
Dua hari berlalu Maira tak sekalipun di izinkan Garra pergi tanpa pengawalannya keluar dari area brescout. Rasa mual Maira semakin menjadi jadi, apalagi dirinya hanya ingin berada di samping Garra.
Mengetahui dirinya hamil membuat ia selalu mencari cara agar tak menimbulkan tanda tanda di depan Garra. Dan selama di brescout Sasha tak sekalipun datang berkunjung entah kenapa bisa? Atau Garra telah melakukan
sesuatu.
“Tuan, hari ini aku harus bertemu dengan seorang klien.” Maira tampak memeluk erat tubuh Garra yang
sedang berdiri dengan jas di depan cermin.
“Hmpt.”
“Abis itu aku aku bakal mampir ke kantor.” Lagi lagi Maira berkata dengan nada manja.
Ia tak mau kalau Garra merasakan perubahan hormon di diri Maira, hanya saja sikap manja Maira membuat siapa pun akan berfikir aneh sedemikian mungkin. Apalagi Rama bisa melihat dengan jelas bagaimana Maira sedang menggantung erat di leher Garra yang langsung menyambar dalam penyatuan dua bibir itu
hingga bertaut mesra.
“Apakah tuan akan pulang terlambat.” Maira berkata dengan terus bertengger di leher Garra.
Hanya saja Garra berfikir ulah Maira yang menjadi manja karena hukuman yang diberikan dua hari lalu, tidak tahu kalau Maira tengah hamil lebih dari 2 minggu.
“Aku punya jadwal sangat padat.” Garra berkata dengan menekan tengkuk Maira dan ********** perlahan. Sampai dering ponsel membuat Garra segera merogoh saku celananya.
Nama Sasha tertera di ponselnya.
“Temani aku, Latihan biola.” Suara Sasha yang terdengar manja membuat Maira menarik lengannya yang menggantung di leher Garra.
“Oke.” Garra terlihat buru buru tanpa melirik Maira yang menatapnya.
Cih katanya jadwalnya padat, padat apanya dasar playboy. Maira berdecih sangat kesal.
Garra dan Rama meninggalkan brescout dengan terburu buru.
Maira pun meninggalkan brescout Bersama seorang pengawal menuju tempat di mana ia melakukan janji temu dengan seorang klien. Dan tanpa sengaja ia bertemu dengan Reina yang melakukan perjalanan kerja.
Keduanya berbincang layaknya sahabat dan melupakan kejadian hari itu yang sangat menyakitkan.
“Kamu kenapa kok wajahnya di tekuk.” Sapa Reina menatap Maira yang terlihat kesal.
“Tadi ada orang aneh, dikiranya aku pelayan.” Maira berkata. “ Aku gak hiraukan eh dia malah marah, yah aku guyur dengan minuman ke
__ADS_1
bajunya.” Jelas Maira Panjang lebar hingga keduanya lanjut bicara ke hal pribadi
“Jadi kamu hamil.” Reina kaget dengan sedikit berteriak hingga beberapa pengunjung melihat kerah mereka.
“Trus bakal gimana.” Reina sempat membungkam mulutnya
sebelum Kembali bertanya pada Maira.
“Aku bakal gugurin, gak mau nanti anak ini nanya ayahnya terus aku bakal jawab apa selain mati, dia gak perlu merasakan siksa bumi yang kejam.” Maira berkata dengan meneguk minuman yang berakohol rendah.
Ucapan Maira membuat reian menatapnya tak percaya. “ Maira kamu gak serius kan dengan ucapan mu barusan kan.” Menatap lekat lekat ke dalam bola mata maira yang kala itu tengah
meneguk segelas minuman.
“Aku baru masuk 23 tahun Ren, menurut kamu apa yang bakal aku lakukan kalau anak ini lahir nanti, hm.” Mata Maira mulai sayu saat mengatakan nya.
“Apa kamu pikir aku akan menjadi ibu yang baik. Oh no, aku gak bisa.” Lagi lagi Maira berkata dengan tawa yang tertahan.
“Tapi Maira, mengugurkan anak itu dosa besar.” Reina seperti bukan melihat Maira yang sebenarnya. Di mana sahabatnya yang selalu sabar itu.
