
Sesak rasanya, sangat sesak, karena di perlakukan seperti
ini. Dua bulan bukan lah waktu yang lama, apalagi dirinya sering tinggalkan Garra,
di brescout.
“Hahha, dalam waktu sesingkat itu banyak hal yang sudah
terjadi, sangat sulit jika aku katakan, aku tidak bergantung padanya.” Tangis Maira
meratapi dirinya yang sedang merasa sakit
“Dalam dua bulan, hiks, dalam dua bulan aku bersama dia, dengan
dirinya sang bos, tenyata banyak yang sudah terjadi, aku a- aku mulai mencintai
nya, hiks hiks hiks.” Rasanya Maira sangat terpukul harus menghadapi hal ini
Memeluk diri yang tengah bersandar di dinding membuat Maira
sadar kalau ternyata dirinya di dunia ini hanya sendiri. Tak ada yang benar
benar menginginkannya.” Huaaakkkkk.” Teriak Maira ingin menghentikan waktu.
Air matanya terus jatuh dengan lancar, terbaring di lantai yang dingin nya masuk ke dalam
tulang membuat, Maira tersenyum untuk beberapa saat.
Kini Maira mengerti bagaimana rasanya tak di anggap,
bagaimana rasanya di jadikan pelarian, bagaimana hatinya sudah bukan atas
dirinya. Menutup mata perlahan, air
matanya kembali menetes sempura mengenai luka di wajahnya. Bahkan Maira tak
merasakan perih, situasinya sekarang benar benar membuat hatinya mati rasa.
“Besok semua akan baik baik saja, anggap ini hanya mimpi
buruk Maira.” Mengatakan pada dirinya sendiri
Sampai Maira terlelap di lantai yang dingin.
Pagi harinya Maira
terbangun, karena sinar matahari yang menyapa matanya. Suara panggilan dari ponsel Maira juga
terdengar. Tas yang semalam di lemparkan Garra ke sembarang arah membuat Maira
mencarinya di pagi hari.
Menemukanya di dekat ranjang dengan gerakan melambat Maira
segera menyahut panggilan itu.
“Maira, kenapa baru di angkat sih.” Sahut Snefia dengan
cemas.
“Maaf, aku ketiduran.” Sahut Maira bersuara serak
__ADS_1
“Yaudah sekarang kamu agak cepetan soalnya besok kan, gaunnya
harus udah rampung.” Cerca Snefia
“Ia,” Maira memusatkan panggilan telfon nya secara sepihak
Maira melemparkan handphonenya ke sembarang arah, dirinya
kembali menangis, terisak bahkan beberapa kali tak bersuara.
“Siapa pun tolong aku, aku butuh seseorang yang bisa ngertiin
aku.” Hiks hiks hiks memeluk kembali
dirinya, paham kalau sekarang, dan memang sebelum nya, dirinya selalu
sendirian. “ hiks hiks rasanya sesak,
gak enak.” ucap Maira meremas dadanya
dengan kuat, sambil terisak.
Hari yang suram itu membuat Maira tak pergi ke kantor,
memutuskan untuk tetap berada di rumah, saat ini dirinya duduk di balkon kamar
memandang pemandangan, di mana dua orang pasangan orang tua tengah saling
berbincang menikmati secangkir teh di teras rumah.
Maira menatap nya dengan tatapan kosong. Tak lama cuaca yang
tadinya cerah menjadi mendung, lalu gerimis datang . Maira sedikitpun tak
sendiri enggan beranjak dan masih tetap bertahan di tempat nya.
Bersilang tangan, lalu tersenyum hingga deretan giginya yang
rapi itu terlihat begitu indah di pandangan mata, tak dapat di pastikan apakah
itu air mata atau air hujan yang kebetulan membasahi seluruh tubuhnya, mereka
terlihat sama, namun sebenarnya berbeda.
Sama seperti dirinya dan Sasha, mereka sama sama wanita
namun mereka adalah orang yang berbeda. Yang ada di pikiran Maira saat ini
adalah, kenangan dirinya bersama dengan Malik saat kedua orang tuanya masih
ada, mereka sangat bahagia, semua tercukupi Maira bahkan memiliki apa yang dia
mau, begitu pun dengan Malik memiliki banyak kawan memakai merk yang cukup
terkenal.
Hujan membuat kenangan terlintas lebih dalam lagi, bermain
hujan dengan Malik saat masih SMP hingga besok nya mereka berdua sakit. Kenangan
itu membuat deretan gigi Maira terlihat jelas semakin nampak, dan hal ini bisa
__ADS_1
di artikan kalau Maira sangat sangat terpukul.
Mematung dengan tegak mencoba menerima apa yang sudah
terjadi, membiarkan air hujan dengan sengaja jatuh di wajahnya. Mau tak mau,
ingin tak ingin, memang harus di hadapi. Membuang kasar nafasnya berharap semua
kesedihannya pergi. Namun itu hanya sesat setelah itu perasaan aneh itu datang
lagi, Ingin rasanya Maira kembali pada bik Sima orang tua angkatnya. Tapi
mengingat alasan waktu dirinya menikah adalah berkuliah di luar negri karena
beasiswa membuat ia harus menahan langkah kakinya berkunjung untuk sebuah pelukan dari bik Sima.
Setiap kenangan yang terlintas harus di bayar dengan air
mata, semakin dalam keinginan ingin kembali, maka semakin besar pula air mata
yang harus di keluarkan.
Isak tangis Maira yang di barengi dengan tawa membuat sangat
sulit untuk dirinya sendiri. Sampai suara seseorang membuat nya memalingkan
wajahnya.
“Nona maira.” panggil Suci mendekat lalu memeluk Maira
Maira tersenyum menatap Suci yang melangkah padanya, lalu
memeluk erat tubuhnya di bawah guyuran hujan yang lebat itu.
“Suci” memeluk erat sambil terisak . Suci paham dengan
posisi Maira. Bahkan dirinya di utus menemui Maira pun atas perintah
seseorang.
“Nona, lukanya harus di obati dulu.” Ajak Suci untuk
berteduh. Maira sama sekali tak beranjak, padahal dalam waktu yang lama ia sudah berada di bawah guyuran air
hujan.
“Tuan mu, ninggalin aku. Dia memilih sama tunangan nya.”ucap
Maira bersusah payah
“Nona, aku mengerti perasaan mu, tapi aku di sini bukan
berpihak padamu.” Ucapan Suci membuat Maira menarik diri dari pelukannya
“Nona Sasha adalah tunangan tuan Garra, di sini nona Maira
lah yang menjadi pihak ke tiga.” Beritahu Suci yang membuat Maira membulatkan
matanya kaget.
guys kalo suka like dan comen yah vote juga, oke, itu semua kan gratis wkwkwk
__ADS_1
dan pliss lah author gak mau pindah lapak ini cerita