__ADS_1
Hmpt, lautan Muerzy itu apakah? Milik pribadi atau apa yah. Ah nanti saja aku tanyakan langsung pada Garra, itu juga kalau kami berdua bisa berbaikan malam ini. pikir Maira melangkah menjauh kedalam Brescout.