“Lebih berdosa lagi kalau anak ini lahir tanpa ayah biologisnya yang sialan itu.” Maira berkata dengan mata penuh kebencian. Di
Reina melihat kedalam diri sahabatnya itu yang sama sekali tak seperti orang yang di kenalnya. “Apa ini karena Sasha.” Reina bertanya “ Maira
kamu belum mengenal Sasha, dia orang baik.” Reina berkata dengan nada yakin.
“Persetan dengan tanggapan kalian soal Sasha Sasha dan Sasha.” Maira sedikit berteriak. Mendengar nama Sasha membuat Maira seperti kesetanan. Apalagi dorongan kehamilan. Maira terlalu sering sakit hati dan stress. Libido orang hamil sangat sensitive. Kalian yang berpengalaman pasti lebih tahu.
“Dimana ada orang baik yang merusak rumah tangga orang lain. Hm.” Pekik Maira menahan suaranya.
Brengsek sekali memang!
“Tapi bukan kah kamu tahu bakal berakhir kek gini. Kamu sedari awal seharusnya tahu ini tuh bakal terjadi. Ini resikonya.” Reina berargumen.
“Lalu apa aku harus menyalahkan perasaan ku yang bergejolak ini, yang datang secara tiba tiba.” Oh ayolah Maira hampir terisak andai di
café itu tak banyak orang. “Apa aku harus menahan perasaan yang tumbuh ini. Aku
Bersama nya hampir setiap waktu Reina.” Lelehan air mata yang mulai deras
itu semakin menarik perhatian beberapa
__ADS_1
orang di sekitar mereka.
“Tapi kamu bersamanya baru beberapa bulan terakhir, seharusnya perasaan itu kamu tahan Maira.” Reina Kembali beropini dengan pikirannya.
“Jadi aku harus merasakan sakit hati, terluka, dendam, dan benci. dalam waktu yang lama baru bisa menangis. Baru bisa meratapi diriku yang malang ini. Reina kamu gak paham sampai kapan pun kamu gak bakal paham.” Sakit rasanya melihat sahabat yang berada di pihak lain di saat kita membutuhkan
dorongan mental.
Dunia yang kejam bukan
Maira menyeka kuat air matanya, tak peduli saat orang orang memandanginya dengan tatapan penuh maksud.
Apalagi mengingat Maira yang hamil muda. Sudah tentu bukan kalau libido orang hamil sangat sensitive.
“Apa aku gak boleh sedikit egois, hm.” Maira menghela nafasnya kasar.
“Reina aku gak bahas soal waktu itu karena aku pikir aku terlalu kekanak-kanakan. Tapi sekarang sepertinya emang kamu udah keterlaluan.” Maira berkata penuh penekanan.
Maira yang terlihat sangat kesal. Bisa jadi gila jika dirinya berlama lama dengan Reina di sini.
Dengan kepala yang berdenyut Maira beranjak, namun baru satu Langkah pengelihatanya mulai kabur.
BUK ….
Maira menyenggol gelas Jeruk yang ada di meja, tanpa sengaja.
“Maira kamu baik baik aja kan.” Reina berkata dengan khawatir.
“Aku gak apa apa, aku ada orang utusan tuan Garra yang jagain.” Maira berkata dengan kepala yang berdenyut hebat. Sebelum tangan kekar seorang pria memegang Pundak Maira yang akan jatuh ke lantai.
“Maira.” Panggil Reina dengan keras. Sayangnya Maira sudah hilang kesadaran dan waktu tepat saat seseorang menopang tubuhnya dan mengangkatnya dengan gaya sensual.
“Aku gak bisa ngenterin dia ke rumah sakit, tolong kamu jagain dia yah.” Ucap Reina pada seorang laki laki yang bergaya maskulin itu.
“Kalo gak di jagain nanti tuanmu bakal potong gaji kamu.” Ucap Reina berkata pada seorang yang di anggap suruhan Garra yang menjaga Maira.
Anggukan pria yang bertubuh tinggi itu, membuat Reina percaya. Tanpa menunggu lama Omar membawa Maira kedalam mobil dan melaju ke rumah sakit.
Laki laki yang bertubuh tinggi itu terseyum lebar tanpa memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
10 comentar author bakal up doble lho ..
__ADS_1