
Di ranjang king size
yang muat untuk pasangan, terlihat Maira memeluk Garra yang tengah terbaring
“Dari luar jam segini aku gak abis cari pacarkan.” Ucapan yang membuat Maira
menenggelamkan wajahnya di punggung Garra.
“Niat nya gitu, kalo kamu gak bangun bangun.” Saut Maira semakin mengeratkan pelukanya di tubuh Garra
“Maira, kenapa kamu gak bunuh aku saja.” Protes Garra kesal.
“Abis bunuh kamu aku
bakal langsung di penjara, mana sempat nikmati uangmu.” Sahut Maira mulai menekan nekan dada Garra.
“Abis dari mana, jam 3 subuh baru dating, aku khawatir.” Cerca
Garra tak sabar.
“Aku tadi nebus obat di apotik, tapi bertemu dengan teman
lama, jadi bincang sedikit deh, eh tahu nya keterusan ampe subuh, baru ingat kalau
udah punya suami.” Sahut Maira mulai mencium leher Garra.
“Aku mau olahraga.” Ucap Garra mulai menerobos gunung di
balik baju.
Dia ini ngapain sih, lupa yah ini rumah sakit. Gumam Maira
kesal.
“Eh, harusnya ku gak bawa kamu ke rumah sakit tadi. Jadinya gerakan
kamu gak bebas.” Ledek Maira dengan senang, karena tak bisa melakukan itu di
rumah sakit.
“Kamu kira aku gak bisa.” Jelas Garra mulai mulai menerobos
bagian bawah.
Salah besar Maira jika berfikir kalau mereka akan terhalangi
oleh tempat. Bahkan karena brutalnya Garra mereka berdua jadi lebih liar, dengan
berbagai macam gerakan terjadi di setiap tempat.
__ADS_1
“Kali ini usaha kamu yang harus lebih besar, karena aku gak
mau lepas infusnya.” Ucap Garra penuh
tekanan.
“Aku cape, pinggangku serasa mau patah.” Sahut Maira dengan
kesal.
“Siapa suruh kamu mincing. Tanggung jawab.” Paksa Garra
tersenyum memperhatiakan Maira yang beraktifitas di atasnya.
“Lagian, udah banyak gaya aneh yang kamu mau, semua badanku
serasa mau remuk.” Ucap Maira jatuh di atas tubuh Garra.
“Aku lebih suka yang tadi, saat di sofa benar benar klimaks
sempurna.” Bisik Garra mengigit telinga Maira.
“Yaudah, sini aku yang main.” Sahut Garra melepas selang
infus di tangan nya.
“Eh, jangan di lepas kamu kan sakit.” Larang Maira mulai
Hentakan demi hentakan Garra berikn pada Maira, siapa bilang
orang sakit tak memiliki nafsu, buktinya malah semakin brutal, begitu pikir
Maira pada Garra.
Bermain bergantian, hingga Garra mengakhirinya memberikan
kenikmatan yang hangat di bawah sana.
Sekarang malah Maira, yang terbaring nyenyak di ranjang
rumah sakit. Garra telah selesai membersihkan diri. Lalu menghampiri makanan
yang di sediakan Ali tentunya.
Sejak masuk Ali duduk di sofa menunggu sang bos keluar dari
kamar mandi.
“Jangan terlalu menatap nya, lebih dari tiga detik matamu
__ADS_1
bisa hilang.” Sindir Garra menatap tajam pada Ali.
“Heh, dasar monster, bagaimana bisa kau melakukanya di kamar
rumah sakitku.”protes Ali kesal.
“Instingmu tajam sekali.”ujar Garra mulai menyantap
hidangan.
“Tubuh sexinya terpampang indah, bagaimana mungkin aku
melewatkanya.” Ucap Ali menatap punggung Maira yang tak tertutup selimut.
Garra yang saar itu berada di dekat ranjang, langsung
menutup nya dengan teramat kesal.
“Sepertinya Jodi lagi senggang, aku akan memintanya
menemuimu.” Sahut Garra dengan wajah teramat kesal.
Wajah Ali terlihat tertekan, mendengar nama Jodi seorang
sikopat yang di bayar Garra untuk menguliti orang hidup.
“Heh, aku hanya bercanda yang aku lihat hanya ujung
selimut.” Jelas Ali dengan nyali ciut.
Garra terlihat sangat ingin menguliti Ali, jika tak
menjelaskan lebih detail tadi. Mengucapkan saranya dengan teramat kesal.
Sementara Maira, menyibakkan selimutnya hampir memperlihatkan
punggung bagian dalam. Dan Garra dengan cekatan menutupinya dengan erat.
“Disini gak cuman kita berdua.” Ucap Garra menahan emosi
Maira yang setengah sadar, langsung on 100% setelah
mendengar ucapan Garra. Ingin niat menggoda Garra tapi langsung membuat Maira
tak bergerak sedikitpun.
“kamu ini, udah cinta banget yah sama Maira.” Tanya Ali memastikan
tindakan Garra barusan.
__ADS_1
“Jangan bahas masalah itu di sini.” Protes Garra yang
langsung mendekat pada luis.