
Sementara di kantor Sasha yang masih dengan Garra. Dirinya
sibuk duduk di pangkuan Garra dengan manja.
“Maksud kamu apa. Aku bakal kasih apa sama Maira.” Sahsa
menatap lekat bola mata Garra.
“Terserah. Berikan sedikit tanda terimakasih.” Garra
menyarankan.
“Gara Aku gak pengen nikah sama kamu. Tapi gak mau lihat kamu nikah sama orang lain
juga.” Sasha merungut kesal.
“Sasha kalau kamu susah buat nentuin, gimana aku bakal cerai
dengan istri aku.” Garra berkata dengan
membelai bibir Sasha.
“Gak ada kepastian. Terus
kamu seenaknya pergi jalan sma Omar atau Luis.” Garra menatap kesal pada Sasha.
“Aku gak mau di kekang. Aku maunya seperti dua tahun lalu
aja.” Sasha berkeras.
“Sasha aku menunggu kamu 2 tahun itu biar kamu bisa nentuin.
Mau menikah atau enggak. Kalau enggak berarti aku gak ada hak utang budi lagi
sama kamu.” Garra menjelaskan. Rahangnya mengeras menatap gadis yang memeluk
manja.
“Aku belum siap untuk menikah. Aku masih ingin berkarya di
dunia music.” Lagi lagi Sasha berdalih.
“Oke kalau gitu. Mulai sekarang utang budinya lunas.” Gara
menekankan. Seketika Sasha langsung ******* perlahan bibir Garra.
“Emm kalau gitu kamu gak bakal cerain istri kamu donk.”
__ADS_1
Sasha bertanya dengan mata membulat.
“Bakal tetap cerai.” Garra bicara spontan. Garra Kembali
menarik tengkuk Sasha dan ********** dengan kasar. Gadis itu mendorong tubuh Gara
keras.
“Kamu tahu ini yang bikin aku susah buat terima kamu Garra.
Kamu terlalu brutal.” Sasha beranjak dari pangkuannya di paha Garra.
“Ingat, Jangan mempublis hubungan apapun nanti. Aku malu.”
Sasha melontarkan kata kata kasar pada Garra
dengan wajah teramat kesal.
“Aku bakal publis. Sesuai kesepakataan.” Garra bertekat.
“Garra aku gak mau di ekspos menjalin hubungan denganmu.
Semua media akan membicarakan aku. Media luar pun bakal. Aku gak mau ketahuan
pernah punya hubungan dengan orang yang memiliki tantrum possessive kayak kamu.
Aku malu. Kamu kira kenapa aku tabrakin diri waktu kamu publis soal tunangan kita.” Sasha bicara dengan tangis
“Aku malu dengan sosok dirimu. Sebagian kolega yang aku
datangi mereka mengenalmu dengan pribadi yang sangat buruk. Aku gak mau di
kenal kayak gitu. Kamu itu pembunuh Garra. Sebenarnya aku takut banget sama kamu. Makanya aku mau koma saja.” Sasha terus bicara tanpa henti. Sorot matanya
ketakutan dengan sosok di hadapannya itu.
“Kamu tahu aku seorang yang di kenal lemah lembut. Pianis
yang memiliki karakter penyayang. Bagaimana
mungkin memiliki sebuah skandal dengan seorang pembunuh berdarah dingin.” Sasha
akhirnya jatuh kelantai dengan rasa takut yang hebat.
“Aku koma hanya 3 bulan. Tapi berkat Ellyana aku beralasan
koma selama 2 tahun sampai kamu menikah dengan seseorang. Karena aku gak mau
__ADS_1
menikah dengan kamu Garra. Kamu itu pembunuh. Itu alasan aku gak mau publis hubungan kita. Apa kamu paham.” Sasha
mulai merasakan tatapan seperti pedang samurai yang akan memotong kaki dan
tangannya saat ini juga.
Beruntung Rama segera masuk. Pemandangan yang dilihatnya
benar benar membuat bulu kuduknya bergidik ngeri.
“Urus Sasha.” Garra berkata sebelum dirinya meninggalkan
kantor dengan terburu buru. Rama yang membawa beberapaa laporan untuk di tanda
tangani membuat dirinya mengejar beberapa Langkah keluar dari ruangan.
Sasha merinding di sekujur tubuhnya. Dirinya sangat takut.
Mencoba berdiri tak sengaja matanya melirik sebua kertas bertuliskan surat
cerai. Dengan seringai dibibir Sasha mengambilnya dengan buru buru di masukannya
kedalam tas lalu dirinya berjalan keluar dari kantor.
Didepan pintu dirinya bertemu dengan Rama.
“Ayo nona biar saya antar.” Ucap Rama . Keduanya pun
beranjak pergi, baru beberapa langkah Nadia menahan Sasha.
“Maaf nona Sasha. Ini adalah bukti dari pembayaran yang
perlu di tanda tangani oleh nona Maira selaku desainer tempat tuan Garra
memakai jasanya.” Jelas Nadia menatap dengan alis berkerut. Wajah Sasha yang
habis menangis menyisihkan pertanyaan di benak Nadia. Kemudian melirik Rama
dengan sorot mata tajam.
“Sini biar aku yang kasih.” Sasha mengambil lalu memasukanya
ke dalam tas. Keduanya kembali melangkah. Rama melirik kearah Nadia. Gadis itu
meletakkan tangannya keleher mengisyaratkan leher akan terpotong. Rama menatap
dengan sinis. Mungkin Nadia berfikir Rama
__ADS_1
telah membuat Sasha menangis dan itu seperti bunuh diri Namanya. Tentu saja itu
pikiran Nadia.