Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
siapa peduli


__ADS_3

Sesak rasanya, sangat sesak, karena di perlakukan seperti


ini. Dua bulan bukan lah waktu yang lama, apalagi dirinya sering tinggalkan Garra,


di brescout.


“Hahha, dalam waktu sesingkat itu banyak hal yang sudah


terjadi, sangat sulit jika aku katakan, aku tidak bergantung padanya.” Tangis Maira


meratapi dirinya yang sedang merasa sakit


“Dalam dua bulan, hiks, dalam dua bulan aku bersama dia, dengan


dirinya sang bos, tenyata banyak yang sudah terjadi, aku a- aku mulai mencintai


nya, hiks hiks hiks.” Rasanya Maira sangat terpukul harus menghadapi hal ini


Memeluk diri yang tengah bersandar di dinding membuat Maira


sadar kalau ternyata dirinya di dunia ini hanya sendiri. Tak ada yang benar


benar menginginkannya.” Huaaakkkkk.” Teriak Maira ingin menghentikan waktu.


Air matanya terus jatuh dengan lancar, terbaring  di lantai yang dingin nya masuk ke dalam


tulang membuat, Maira tersenyum untuk beberapa saat.


Kini Maira mengerti bagaimana rasanya tak di anggap,


bagaimana rasanya di jadikan pelarian, bagaimana hatinya sudah bukan atas


dirinya.  Menutup mata perlahan, air


matanya kembali menetes sempura mengenai luka di wajahnya. Bahkan Maira tak


merasakan perih, situasinya sekarang benar benar membuat hatinya mati rasa.


“Besok semua akan baik baik saja, anggap ini hanya mimpi


buruk Maira.” Mengatakan pada dirinya sendiri


Sampai Maira terlelap di lantai yang dingin.


Pagi  harinya Maira


terbangun, karena sinar matahari yang menyapa matanya.  Suara panggilan dari ponsel Maira juga


terdengar. Tas yang semalam di lemparkan Garra ke sembarang arah membuat Maira


mencarinya di pagi hari.


Menemukanya di dekat ranjang dengan gerakan melambat Maira


segera menyahut panggilan itu.


“Maira, kenapa baru di angkat sih.” Sahut Snefia dengan


cemas.


“Maaf, aku ketiduran.” Sahut Maira bersuara serak

__ADS_1


“Yaudah sekarang kamu agak cepetan soalnya besok kan, gaunnya


harus udah rampung.” Cerca Snefia


“Ia,” Maira memusatkan panggilan telfon nya secara sepihak


Maira melemparkan handphonenya ke sembarang arah, dirinya


kembali menangis, terisak bahkan beberapa kali tak bersuara.


“Siapa pun tolong aku, aku butuh seseorang yang bisa ngertiin


aku.”  Hiks hiks hiks memeluk kembali


dirinya, paham kalau sekarang, dan memang sebelum nya, dirinya selalu


sendirian.  “ hiks hiks rasanya sesak,


gak enak.”  ucap Maira meremas dadanya


dengan kuat, sambil terisak.


Hari yang suram itu membuat Maira tak pergi ke kantor,


memutuskan untuk tetap berada di rumah, saat ini dirinya duduk di balkon kamar


memandang pemandangan, di mana dua orang pasangan orang tua tengah saling


berbincang menikmati secangkir teh di teras rumah.


Maira menatap nya dengan tatapan kosong. Tak lama cuaca yang


tadinya cerah menjadi mendung, lalu gerimis datang . Maira sedikitpun tak


sendiri enggan beranjak dan masih tetap bertahan di tempat nya.


Bersilang tangan, lalu tersenyum hingga deretan giginya yang


rapi itu terlihat begitu indah di pandangan mata, tak dapat di pastikan apakah


itu air mata atau air hujan yang kebetulan membasahi seluruh tubuhnya, mereka


terlihat sama, namun sebenarnya berbeda.


Sama seperti dirinya dan Sasha, mereka sama sama wanita


namun mereka adalah orang yang berbeda. Yang ada di pikiran Maira saat ini


adalah, kenangan dirinya bersama dengan Malik saat kedua orang tuanya masih


ada, mereka sangat bahagia, semua tercukupi Maira bahkan memiliki apa yang dia


mau, begitu pun dengan Malik memiliki banyak kawan memakai merk yang cukup


terkenal.


Hujan membuat kenangan terlintas lebih dalam lagi, bermain


hujan dengan Malik saat masih SMP hingga besok nya mereka berdua sakit. Kenangan


itu membuat deretan gigi Maira terlihat jelas semakin nampak, dan hal ini bisa

__ADS_1


di artikan kalau Maira sangat sangat terpukul.


Mematung dengan tegak mencoba menerima apa yang sudah


terjadi, membiarkan air hujan dengan sengaja jatuh di wajahnya. Mau tak mau,


ingin tak ingin, memang harus di hadapi.  Membuang kasar nafasnya berharap semua


kesedihannya pergi. Namun itu hanya sesat setelah itu perasaan aneh itu datang


lagi, Ingin rasanya Maira kembali pada bik Sima orang tua angkatnya. Tapi


mengingat alasan waktu dirinya menikah adalah berkuliah di luar negri karena


beasiswa membuat ia harus menahan langkah kakinya  berkunjung untuk sebuah pelukan dari bik Sima.


Setiap kenangan yang terlintas harus di bayar dengan air


mata, semakin dalam keinginan ingin kembali, maka semakin besar pula air mata


yang harus di keluarkan.


Isak tangis Maira yang di barengi dengan tawa membuat sangat


sulit untuk dirinya sendiri. Sampai suara seseorang membuat nya memalingkan


wajahnya.


“Nona maira.” panggil Suci mendekat lalu memeluk Maira


Maira tersenyum menatap Suci yang melangkah padanya, lalu


memeluk erat tubuhnya di bawah guyuran hujan yang lebat itu.


“Suci” memeluk erat sambil terisak . Suci paham dengan


posisi Maira. Bahkan dirinya di utus menemui Maira pun atas perintah


seseorang.


“Nona, lukanya harus di obati dulu.” Ajak Suci untuk


berteduh. Maira sama sekali tak beranjak, padahal dalam waktu yang  lama ia sudah berada di bawah guyuran air


hujan.


“Tuan mu, ninggalin aku. Dia memilih sama tunangan nya.”ucap


Maira bersusah payah


“Nona, aku mengerti perasaan mu, tapi aku di sini bukan


berpihak padamu.” Ucapan Suci membuat Maira menarik diri dari pelukannya


“Nona Sasha adalah tunangan tuan Garra, di sini nona Maira


lah yang menjadi pihak ke tiga.” Beritahu Suci yang membuat Maira membulatkan


matanya kaget.


guys kalo suka like dan comen yah vote juga, oke, itu semua kan gratis wkwkwk

__ADS_1


dan pliss lah author gak mau pindah lapak ini cerita


__ADS_2