Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
seseorang di pihak lain


__ADS_3

Baru beberapa menit yang lalu Maira menginginkan ada


seseorang yang datang  untuk mengerti


dirinya, namun untuk di menit berikutnya seseorang yang datang itu bukan untuk,


berpihak padanya melainkan untuk mengingatkan posisinya yang sebenarnya.


Bibir maira terkatup, pandangan nya mulai kabur untuk


beberapa langkah, dirinya menjauh dari Suci, kembali menarik nafas, lalu


menghembuskan nafas nya, untuk beberapa kali, menahan air matanya yang akan jatuh. Maira


terlihat mengangguk beberapa kali sebelum membersihkan cairan yang keluar dari hidungnya


sebelum kembali menatap Suci.


“Nona aku tahu, perasaan anda saat ini.”  Ucap Suci mulai mendekat


“Kamu benar, gak semestinya aku yang menjadi korban. Aku


udah rusak kin hubungan dua orang yang saling mencintai.” Maira kemudian tertawa


dengan air mata yang tetap mengalir membelakangi Suci.


“.enurut kamu, hukuman apa yang pantas untuk orang


sepertiku.” Ucap Maira menghadap Suci, dengan senyuman lebar di wajahnya.


“Pernikahan nona dan tuan Garra hanya status kontrak, gak


baik membawa perasaan ke dalam hubungan itu.” Beritahu Suci kembali mematung


menatap Maira.


“Benarkah.! Bibir Maira terlihat bergetar saat berucap.


“Menurutmu apa yang harus aku lakukan selanjutnya.” Tanya Maira


memaksa wajahnya untuk tersenyum


"Tahan perasaan nona, anggap saja ini seperti sebuah permainan.”


Berjalan mendekati Maira


“Bersikap seperti semestinya, lalu pergi seperti hubungan


ini tak pernah ada. Tuan Garra berpesan seperti itu.” Mengusap lembut puncak

__ADS_1


kepala Maira.


Maira membulatkan matanya mendengar ucapan Suci. Oh tidak, tapi, lebih tepatnya nama orang yang suci sebutkan.


Garra


“Dengan begitu, nona maupun tuan Garra tak akan ada yang


tersakiti.” Lanjut Suci berkata dengan jelas.


Untuk beberapa saat Maira mematung mendengarkan nasehat dari


Suci, sebelum memberikan tatapan setuju dengan nasehat Suci.


“Akan aku lakukan, itu bukan ide yang buruk.” Ucap Maira


memeluk erat tubuh Suci, dan kini dirinya menangis tanpa suara.


Hinga Maira hilang kesadaran.


“Tidak buruk kan , jika itu terjadi.” Ucap seseorang


mendekat dan membantu Suci mengangkat tubuh Maira.


Malam harinya saat Maira siuman, ia mencium bau segnifikan


alcohol. Menatap sekeliling  suasana


“Kamu udah sadar.? Reina mengagetkan Maira yang terlihat


kebingungan.


Reina berjalan mendekat membawa nampan makanan pada maira.


“Reina, ini dimana.” Memegang kepalanya yang terasa


pusing mencoba untuk bangun.


“Lupa kejadian, tapi gak lupa aku kan.” Membantu Maira duduk.


“Kita di mana. Rumah sakit.! Tanya Maira yang memucat.


“Seharusnya aku yang nanya.” Mengaduk bubur


“Kamu sakit apaan sampe gak sadar gitu, aku ketakutan tahu.”


Menyuapi Maira


“Aku cuman, kecapean aja.”sahut Maira dengan ekspresi

__ADS_1


bingung.


“Tekanan batin, hipotermia dan kenapa di wajah mu ada kaca


yang tertancap.” Protes Reina menunggu jawaban.


Maira tersenyum mendengar pertanyaan Reina, menatap kedua


mata dengan tatapan rasa sayang.


“Uuunnccccc, khawatir banget yah sama aku, ini tuh karena


aku nolongin ibu ibu pas di rampok.” Ujar Maira yang kemudian enggan menatap


mata Reina.


“Benarkah? Wah Maira ku ternyata gak berubah yah, masih aja


tetap baik hati.” Salut Reina mendekat seakan ingin memeluk Maira


“Tapi, sejak kapan Maira ku ini pandai berbohong.”bisik


Reina melirik tajam tatapan mata Maira.


“Kalau kamu belom mau cerita oke gak apa apa! Tapi, jangan


di pendam sendirian yah.” Menyuapi Maira makan


Maira pun membuka mulutnya sambil menahan air matanya untuk


keluar. Mengunyah makanan dengan dada yang terasa sesak bukan hal mudah apalagi


harus menangis dalam diam.


“Kamu tahu, besok aku sudah harus sehat.” Ujar Maira berkaca


kaca


“aAlasanya.” Menyuapi Maira lagi


“Untuk pertama kalinya aku ingin melihat hasil rancangan ku


sendiri di pakai orang.” Sahut Maira tak sabar


“Emang pekerjaan penting banget yah? Kamu tuh masih sakit


tahu.” Memberi pengertian


“Emang kamu mau nanggung biaya beasiswa aku nanti.”

__ADS_1


Mengedipkan matanya menatap Reina.


__ADS_2