Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
kenyataan nya


__ADS_3

“Maira larasati.” Gumam Ellyana dengan tatapan tajam,


mengangkat alis nya


Kembali teringat di benak Ellyana, di mana dirinya mencari


tahu tentang keluarga Maira setelah bertemu Bian.


Mungkin di sini kalian bisa menebak, alasan pertemuan Maira


dan Garra?


Apakah semua terjadi begitu saja seperti alur awalnya? Atau ada


maksud tan tujuan tertentu di baliknya?


Jika kalian tak punya pekerjaan, cobalah jawab teka teki nya.


Setelah kepergian Garra dan Maira. Ellyana segera, keluar


dari dalam mobil lalu membopong Bian, dan meninggalkan Malik seorang diri,


karena sirine polisi sudah terdengar dan dirinya tak ada waktu untuk


menyelamatkan Malik.


Duduk dengan khawatir, di ruangan tunggu membuat Ellyana


menjadi wanita tak sabar untuk mengetahui kondisi Bian di dalam sana, walaupun


seorang dokter, tidak menutup kemungkinan  jika yang sakit adalah orang terdekat membuat siapa pun


atau apapun pangkatnya akan menjadi khawatir.


Ellyana terus menerus  memacu otaknya untuk berfikir, karena tak aman, di sini saat yang di


kutik adalah Garra, Ellyana adalah ponakan nya, tapi Garra tak akan segan segan


melemparkan Bian sang suami ke tempat yang teramat jauh.


Pikiran Ellyana kembali teringat dengan rumor di mana Bian


yang mengacaukan acara Nicolas waktu itu, dan Garra melihatnya tapi kenapa?


Kenapa Garra tak melakukan sesuatu padanya, padahal saat itu Maira sudah


berstatus menjadi istrinya.


Ellyana mulai tak tenang, bukan tentang masalah


itu, tapi lebih ke nasib mereka nanti. Mengingat garra adalah orang yang kejam.


Dan mereka berani menggangu dengan terang terangan.


Ellyana kembali mengambil ponsel Bian dari dalam tas nya,


yang di masukan nya tadi sewaktu masuk ke dalam ruangan icu.

__ADS_1


Bian bukan lah orang yang rumit, dan sedikit pelupa makanya


handphone miliknya tak di pakaikan kode.


Jari Ellyana menekan kearah panggilan, dan nama beberapa


kolega Ada di daftar panggilan dan juga sekertaris kantornya. Namun mata Ellyana


mengarah ke nama yang tak asing yaitu Maira ada di daftar panggilan nya,


sementara nama  nya sendiri tak pernah


ada, bahkan nomor Ellyana tak di save oleh Bian.


Sesak dada Ellyana membacanya, mata nya mulai berair seolah


tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya tak pernah di anggap.


“Mungkin dirinya tak membuat ku khawatir.” Gumam Ellyana


tersenyum


Namun setelahnya Ellyana menghapus bulir air mata dengan


kasar.


Sampai beberapa jam Ellyana terdiam, menunggu kesadaran


Bian, jauh lebih menarik perhatian nya sebelum dirinya, berniat memberi


perhitungan dengan seseorang, tapi siapa?


Di mobil Garra membawa Maira ke sebuah tempat yang


terpencil, perjalanan mereka cukup jauh dari kota, sepanjang perjalanan Maira


tertidur, namun di saat ia merasakan udara dingin, dirinya mulai terbangun dan


sadar melihat sekeliling yang tak ada rumah atau apapun selain pepohonan yang


hijau.


Mobil itu membawa mereka memasuki gerbang besar yang sudah


tua, namun terlihat sangat terawat. Maira menampakkan aura ketakutan, meremas


kuat lati sead bell, jantung mulai berdegup kencang pandangan waspada, namun


mencoba menenangkan diri.


“Kita di mana.” Ucap Maira mencoba mencairkan suasana.


Oh dia masih marah, tenang Maira dia tak mungkin membunuhmu.


Gumam Maira melipat bibirnya masuk ke dalam.


Aura Garra belum sepenuhnya pudar, masih ada sisa

__ADS_1


kemarahan, di wajahnya yang terlihat dari sorot mata yang tajam itu.


Gara berputar pada jalanan yang ada di dalam area rumah


besar itu dengan, kecepatan sedang, sampai mereka berhenti tepat di sebuah


taman belakang rumah yang indah. Namun terkesan horor.


Mesin mobil di matikan, Garra terlihat menghela nafas


panjang menundukkan pandangan sebelum kembali menatap jalanan.


‘Kita akan bercerai.” Ucap Garra menatap rendah Maira yang


saat itu sedang tersenyum padanya.


Deg jantung Maira berpacu tanpa pemanasan saat mendengar


ucapan barusan. Entah kenapa hati yang ketakutan tadi seperti akan menangis, rasanya


jadi sesak, tubuh Maira merinding dan sedikit gemetar.


Bersusah payah baru bisa menelan ludah nya sendiri,


berusaha  menampilkan senyuman yang baru


saja pudar dengan bibir bergetar.


Maira bangkit dari tempat duduk nya mendekat pada Garra dan


membisikan sesuatu


“Kalau tuan sudah bilang begitu, artinya aku menang karena


sebentar lagi aku bebas.” Sahut Maira mengalungkan tangan nya di leher Garra


dengan tingkah yang aneh.


“Kau memang murahan.” Ucapan itu lagi lagi Garra lontarkan


untuk seorang gadis umur 22 tahun.


“Aku pikir kau akan mengeluarkan air mata.” Lanjut Garra


berkata “ kau memang tidak pernah mencintaiku.” Dengan emosi menginjak gas dan


kembali berlalu dari tepat sejuk itu.


Maira hanya bisa kembali duduk dengan menahan tubuhnya yang


gemetar, sangat gemetar sampai mengigit bibir nya hingga mengeluarkan darah segar


tanpa Maira sadari, sebelum ia merasakan sesuatu yang aneh di mulut nya.


“Uhh." keluh Maira saat merasakan darah di lidahnya.


Garra meliriknya, dan menekan tombol otomatis

__ADS_1


agar mobil itu dapat mengemudi dengan cerdas


__ADS_2