
Rama dan Nadia pun saling menatap dengan pertanyaan melalui
sorot mata.
“Apakah tuan, sudah
yakin tetap di posisinya.’ Menatap Rama dengan sorot matanya.
“Kalau tuan sudah
bicara seperti itu apalagi yang perlu kita ragukan.” Jelas Rama pasrah tersenyum
Heh, nanti kalau
posisinya di ambil paman Marcel yang bakal malu pasti sang bos. Menatap dengan
meledek
Gara pun meluncur ke restoran Plufy untuk bertemu dengan
Marisa kontraktor sekaligus teman lama Garra sewaktu kuliah di USE
“Udah lama gak jumpa, kamu semakin tambah mempesona.” Puji
Marisa memeluk sapa Garra.
“Kalau wanita cantik, berkata begini udah jelas menerima
tawaran ku.” Sahut Garra membalas pelukan Marisa.
Keduanya pun berbincang soal pembangunan Menara Wiliam yang
akan di kerjakan Marisa.
“Konsep aku udah ada, cuman asal kamu sanggup bayar aja,
hasil coretan tangan aku, semua akan selesai dalam semalam.” Goda Marisa
memberikan hasil rancangan nya pada Garra.
“Gak salah pilih juga sih, kamu memang yang terbaik.” Jelas
Garra menopang dagu dan terlihat sekilas wajah Maira yang
sedang makan.
Garra kembali membulatkan pandangan, agar bisa melihat
jelas apakah itu Maira atau bukan. Dan benar itu adalah Maira yang terlihat sedang makan.
Namun teman makan nya tak terlihat karena terhalangi pilar dalam restoran.
Rasa penasaran membuat mood Garra jadi benar benar gak
__ADS_1
bagus.
HampIr 30 menit Garra
menunggu agar bisa tahu bersama siapa Maira. Dan saat akan membayar Gara dengan
sengaja menabrak Erian dengan alasan yang tidak masuk akal.
Bukk ...
“Ah, maaf mata saya kelilipan.” Menatap Maira tajam.
“Tuan G-Garaa.” Sapa takjub Erian tak percaya bertemu
dengan Garra.
Maira menundukkan pandangan nya saat tatapan mereka bertemu, terlebih
lagi saat melihat Marisa. Wanita yang kemarin juga bersama Garra hingga Snefia
mengira itu adalah istri rahasia Garra Wiliam.
‘Tak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini! anda makan
di sini juga” berkata dengan pandangan kagum
“Sekilas aku melihat peliharaan aku, ternyata memang benar
sedang berada di pelukan orang asing rupa nya.” Ucapan yang jelas menyinggung Maira
asing yang mengganggu nya akan sangat menyesal telah menyentuhnya, bukan kah itu
dalam bahaya." Ucap Erian yang tahu benar soal gosip tentang Garra.
“Lain waktu baru kita bicara lagi.” Ucap Garra penuh amarah,
andai saja tak mengingat ucapan Maira tentang tak mau diekspos sudah di
pastikan Garra akan mengikat Maira.
“Baik bos, saya pribadi menantikan itu.” Ujar Erian
sangat senang hingga matanya memancarkan cahaya bintang.
Aku yang dari kalangan bawah mana paham dengan dunia bisnis
tapi melihat pak Erian yang seperti pengemis sekarang aku sadar ternyata orang
seperti bos Garra adalah yang berdiri paling atas.
“datang lah ke acara ulang tahun Wiliam malam ini, aku
mengundang secara pribadi.” Jelas Garra tanpa senyuman.
__ADS_1
“Baik bos. Dengan senang hati saya merasa terhormat.” Pak
Erian terlihat seperti akan bersujud.
“Datang lah bersama wanita mu, akan aku sambut secara
pribadi.” Tatapan tajam Gara hampir menembus jantung Maira.
Eh, apa ini apa yang
akan dia lakukan, aku gak mau datang. Maira menatap kesal pada Garra yang
sudah berlalu pergi
Maira dan pak Erian pulang bersama ke kantor.
“Maira apa kau tahu, bos dari perusahaan raksasa itu
mengundang kita secara pribadi, benar benar aku seperti bermimpi.’ Jelas pak Erian
tak percaya.
“Ia Maira, padahal orang seperti Garra itu benar benar sulit
di temukan, berarti kalian termaksud beruntung bertemu dengan bos Gara.’ Ucap
Snefia yang tadi tak berkesempatan bertemu dengan Garra karena ke toilet, yang
mengakibatkan Garra salah paham dengan Maira.
“Haha, pak Erian bisa
pergi bareng Snefia aja kan.” Pinta Maira memberi saran.
Pak Erian menatap Maira sekilas sebelum kembali focus
pada jalanan. Dalam perjalanan kembali
ke kantor mereka bertiga singgah di salah satu butik ternama yang high class,
Maira dan Snefia saling bertatapan dengan pertanyaan yang sama dalam benak
masing masing.
“ Pak Erian bukan kah ini, terlalu berlebihan.” tolak Maira
secara halus.
“Ha, apaan sih, sekali kali demi menghadiri acara penting
kamu udah paling tepat sebagai pendamping aku.” Tawaran pak Erian sedikit
memaksa.
__ADS_1
Snefia yang merasa terabaikan tak mau masuk dalam percakapan
diantara mereka.