Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
Terungkap


__ADS_3

Sementara di kantor Sasha yang masih dengan Garra. Dirinya


sibuk duduk di pangkuan Garra dengan manja.


“Maksud kamu apa. Aku bakal kasih apa sama Maira.” Sahsa


menatap lekat bola mata Garra.


“Terserah. Berikan sedikit tanda terimakasih.” Garra


menyarankan.


“Gara Aku gak pengen nikah sama kamu.  Tapi gak mau lihat kamu nikah sama orang lain


juga.” Sasha merungut kesal.


“Sasha kalau kamu susah buat nentuin, gimana aku bakal cerai


dengan istri aku.”  Garra berkata dengan


membelai bibir Sasha.


“Gak ada  kepastian. Terus


kamu seenaknya pergi jalan sma Omar atau Luis.” Garra menatap kesal pada Sasha.


“Aku gak mau di kekang. Aku maunya seperti dua tahun lalu


aja.” Sasha berkeras.


“Sasha aku menunggu kamu 2 tahun itu biar kamu bisa nentuin.


Mau menikah atau enggak. Kalau enggak berarti aku gak ada hak utang budi lagi


sama kamu.” Garra menjelaskan. Rahangnya mengeras menatap gadis yang memeluk


manja.


“Aku belum siap untuk menikah. Aku masih ingin berkarya di


dunia music.” Lagi lagi Sasha berdalih.


“Oke kalau gitu. Mulai sekarang utang budinya lunas.” Gara


menekankan. Seketika Sasha langsung ******* perlahan bibir Garra.


“Emm kalau gitu kamu gak bakal cerain istri kamu donk.”

__ADS_1


Sasha bertanya dengan mata membulat.


“Bakal tetap cerai.” Garra bicara spontan. Garra Kembali


menarik tengkuk Sasha dan ********** dengan kasar. Gadis itu mendorong tubuh Gara


keras.


“Kamu tahu ini yang bikin aku susah buat terima kamu Garra.


Kamu terlalu brutal.” Sasha beranjak dari pangkuannya di paha Garra.


“Ingat, Jangan mempublis hubungan apapun nanti. Aku malu.”


Sasha melontarkan kata kata kasar  pada Garra


dengan wajah teramat kesal.


“Aku bakal publis. Sesuai kesepakataan.” Garra bertekat.


“Garra aku gak mau di ekspos menjalin hubungan denganmu.


Semua media akan membicarakan aku. Media luar pun bakal. Aku gak mau ketahuan


pernah punya hubungan dengan orang yang memiliki tantrum possessive kayak kamu.


Aku malu. Kamu kira kenapa aku tabrakin diri waktu kamu publis soal  tunangan kita.” Sasha bicara dengan tangis


“Aku malu dengan sosok dirimu. Sebagian kolega yang aku


datangi mereka mengenalmu dengan pribadi yang sangat buruk. Aku gak mau di


kenal kayak gitu. Kamu itu pembunuh Garra. Sebenarnya aku takut  banget sama kamu. Makanya aku mau koma saja.”  Sasha terus bicara tanpa henti. Sorot matanya


ketakutan dengan sosok di hadapannya itu.


“Kamu tahu aku seorang yang di kenal lemah lembut. Pianis


yang memiliki karakter penyayang.  Bagaimana


mungkin memiliki sebuah skandal dengan seorang pembunuh berdarah dingin.” Sasha


akhirnya jatuh kelantai dengan rasa takut yang hebat.


“Aku koma hanya 3 bulan. Tapi berkat Ellyana aku beralasan


koma selama 2 tahun sampai kamu menikah dengan seseorang. Karena aku gak mau

__ADS_1


menikah dengan kamu Garra. Kamu itu pembunuh.  Itu alasan aku gak mau publis hubungan kita. Apa kamu paham.” Sasha


mulai merasakan tatapan seperti pedang samurai yang akan memotong kaki dan


tangannya saat ini juga.


Beruntung Rama segera masuk. Pemandangan yang dilihatnya


benar benar membuat bulu kuduknya bergidik ngeri.


“Urus Sasha.” Garra berkata sebelum dirinya meninggalkan


kantor dengan terburu buru. Rama yang membawa beberapaa laporan untuk di tanda


tangani membuat dirinya mengejar beberapa Langkah keluar dari ruangan.


Sasha merinding di sekujur tubuhnya. Dirinya sangat takut.


Mencoba berdiri tak sengaja matanya melirik sebua kertas bertuliskan surat


cerai. Dengan seringai dibibir Sasha mengambilnya dengan buru buru di masukannya


kedalam tas lalu dirinya berjalan keluar dari kantor.


Didepan pintu dirinya bertemu dengan Rama.


“Ayo nona biar saya antar.” Ucap Rama . Keduanya pun


beranjak pergi, baru beberapa langkah Nadia  menahan Sasha.


“Maaf nona Sasha. Ini adalah bukti dari pembayaran yang


perlu di tanda tangani oleh nona Maira selaku desainer tempat tuan Garra


memakai jasanya.” Jelas Nadia menatap dengan alis berkerut. Wajah Sasha yang


habis menangis menyisihkan pertanyaan di benak Nadia. Kemudian melirik Rama


dengan sorot mata tajam.


“Sini biar aku yang kasih.” Sasha mengambil lalu memasukanya


ke dalam tas. Keduanya kembali melangkah. Rama melirik kearah Nadia. Gadis itu


meletakkan tangannya keleher mengisyaratkan leher akan terpotong. Rama menatap


dengan sinis.  Mungkin Nadia berfikir Rama

__ADS_1


telah membuat Sasha menangis dan itu seperti bunuh diri Namanya. Tentu saja itu


pikiran Nadia.


__ADS_2