
Rasanya dunia hancur berkeping-keping, Malik seorang Kaka yang seharusnya melindunginya dari segala marabahaya malah menjerumuskan Maira kelobang neraka terdalam.
Di bawah guyuran hujan ringan Maira meratapi nasibnya yang terlalu malang.
pernyataan Malik sangat menyakitkan untuk selalu terbayang-bayang di lintasan pikiran Maira.
hiks hiks hiks ....... suara tangis Maira di telan oleh suara hujan ringan. Langkahnya pun kini serasa berat, tubuhnya seakan tak mampu untuk menopang dirinya lagi.
Bingung dan bimbang dengan keadaan yang semakin kacau sekarang. Menyesal sudah pasti, kecewa hanya harus di telan kasar Maira agar bisa bernafas lebih lega sedikit demi sedikit.
Tak lama suara dering ponsel masuk terdengar di telinga Maira. Pandangan yang kabur menatap layar ponsel yang menampilkan nomor tanpa nama.
mencoba menemalisir kesedihan sehabis menangis merubah intonasi suara untuk kemudian berpura-pura bahagia.
"Hallo." ucap Maira di balik ponselnya.
"Dimana." pertanyaan sambutan di awal percakapan dengan suara dingin pria yang tak lain adalah tuan bos.
Ah ini suara tuan bos Garra.
"Aku ada di jalan pulang habis beli es cream." suara serak terdengar sedikit mengacau di telinga Garra.
"Oh sudah berani keluar tanpa izin." protes Garra.
"Oh tentang itu, aku pikir kamu sudah mengizinkan ku." alasan klasik Maira padahal sudah tahu Garra tidak bicara apapun.
"Terserah." ucap Garra sebelum ia mematikan ponselnya secara sepihak.
"Tuan ada dimana." Maira bertanya! Sayang sekali panggilan itu berakhir sepihak. Gatra mematikannya. sialan memang laki laki ini.
"Lalu untuk apa kamu menelfon ku tuan sialan." maki Maira pada ponselnya yang panggilannya sudah terputus.
Emosi Maira yang tadinya memuncak kini mulai mereda setelah ia berteriak kesal.
__ADS_1
"Huff." buang nafas perlahan "Seperti nya dadaku sudah tidak sesak lagi " bicara pada dirinya sendiri.
Pikiran Maira kembali membawanya pada sosok Garra, namun sebelum itu ia mulai mencari taxi untuk di naiki pulang.
Garra yang berada di kota Z untuk beberapa waktu sebelumnya kepulangannya yang harus bertepatan dengan ulang tahun dari perusahaan Wiliam gruop membuat ia ingin sedikit bermain main sebelum turun perang dengan paman nya.
"Rupanya habis menangis yah." memandangi pemandangan dari jendela raksasa yang ia pijak saat ini.
Meneguk minuman dengan sekali tegukan membuat aura Garra menjadi berbeda.
Too tok tok ..... suara ketukan pintu
"Tuan bos seperti nya pestanya menunggu kedatangan anda, tuan Nicolas sudah menunggu di sana." suara di balik pintu tak lain adalah Rama.
"Tepat sekali, umpan sudah di makan." ucap Garra berjalan ke luar ruangan sebelum ia memberikan gelas minuman pada Rama sang asisten.
Kedua lelaki sang pengusaha dan juga pengusaha itu berjalan berdampingan bak raja dan pangeran.
Tubuh tegak, pinggang ramping dengan pesona di luar kendali, apalagi wajah tampan tanpa dosa kedua lelaki yang memiliki pengaruh pada perkembangan dunia.
Para wanita memandang tanpa berkedip karena ketampanannya tuan bos begitu menggoda sementara para lelaki normal memandang aset berharga yang tak ternilai jika bisa bergabung dan saling menanam saham dengan Wiliam gruop.
"Selamat datang tuan bos." sambut pria yang berjas dengan tangan terbuka.
"Terimakasih atas sambutan nya tuan Nikolas." sapa Garra dengan bersalaman.
"Untuk tuan bos, harus yang extra dan luar biasa." tatapan kedua pria itu begitu tajam dengan senyuman maut mereka.
"Ayo ke tempat pembicaraan, di sini banyak domba pengadu." Bisik Nicolas menyeringai.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan di tengah pesta untuk menghindari kerumunan dan juga pembicaraan rahasia antara kedua kolega muda itu.
Nicolas yang menuangkan minuman bertuliskan burbur itu dengan tahun 1870 dengan rasa yang kuat mereka hampir menghabiskan nya.
__ADS_1
"Minuman ini semakin lama penyimpanan nya akan semakin memabukkan namun cita rasa minumannya akan semakin terasa nikmat karena pengolahan dan penyimpanan yang memakan waktu lama." ujar Nicola tersenyum menahan untuk mabuk.
Merek baru 30 menit berada di dalam ruangan namun sudah menghabiskan 5 botol burbur.
Garra memegang botol dan menyimak di sana.
"Burbur, tahun 1870, fantastik tapi di balik itu semua ada harga yang harus di bayar." menatap Nicholas melalui botol kaca.
"Sudah resiko jika ingin yang terbaik maka harus bekerja sampa yang terbaik itu berjajar dan kita tinggal memilih sesuka hati bukan." menuangkan lagi ke gelas padahal Nicolas sudah mabuk.
Garra yang menatap dengan pandangan tajam nya pada Nicolas sebelum ia memberitahukan niatnya.
"Datanglah ke acara ulang tahunku nanti. Aku mengundang mu secara pribadi. Tapi ingat hadiah yang ku mau adalah dukungan padaku dengan saham 10%." Nicolas mendapatkan selembar kertas saham.
"Kau juga jangan lupa." berkata sebelum tumbang dengan sendirinya.
Nicolas menadatangani secarik kertas itu tanpa ia baca lebih dulu, sebelum ia tumbang tak berdaya.
"Ah aku lupa mengatakan, jika hanya bekerja maka kerbau di ladang juga bekerja, tapi yang di butuhkan adalah otak dan strategi yang bagus." ujar Garra bicara pada nicolas yang mulai hilang sadar sebelum ia meninggalkan nya.
Kedua pria itu tersenyum puas dengan kemenangan yang mereka dapat setelah mendapat tanda tangan Nicholas pemasok tambang minyak bagian Utara.
Sampai salah satu pengusaha di bidang kontraktor mengajak Garra dan Rama memasuki ruangan yang di sana bentak penghibur wanita wanita cantik dan ****.
Garra yang muak hanya ingin mengikuti sebentar untuk menghargai pengajak nya. sekilas ia mengingat Sasha tunangan nya yang pertama kali bertemu di clab malam wanita.
Mata Garra yang menimbulkan kerinduan akan Sasha yang sedang terbaring koma karena tabrakan. seseorang.
Hal itu membuat Garra ingin segera menemui Sasha namun bertepatan dengan penyambutan ulang tahun group dan sekaligus melawan paman Marcel yang akan melengserkannya.
Rama melihat experience Garra langsung mengajak Garra kembali ke hotel penginapan mereka.
Siapa sangka sampai di sana Garra mulai membanting semua isi kamar hingga berantakan bagaikan kapan di terjang ombak.
__ADS_1
salam author pliss kalau suka like dan comen yah, vote juga karena semua itu gratis. selamat menikmati kisahnya.