
“Maira larasati.” Gumam Ellyana dengan tatapan tajam,
mengangkat alis nya
Kembali teringat di benak Ellyana, di mana dirinya mencari
tahu tentang keluarga Maira setelah bertemu Bian.
Mungkin di sini kalian bisa menebak, alasan pertemuan Maira
dan Garra?
Apakah semua terjadi begitu saja seperti alur awalnya? Atau ada
maksud tan tujuan tertentu di baliknya?
Jika kalian tak punya pekerjaan, cobalah jawab teka teki nya.
Setelah kepergian Garra dan Maira. Ellyana segera, keluar
dari dalam mobil lalu membopong Bian, dan meninggalkan Malik seorang diri,
karena sirine polisi sudah terdengar dan dirinya tak ada waktu untuk
menyelamatkan Malik.
Duduk dengan khawatir, di ruangan tunggu membuat Ellyana
menjadi wanita tak sabar untuk mengetahui kondisi Bian di dalam sana, walaupun
seorang dokter, tidak menutup kemungkinan jika yang sakit adalah orang terdekat membuat siapa pun
atau apapun pangkatnya akan menjadi khawatir.
Ellyana terus menerus memacu otaknya untuk berfikir, karena tak aman, di sini saat yang di
kutik adalah Garra, Ellyana adalah ponakan nya, tapi Garra tak akan segan segan
melemparkan Bian sang suami ke tempat yang teramat jauh.
Pikiran Ellyana kembali teringat dengan rumor di mana Bian
yang mengacaukan acara Nicolas waktu itu, dan Garra melihatnya tapi kenapa?
Kenapa Garra tak melakukan sesuatu padanya, padahal saat itu Maira sudah
berstatus menjadi istrinya.
Ellyana mulai tak tenang, bukan tentang masalah
itu, tapi lebih ke nasib mereka nanti. Mengingat garra adalah orang yang kejam.
Dan mereka berani menggangu dengan terang terangan.
Ellyana kembali mengambil ponsel Bian dari dalam tas nya,
yang di masukan nya tadi sewaktu masuk ke dalam ruangan icu.
__ADS_1
Bian bukan lah orang yang rumit, dan sedikit pelupa makanya
handphone miliknya tak di pakaikan kode.
Jari Ellyana menekan kearah panggilan, dan nama beberapa
kolega Ada di daftar panggilan dan juga sekertaris kantornya. Namun mata Ellyana
mengarah ke nama yang tak asing yaitu Maira ada di daftar panggilan nya,
sementara nama nya sendiri tak pernah
ada, bahkan nomor Ellyana tak di save oleh Bian.
Sesak dada Ellyana membacanya, mata nya mulai berair seolah
tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya tak pernah di anggap.
“Mungkin dirinya tak membuat ku khawatir.” Gumam Ellyana
tersenyum
Namun setelahnya Ellyana menghapus bulir air mata dengan
kasar.
Sampai beberapa jam Ellyana terdiam, menunggu kesadaran
Bian, jauh lebih menarik perhatian nya sebelum dirinya, berniat memberi
perhitungan dengan seseorang, tapi siapa?
Di mobil Garra membawa Maira ke sebuah tempat yang
terpencil, perjalanan mereka cukup jauh dari kota, sepanjang perjalanan Maira
tertidur, namun di saat ia merasakan udara dingin, dirinya mulai terbangun dan
sadar melihat sekeliling yang tak ada rumah atau apapun selain pepohonan yang
hijau.
Mobil itu membawa mereka memasuki gerbang besar yang sudah
tua, namun terlihat sangat terawat. Maira menampakkan aura ketakutan, meremas
kuat lati sead bell, jantung mulai berdegup kencang pandangan waspada, namun
mencoba menenangkan diri.
“Kita di mana.” Ucap Maira mencoba mencairkan suasana.
Oh dia masih marah, tenang Maira dia tak mungkin membunuhmu.
Gumam Maira melipat bibirnya masuk ke dalam.
Aura Garra belum sepenuhnya pudar, masih ada sisa
__ADS_1
kemarahan, di wajahnya yang terlihat dari sorot mata yang tajam itu.
Gara berputar pada jalanan yang ada di dalam area rumah
besar itu dengan, kecepatan sedang, sampai mereka berhenti tepat di sebuah
taman belakang rumah yang indah. Namun terkesan horor.
Mesin mobil di matikan, Garra terlihat menghela nafas
panjang menundukkan pandangan sebelum kembali menatap jalanan.
‘Kita akan bercerai.” Ucap Garra menatap rendah Maira yang
saat itu sedang tersenyum padanya.
Deg jantung Maira berpacu tanpa pemanasan saat mendengar
ucapan barusan. Entah kenapa hati yang ketakutan tadi seperti akan menangis, rasanya
jadi sesak, tubuh Maira merinding dan sedikit gemetar.
Bersusah payah baru bisa menelan ludah nya sendiri,
berusaha menampilkan senyuman yang baru
saja pudar dengan bibir bergetar.
Maira bangkit dari tempat duduk nya mendekat pada Garra dan
membisikan sesuatu
“Kalau tuan sudah bilang begitu, artinya aku menang karena
sebentar lagi aku bebas.” Sahut Maira mengalungkan tangan nya di leher Garra
dengan tingkah yang aneh.
“Kau memang murahan.” Ucapan itu lagi lagi Garra lontarkan
untuk seorang gadis umur 22 tahun.
“Aku pikir kau akan mengeluarkan air mata.” Lanjut Garra
berkata “ kau memang tidak pernah mencintaiku.” Dengan emosi menginjak gas dan
kembali berlalu dari tepat sejuk itu.
Maira hanya bisa kembali duduk dengan menahan tubuhnya yang
gemetar, sangat gemetar sampai mengigit bibir nya hingga mengeluarkan darah segar
tanpa Maira sadari, sebelum ia merasakan sesuatu yang aneh di mulut nya.
“Uhh." keluh Maira saat merasakan darah di lidahnya.
Garra meliriknya, dan menekan tombol otomatis
__ADS_1
agar mobil itu dapat mengemudi dengan cerdas