
Garra memasuki, halaman Brescout dengan laju mobil yang di
kendarai nya memaksakan agar bisa sampai cepat di rumah, Garra ingin meminta
maaf kepada Maira, sesegera mungkin.
Suhu tubuh Garra semakin panas, hingga menaiki tangga,
membuat nya kesulitan, dan harus bersusah payah dulu baru bisa sampai di
kamar mereka.
Garra memutar gagang pintu, kepala nya semakin terasa
pusing, matanya berkunang hingga saat pintu terbuka dirinya ambruk tepat saat
Maira akan keluar.
dengan begitu tubuh
Garra yang akan ambruk dengan cekatan di peluk oleh Maira.
“Tuan Garra.” Sahut Maira kaget
dengan menyangga tubuh Garra.
“Ya ampun badan anda panas sekali.’ Membawa Garra ke atas ranjang.
Maira membaringkan Garra, dengan hati hati, lalu mengambil
kompres untuk meredakan panas Garra.
“Apa tuan sudah makan.” Tanya Maira di tengah tengah meremas
handuk dengan air dingin.
Tak ada jawaban, Garra kelelahan hingga tak menjawab
pertanyaan itu, Maira kembali memeriksa denyut nadi Garra, lalu menempelkan
telinga nya di dekat dada Gara, untuk fokus mendengarkan detakan jantung Garra.
Maira mencoba menghitung detak jantung Garra selama satu
menit, jauh dari kata normalnya Maira jadi sedikit khawatir.
Tidak sampai 60 apalagi 100 dalam satu menit, terlalu lemah bahkan Maira mengulang beberapa kali untuk memastikan nya tapi tak ada yang mendekati kedua angka di atas. kalau bukan 20 pasti hanya 23 saja.
terlalu lemah bukan!
Bingung apa yang
harus ia lakukan. Maira memegang tangan Garra yang hangat, mencoba memberikan
__ADS_1
energi, namun sudut bibir terangkat mendengar suara perut Garra.
Suara itu membuat Maira tersenyum. Lalu beranjak sebelum di
letakan tangan Garra di di atas Kasur.
Maira menatap sekilas pada Garra sebelum ia meninggalkan
untuk ke dapur namun suara Garra membuat senyuman di wajah Maira hilang.
“Sasha ….” Gumam Garra tanpa sadar.
Tubuh Maira gemetar, langkah kakinya kaku, matanya mulai
berair, dadanya kembali terasa sesak, beberapa kali Maira menghembuskan
nafasnya kasar.
Mencoba untuk bicara, dengan dada yang terasa sesak sebelum
meninggalkan Garra yang sedang terbaring. “ Aku tinggal ke dapur dulu tuan.”
Sahut Maira dengan hati yang seakan di remas kuat, rasanya sakit.
Mencoba berdamai dengan situasi, yang baru saja terjadi.
Melakukan aktifitasnya di dapur, yaitu membuatkan bubur untuk Garra. Maira
mencuci beras dengan deru perasaan yang tidak nyaman.
mengalir di wajahnya, dengan tangan gemetar.
“Jangan lupa dengan statusmu Maira.” Gumam Maira pada
dirinya sendiri sebelum ia menyiapkan bubur yang hampir masak itu.
Hati siapa yang tak sakit mendengar nama wanita lain di
sebut oleh seseorang yang berstatus suaminya itu. memang dari awal hubungan mereka sudah salah bukan, tidak seharusnya
saling menyimpan perasaan tapi, manusia mana yang dapat menahan yang namanya
perasaan.
Ingat dedaunan saja tak lepas dari pantauan nya, apalagi perasaan seorang manusia.
Setelah menyiapkan bubur Maira bergegas kembali ke kamar,
membawakan bubur untuk tuan Garra.
Saat Maira membuka pintu, Garra terlihat akan bersandar di
kepala ranjang yang empuk itu.
__ADS_1
“Anda sudah bangun tuan." Tanya Maira mendekat dan meletakan
nampan berisi bubur di meja, lalu membantu Garra yang akan duduk bersandar.
'Aku sudah menyiapkan bubur, nanti setelah di makan, tuan
boleh minum obat.” Ujar Maira menjelaskan setelah membantu Garra bersandar.
Maira mengambil mangkok bubur lalu menyuapi Garra, perlahan.
Dan entah kenapa suasana nya terasa canggung, jika hanya Maira mungkin wajar
karena ucapan Garra yang tadi, membuat ia harus sadar dengan posisi nya tapi
bagaimana mungkin, seorang Garra wiliam menjadi peka dengan situasi, apa yang sudah membuatnya seperti itu?
Bubur habis di lahap oleh Garra, tanpa sisa.
“Anda bisa menelfon sekertaris Rama, untuk meminta obat,
aku tidak tahu harus membelikan anda obat apa.” Jelas Maira memberikan air
minum.
“Gak perlu, aku sudah enakan.” Sahut Garra memperhatikan
Maira.
“Baiklah.” Mengemasi peralatan makan Garra “ Emm apa anda
perlu sesuatu tuan.” Tanya Maira sebelum kembali ke dapur.
“Tidak.” Lanjut Garra berkata “ Cepat lah kembali, aku
memerlukan tubuhmu.” Sahut Garra menghindari tatapan Maira.
“Ah baik tuan.” Sahut Maira memaksakan senyum.
Maira berjalan menuju dapur, air mata sialan itu kembali
menetes dengan sempurna. “Penghangat ranjang rupanya.” Gumam Maira yang terus
saja merasa sakit di hatinya.
Yah namanya juga pernikahan kontrak, maka tak bisa mengatas
namakan cinta dan perasaan karena hitam di atas putih.
Di dapur Maira mengompres matanya sejenak dengan air es, tak
mau ketahuan Garra kalau dirinya habis menangis.
"Kayaknya segini udah gak kelihatan deh.” Gumam Maira
__ADS_1
memperhatikan wajahnya di cermin