Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
MAKSUD DIBALIK KATA


__ADS_3

Rama dan Nadia pun saling menatap dengan pertanyaan melalui


sorot mata.


“Apakah tuan, sudah


yakin tetap di posisinya.’ Menatap Rama dengan sorot matanya.


“Kalau tuan sudah


bicara seperti itu apalagi yang perlu kita ragukan.” Jelas Rama pasrah tersenyum


Heh, nanti kalau


posisinya di ambil paman Marcel yang bakal malu pasti sang bos. Menatap dengan


meledek


Gara pun meluncur ke restoran Plufy untuk bertemu dengan


Marisa kontraktor sekaligus teman lama Garra sewaktu kuliah di USE


“Udah lama gak jumpa, kamu semakin tambah mempesona.” Puji


Marisa memeluk sapa Garra.


“Kalau wanita cantik, berkata begini udah jelas menerima


tawaran ku.” Sahut Garra membalas pelukan Marisa.


Keduanya pun berbincang soal pembangunan Menara Wiliam yang


akan di kerjakan Marisa.


“Konsep aku udah ada, cuman asal kamu sanggup bayar aja,


hasil coretan tangan aku, semua akan selesai dalam semalam.” Goda Marisa


memberikan hasil rancangan nya pada Garra.


“Gak salah pilih juga sih, kamu memang yang terbaik.” Jelas


Garra  menopang dagu dan terlihat sekilas wajah Maira yang


sedang makan.


Garra kembali membulatkan pandangan, agar bisa melihat


jelas apakah itu Maira atau bukan. Dan benar itu adalah Maira yang terlihat sedang makan.


Namun teman makan nya tak terlihat karena terhalangi pilar dalam restoran.


Rasa penasaran membuat mood Garra jadi benar benar gak

__ADS_1


bagus.


HampIr  30 menit Garra


menunggu agar bisa tahu bersama siapa Maira. Dan saat akan membayar Gara  dengan


sengaja menabrak  Erian dengan alasan yang tidak masuk akal.


Bukk ...


“Ah, maaf mata saya kelilipan.” Menatap Maira tajam.


“Tuan G-Garaa.” Sapa takjub Erian tak percaya bertemu


dengan Garra.


Maira menundukkan pandangan nya saat tatapan mereka bertemu, terlebih


lagi saat melihat Marisa. Wanita yang kemarin juga bersama Garra hingga Snefia


mengira itu adalah istri rahasia Garra Wiliam.


‘Tak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini! anda makan


di sini juga” berkata dengan pandangan kagum


“Sekilas aku melihat peliharaan aku, ternyata memang benar


sedang berada di pelukan orang asing rupa nya.” Ucapan yang jelas menyinggung Maira


asing yang mengganggu nya akan sangat menyesal telah menyentuhnya, bukan kah itu


dalam bahaya." Ucap Erian yang tahu benar soal gosip tentang Garra.


“Lain waktu baru kita bicara lagi.” Ucap Garra penuh amarah,


andai saja  tak mengingat ucapan Maira tentang tak mau diekspos sudah di


pastikan Garra akan mengikat Maira.


“Baik bos, saya pribadi menantikan itu.” Ujar Erian


sangat senang hingga matanya memancarkan cahaya bintang.


Aku yang dari kalangan bawah mana paham dengan dunia bisnis


tapi melihat pak Erian yang seperti pengemis sekarang aku sadar ternyata orang


seperti bos Garra adalah yang berdiri paling atas.


“datang lah ke acara ulang tahun Wiliam malam ini, aku


mengundang secara pribadi.” Jelas Garra tanpa senyuman.

__ADS_1


“Baik bos. Dengan senang hati saya merasa terhormat.” Pak


Erian terlihat seperti akan bersujud.


“Datang lah bersama wanita mu, akan aku sambut secara


pribadi.” Tatapan tajam Gara hampir menembus jantung Maira.


Eh, apa ini apa yang


akan dia lakukan, aku gak mau datang. Maira menatap kesal pada Garra yang


sudah berlalu pergi


Maira dan pak Erian  pulang bersama ke kantor.


“Maira apa kau tahu, bos dari perusahaan raksasa itu


mengundang kita secara pribadi, benar benar aku seperti bermimpi.’ Jelas pak Erian


tak percaya.


“Ia Maira, padahal orang seperti Garra itu benar benar sulit


di temukan, berarti kalian termaksud beruntung bertemu dengan bos Gara.’ Ucap


Snefia yang tadi tak berkesempatan bertemu dengan Garra karena ke toilet, yang


mengakibatkan Garra salah paham dengan Maira.


“Haha, pak Erian  bisa


pergi bareng Snefia aja kan.” Pinta Maira memberi saran.


Pak Erian menatap Maira sekilas sebelum kembali focus


pada jalanan. Dalam perjalanan  kembali


ke kantor mereka bertiga singgah di salah satu butik ternama yang high class,


Maira dan Snefia saling bertatapan dengan pertanyaan yang sama dalam benak


masing masing.


“ Pak Erian bukan kah ini, terlalu berlebihan.” tolak Maira


secara halus.


“Ha, apaan sih, sekali kali demi menghadiri acara penting


kamu udah paling tepat sebagai pendamping aku.” Tawaran pak Erian sedikit


memaksa.

__ADS_1


Snefia yang merasa terabaikan tak mau masuk dalam percakapan


diantara mereka.


__ADS_2