
Merasa jika Maira masih mencintainya dengan tidak menolak ciuman. Membuat laki laki bernama Bian itu semakin ganas saat mencium Maira.
Maira mengeras diri, kaku tak bereaksi. Ia bagaikan manekin yang sedang berubah wujud. Mengepalkan ke dua tangannya menahan emosi dengan perlakuan Bian yang mulai tak terkendali.
Mendengar suara langkah kaki semakin menjauh Maira perlahan-lahan membuka kedua matanya. Melihat sekeliling mencari sosok Rama.
Tidak menemukan siapapun di toilet selain mereka berdua dengan penuh kekuatan yang entah dari mana Maira mendorong kuat tubuh Bian agar menjauh darinya.
"Dasar brengsek." menghapus air matanya Maira berlalu pergi.
Ingin menenangkan diri sejenak ia menolak untuk masuk ke dalam acara megah itu. Maira memili ke masuk ke pintu samping.
Tak menyangka kalau itu adalah sebuah taman yang megah dan inda. Walaupun ada beberapa orang juga yang sedang asik menghirup udara segar di sana.
Maira menatap langit dan bulan secara bergantian. cahaya minim membuat maira lebih jelas melihat langit malam yang kelabu.
Dalam sekejap mata ia melihat sosok yang tidak asing yaitu Rama. Laki laki dingin itu terlihat sedang mengisap sebatang rokok dengan menghembuskan asapnya secara sarkas.
Aura wajahnya jelas terlihat tegang tanpa tahu alasannya. Tak mau ikut campur dengan kehidupan Rama. Maira memilih menyembunyikan keberadaan nya.
__ADS_1
Masuk ke dalam suana penyambutan bukan gal yang baik rasanya. Apalagi melihat Garra yang masih berbincang dengan raja Ibrahim dari Aran dengan Beberapa wanita yang mengelilingi mereka.
Maira memilih menaiki tangga ia lebih memilih mengikuti langkah kakinya kemana ia di bawah pergi.
saat berada di lantai atas maira menatap ke bawah yang tengah ramai dalam acara tersebut. Ia menatap dengan sedikit tatapan kesal.
Tanpa sadar sadar maira di tarik oleh seseorang dengan kasar masuk ke dalam ruangan.
"Auuuuh." keluh Maira memegang tangannya yang terasa nyeri.
"Ka Malik." ucap Amira kaget.
"Ka Malik ngapain." tanya Amira heran.
"Bagaimana penampilan ku sekarang." dengan merasa sombong.
"Ka Malik, aku senang kalau hidup Kaka udah berubah. tapi, tolong jangan aneh aneh ka."
"Kau tak perlu mengajariku. Yang harus kau tahu adikku tersayang ikuti rencana ku. jika kau benar-benar menyayangi kaka mu ini. oke." sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Maksud Kaka apa."
"Buat Garra suamimu itu jatuh cinta. Kau harus buat ia jatuh cinta. cukup buat ia jatuh cinta." mengulang kata dengan tatapan tajam tak berarah.
"Ka aku menikahi dia karena Kaka, jadi kasih aku alasan yang jelas." suara maira mulai meninggi saat berbicara dengan Malik.
"Adikku tersayang. ikuti saja yang aku katakan. Biar aku yang pikirkan rencananya." ucapan Malik semakin membuat Maira menatap heran padanya
"Ka aku gak mau Kaka merencanakan sesuatu yang hanya akan buat aku lebih terpuruk lagi." ucap kesal maira.
"Kau ingin hidup sendirian di dunia ini tanpa saudara. Apa kau lupa aku adalah saudara tunggal yang kau punya sekarang." ancam Malik.
"Sebaiknya Kaka jelaskan padaku, jangan peralat aku dengan rencana konyolmu itu." melangkah pergi meninggalkan Malik yang tersenyum penuh maksud.
Berlari keluar dengan teramat kesal hingga menuruni anak tangga tidak memperhatikan langkah kakinya.
Maira menginjak gaunnya hingga kakinya terkilir dan saat yang tepat dia jatuh seseorang menyangga tubuh maira tanpa cela.
Mata Garra tak berkedip melihat maira di pelukan orang lain. justru tatapan nya menjadi setajam elang dengan aura kematian.
__ADS_1