
Sorot mata dan Gerakan Garra sangat tidak lembut, apalagi saat menarik Maira agar mengikuti langkahnya yang lebar membuat gadis itu kesakitan.
“Auhhh.” Ringis Maira melenguh kesakitan saat tangan nya di Tarik
“Garra.” Luis memangil. “ Dia perempuan.” Luis manarik tangan Maira yang satunya. gerakan spontan Luis membuat Ali tegang seketika. Aura mencengkam disekitar mereka terasa menusuk kulit.
Langkah kaki Garra terhenti karena suara Luis. Tatapan nya kini sangat tajam, menghantam pada Luis.
Menatap pergelangan Maira yang di pegang Luis dengan erat membuat Gara naik pitam.
“Luis, kau bisa melepaskan tangan ku.” Maira berkata dengan suara serak, hatinya sakit Ketika dirinya di perlakukan berbeda dengan Sasha yang kerap kali Garra perlakukan lemah lembut.
“Tapi Maira.” Garra menarik tangan Maira di saat Luis masih berkata.Wanita itu tersentak kaget. Hatinya menjerit, perlakuan Gara sangat sangat berbeda. Maira merasakan itu.
“Kau paham kan dengan posisimu.” Garra melangkah mendekat kearah Luis “Jangan merebut yang bukan milikmu, apalagi punyaku dengan jelas.” Garra memukul lembut pipi Luis dengan harapan agar sahabatnya itu sadar. Sebelum melangkah dengan Kembali menggengam tangan Maira
“Sasha sudah Kembali. Bukan? Jadi kapan kalian akan bercerai.? Luis tersenyum dengan sorot mata yang tajam. Membenarkan lipatan jasnya yang ia gantungkan di lengan. Apakah perasaan Luis sudah dibutakan oleh rasa cintanya. Atau hanya rasa empati untuk gadis seperti Maira. Entahlah hanya Luis yang paham dengan tindakannya saat ini.
Langkah Garra lagi lagi tertahan, emosi memuncak Kembali mendidihkan darah di kepala Garra dengan 180c. kali ini Garra melangkah kearah Maira yang berjalan mundur. Membentur tembok dan tubuh Garra menghimpit Maira sampai tak ada cela. Satu tangannya mengelus pipi Maira dengan lembut menyeka air mata yang membekas. Turun ke bibir dan mengusapnya lembut sebelum lengan Maira mengantung di leher Garra dan keduanya menyatukan dalam ciuman yang ganas dan panas itu.
__ADS_1
Kenapa Maira melakukan itu? Seharusnya dia menjaga perasaan Luis? Itu karena Maira ingin Luis berhenti bertindak konyol. Tindakan mereka terang terangan hanya untuk membut Luis sadar lalu membuka matanya selebar langit membentang kalau Maira adalah istri sahabatnya tak seharusnya perasaan terlarang itu ada.
Masih banyak gadis diluar sana yang jauh lebih dari Maira. Hanya saja kalau sudah nyaman dan cinta memang susah untuk melihat yang lain bukan. Omong kosong jika Luis merasa terhina. Alih alih dirinya malah semakin ingin merebut Maira dari sahabatnya itu. Demi kebaikan dan masa depan gadis itu sendiri.
Menjadi tontonan dari 4 pasang mata, membuat Luis menatapnya dengan berapi api hingga mengepalkan tinju di kedua tangannya. Sudut bibirnya terangkat sempurna. Matanya menyisihkan pandangan selain cemburu. Apakah itu? Hanya Luis yang paham.
Menyatukan ciuman dalam waktu yang lama Maira hampir kehabisan nafas. Luis menyeringai. Dirinya melihat sebuah keterpaksaan dalam tindakan Maira. Gadis itu tengah meneteskan air mata. Namun di balik itu lirikan
mata Luis menatap tangan Maira yang menggantung di leher Garra. Itu terlihat bagaimana seseorang menggantungkan harapan. Luis sangat paham dengan Tindakan kecil seperti itu. Jangan tanya apakah dirinya merasakan bongkahan batu yang menindis hati. Haha jangan bercanda kalian sudah tentu Luis merasakanya.
Luis sudah mencintai Maira!
“Menceraikan mu ya.” Garra melirik Luis. Duk … hati Maira seperti di timpa bongkahan batu besar. Dadanya 3x lebih sesak lagi. Ucapan Garra seperti pisau tajam yang mengkoyak hati Maira. Rasanya sakit sekali
Garra menarik paksa Maira pergi dari rumah sakit itu, membawanya masuk ke dalam mobil hingga mereka melaju menuju breskout.
Untuk beberapa saat diperjalanan yang hampir tak jauh dari breskout Garra mendepat terlfon dari Rama sang asisten.
“Tuan bos, bagaimana dengan dokter Syarif.” Rama bicara penuh penekanan. Maira mendengarkann dengan jelas pertanyaan Rama di balik ponsel yang menempel di telingan Garra.
__ADS_1
“Rama, dokter Syarif jangan di apa apain.” Maira menyela Ketika mendengar ucapan Rama. Dokter Syarif tak bersalah dalam hal ini. Dirinya hanya menjalankan apa yang diinginkan pasien. Untuk sesaat hening. Sebelum Rama Kembali menuggu titah dari sang bos
“Perintah bos.” Rama tetap menunggu perintah Garra
“Kamu gak dangar apa yang di ucapakan istriku. Hah.” Garra mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.
Saat memasuki area breskout Maira langsung terlihat kesal, bahkan dirirnya berani bicara dengan nada judes pada Garra.
“Aku gak mau balik ke brescout.” Maira berteriak hingga membuat Garra kaget dan menginjak rem mendedadak.
Garra menatap Maira yang terlihat sangat kesal, wajahnya benar benar merah dan itu membuat Garra ingin memakan Maira saat ini juga.
“Udah ketahuan selingkuh malah marah marah. HMt.” Garra menatap dengan alis terangkat satu. Selingkuh? Seharusnya ucapan itu keluar dari mulut Maira. Tapi kenapa malah orang yang nyata berselingkuh itu berucap. Garra mungkin sudah gila!
“Aku gak mau balik ke brescout.” Maira bersekekeh tetap tak
mau balik ke breskot
“HM.” Garra menatap dengan tatapan bingung. Sedetik berikutnya pedal gas melaju menuju lebih dekat area breskout. Maira yang tadinya berada di puncak emosi menjadi diam seketika. Dia paham dengan posisinya.
__ADS_1
comen nya sampai 10 aku up doble yah