
Baru beberapa menit yang lalu Maira menginginkan ada
seseorang yang datang untuk mengerti
dirinya, namun untuk di menit berikutnya seseorang yang datang itu bukan untuk,
berpihak padanya melainkan untuk mengingatkan posisinya yang sebenarnya.
Bibir maira terkatup, pandangan nya mulai kabur untuk
beberapa langkah, dirinya menjauh dari Suci, kembali menarik nafas, lalu
menghembuskan nafas nya, untuk beberapa kali, menahan air matanya yang akan jatuh. Maira
terlihat mengangguk beberapa kali sebelum membersihkan cairan yang keluar dari hidungnya
sebelum kembali menatap Suci.
“Nona aku tahu, perasaan anda saat ini.” Ucap Suci mulai mendekat
“Kamu benar, gak semestinya aku yang menjadi korban. Aku
udah rusak kin hubungan dua orang yang saling mencintai.” Maira kemudian tertawa
dengan air mata yang tetap mengalir membelakangi Suci.
“.enurut kamu, hukuman apa yang pantas untuk orang
sepertiku.” Ucap Maira menghadap Suci, dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Pernikahan nona dan tuan Garra hanya status kontrak, gak
baik membawa perasaan ke dalam hubungan itu.” Beritahu Suci kembali mematung
menatap Maira.
“Benarkah.! Bibir Maira terlihat bergetar saat berucap.
“Menurutmu apa yang harus aku lakukan selanjutnya.” Tanya Maira
memaksa wajahnya untuk tersenyum
"Tahan perasaan nona, anggap saja ini seperti sebuah permainan.”
Berjalan mendekati Maira
“Bersikap seperti semestinya, lalu pergi seperti hubungan
ini tak pernah ada. Tuan Garra berpesan seperti itu.” Mengusap lembut puncak
__ADS_1
kepala Maira.
Maira membulatkan matanya mendengar ucapan Suci. Oh tidak, tapi, lebih tepatnya nama orang yang suci sebutkan.
Garra
“Dengan begitu, nona maupun tuan Garra tak akan ada yang
tersakiti.” Lanjut Suci berkata dengan jelas.
Untuk beberapa saat Maira mematung mendengarkan nasehat dari
Suci, sebelum memberikan tatapan setuju dengan nasehat Suci.
“Akan aku lakukan, itu bukan ide yang buruk.” Ucap Maira
memeluk erat tubuh Suci, dan kini dirinya menangis tanpa suara.
Hinga Maira hilang kesadaran.
“Tidak buruk kan , jika itu terjadi.” Ucap seseorang
mendekat dan membantu Suci mengangkat tubuh Maira.
Malam harinya saat Maira siuman, ia mencium bau segnifikan
alcohol. Menatap sekeliling suasana
“Kamu udah sadar.? Reina mengagetkan Maira yang terlihat
kebingungan.
Reina berjalan mendekat membawa nampan makanan pada maira.
“Reina, ini dimana.” Memegang kepalanya yang terasa
pusing mencoba untuk bangun.
“Lupa kejadian, tapi gak lupa aku kan.” Membantu Maira duduk.
“Kita di mana. Rumah sakit.! Tanya Maira yang memucat.
“Seharusnya aku yang nanya.” Mengaduk bubur
“Kamu sakit apaan sampe gak sadar gitu, aku ketakutan tahu.”
Menyuapi Maira
“Aku cuman, kecapean aja.”sahut Maira dengan ekspresi
__ADS_1
bingung.
“Tekanan batin, hipotermia dan kenapa di wajah mu ada kaca
yang tertancap.” Protes Reina menunggu jawaban.
Maira tersenyum mendengar pertanyaan Reina, menatap kedua
mata dengan tatapan rasa sayang.
“Uuunnccccc, khawatir banget yah sama aku, ini tuh karena
aku nolongin ibu ibu pas di rampok.” Ujar Maira yang kemudian enggan menatap
mata Reina.
“Benarkah? Wah Maira ku ternyata gak berubah yah, masih aja
tetap baik hati.” Salut Reina mendekat seakan ingin memeluk Maira
“Tapi, sejak kapan Maira ku ini pandai berbohong.”bisik
Reina melirik tajam tatapan mata Maira.
“Kalau kamu belom mau cerita oke gak apa apa! Tapi, jangan
di pendam sendirian yah.” Menyuapi Maira makan
Maira pun membuka mulutnya sambil menahan air matanya untuk
keluar. Mengunyah makanan dengan dada yang terasa sesak bukan hal mudah apalagi
harus menangis dalam diam.
“Kamu tahu, besok aku sudah harus sehat.” Ujar Maira berkaca
kaca
“aAlasanya.” Menyuapi Maira lagi
“Untuk pertama kalinya aku ingin melihat hasil rancangan ku
sendiri di pakai orang.” Sahut Maira tak sabar
“Emang pekerjaan penting banget yah? Kamu tuh masih sakit
tahu.” Memberi pengertian
“Emang kamu mau nanggung biaya beasiswa aku nanti.”
__ADS_1
Mengedipkan matanya menatap Reina.