
Tepat di depan rumah Garra berhenti ia bergegas keluar dari mobil.
Maira sendiri masih bingung tapi ia mengikuti Garra yang keluar dari mobil.
Semua pelayan saat itu berlari dan berbaris rapi menyambut kedatangan Garra dan Maira.
Maira membuka lebar mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Apakah ini nyata.?
Garra menggandeng tangan maira yang masih tetap dengan rasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Aku kira yang seperti ini hanya ada di cerita dongeng. Tersenyum puas dengan begitu bahagia di wajahnya.
Seketika Garra menarik tangan Maira menuju kamar mereka.
"auuhhh sakit." keluar Maira ingin melarikan diri.
Kekuatan Maira sama sekali tak ada apa apanya di banding Garra. Namun jika masih meremehkan Maira seperti nya kalian salah.
Menaiki tangga dengan tangan yang di genggaman kuat membuat jiwa berontak Maira timbul dengan seketika.
Maira menggigit tangan Garra yang menggenggam tangan nya dengan begitu kuat. Hingga Garra melepaskan karena tangan nya merasa kesakitan.
__ADS_1
"Kau pikir aku tawanan mu." teriak Maira menjauh dari Garra.
"Kembali." tegas dan bernada dingin.
"Hey anak kecil pun tahu, bagaimana mungkin aku kembali sementara kau menyiksaku." memperlihatkan pergelangan nya yang memiliki bekas merah akibat cengkraman tangan Garra.
"Kau mau kembali dengan kakimu sendiri. Atau aku yang menjemput mu." Nada bicara Garra mulai meninggi.
Terlihat wajah Maira sedikit ketakutan dengan ekspresi Garra yang tenang namun memiliki tatapan tajam
"Jangan uji kesabaran ku dengan tingkah konyol mu itu." Mata Garra memerah dengan aura gelap di sekeliling nya. Dan itu membuat Maira semakin ketakutan.
Garra mulai menuruni anak tangga satu persatu. Kata demi kata ia ucapkan setiap kali menapaki anak tangga.
"Selain keselamatan kakak bodoh mu itu."
"Selain perceraian sebelum waktunya pas. Tidak kurang dan tidak lebih. Benar benar pas."
"Aku bisa saja menyiksamu lalu melenyapkan mu seperti kau tak pernah ada di dunia ini."
Aura macam apa ini Tuhan. Kenapa benar benar mencengangkan rasanya aku begitu sulit untuk bernafas.
"Aku sedang tidak berniat membuatmu marah." Berjalan mendekati Garra dengan patuh.
__ADS_1
Langkah demi langkah Maira berdoa semoga ia masih melihat matahari esok.
Maira berusaha tetap tenang dengan senyuman di wajahnya yang ia paksakan.
Kalau mati saat ini perasaan apa yang bisa aku rasakan lagi.
berdiri tepat di depan Garra walaupun beda satu pijakan anak tangga. Di mana Garra lebih
berada di pijakan atas dan Maira berada satu pijakan anak tangga di bawah Garra.
Maira melipat bibir nya masuk ke dalam mulut. Rasa gugup menjelajah di seluruh tubuhnya. Tangan kaki Maira mulai kedinginan.
Mengambil tangan Garra yang sedang menggantung tanpa beban lalu meletakan nya di pergelangan Maira.
"Sepertinya tadi itu aku ke habisan obat." Mengumpulkan keberanian saat Maira memegang tangan Garra.
"Tadi kau akan membawaku keman? oh, kemar yah tadi. Ayok kita ke kamar." mulai mengajak Garra berjalan menaiki tangga.
Alis Garra berkerut dengan sikap Maira. Dan Garra mengikuti Maira yang membawanya menaiki anak tangga walaupun tangan Garra memegang pergelangan Maira.
Saat sampai di depan pintu kamar, kecepatan tangan Maira kalah cepat dengan Garra yang membuka pintu kamar dan menarik Maira ke dalam kamar mandi.
Garra yang tampak emosi mendorong tubuh Maira hingga ia terduduk di dalam bathtub. Tatapan tak suka Garra begitu mulai nampak jelas di matanya. Ia menekan shower ke arah Maira lalu membasahi tubuh Maira tanpa melewatkan satu senti pun ruang tubuh maira.
__ADS_1
"Harus berapa kali aku katakan. J A N G A N Biarkan siapapun menyentuh mu termaksud kakak mu kecuali aku." Suara Garra seperti ledakan di musim hujan yang membuyur tubuhnya dan juga perasaan nya.