
“Apa kau menganggapku barang.” Maira berteriak dengan kesal.
Seperti dejavu di mana Maira berlari keluar dari Gedung
dengan hati yang Kembali terkoyak.
Ada apa ini sebenarnya?
Bersamaan dengan perginya Maira, Nadia mengikuti perginya
istri dari sang bos.
Keteganganya di mulai dalam Gedung yang tadinya di jadikan
tempat mengucap janji sacral kini berubah,menjadi sedikit menegangkan.
Omar berdiri dari duduknya dengan sedikit kesal. Membuang
punting rokoknya ke sembarang arah.
“Rupanya kau sudah bosan bernafas. Maaf sudah meremehkanmu”
Kata Omar. Tak ada kata takut melihat banyak senjata yang mengarah padanya.
“Serang mereka.” Kata Bian dengan tatapan tajam. Seketika
banyaknya penjaga mulai menyerang satu sama lain. Sementara Omar mematahkan
tangan pengawal Bian yang mulai menyodongnya dengan senjata.
Dorrr.
Melepas keluar dengan suara menggelegar, peluruh hampir
mengenai kaki Bian yang tengah berjalan.
“Oh tidak kena rupanya.” Ucap Omar meledek.
Bian berhenti lalu berbalik pelan dengan tatapan murka.
“Jangan uji batas kesabaraan ku.” Kata Bian penuh emosi
dengan wajah memucat pasi.
“Mayat hidup,seharusnya berbaring di tutupi kain putih.”
Kata Omar. “Aa ini jenis zombie. Sebaiknya di bakar saja.” Kata Omar dengan
setengah wajah kaget yang di buat buat.
“Apa kau pikir aku takut dengan ancaman mu.” Ledek Bian.
Terbawa emosi.
Ucapn Bian berhasil membuat Omar menatap sarkas. Seketika
__ADS_1
berjalan mendekati Bian,bahkan beberapa tembakan menghantap para pengawal yang
mencoba menghentikanya.
Omar menarik kerah baju Bian lalu mendorongnya sampai
punggung itu menghantam kerasnya dinding.
“Katakan di mana Ellyana.” Tatapan mata yang penuh dendam.
Wajah yang memucat milik Bian seketika tertawa tak karuan.
Haha
“Gadis bodoh,penjual informasi. Hahaha.” Ucap Bian,Yang
kemudian menataap Gaara dari balik kepala Omar.
Akhhh. Pekik Bian
Ketika Omar semakin mengeratkan tanganya.
“Aku bukan orang yang sabaran.” Ucap Omar semakin
mengeratkan tanganya di leher Bian.
“Siapa yang membantumu.” Kata Omar menatap kedalam bola
mata Bian.
“Aku tidak paham dengan apa yang kau bicarakan.” Kata Bian
melempar halus bola matanya pada Nevan.
“Ahh, kau yakin tidak paham dengan yang aku ucapkan.” Kata Omar
meledek. “Lalu bagaimaa dengan Wanita tua yang berada di apartemen mewah dengan
kondisi hanya dengan satu ginjal.” Omar terlihat serius dalam mengetakannya
lalu tawa menakutkan selanjutnya.
“Brengsek kau Gaara,jangan mengusik ibuku.” Teriak Bian yang
mencoba lepas dari gengaman Omar.
Gaara menatap Nevan dengan tanda tanya. Nevan mengengguk
membenarkan tatapan Gaara.
Tanpa sepengetahuanya kalau mereka Menyusun rencana.
Ide bagus Omar.!
“Jadi bagaiamana apa kau mau merasakan kiamat lebih dulu.”
__ADS_1
Kata Gaara merapikan kemejanya.
Hikss
Hiks
Hiks
Bian berlutut di hadapan Gaara. Baginya ibu adalah segalanya
setelah Maira.
“Jangan sakiti mereka.” Ucap Bian penuh permohonan.
“Its sooo simple. You know.” Ucap Garra bicara di telinga Bian.
“Jauhi Maira,dan keluargaku. Dengan begitu dunia mu akan aman.
Aku janji.” Kata Gaara beriringan dengan anggukan menatap masuk ke bola mata Bian.
Senyuman Gaara terkesan meledek.
“Tak ada syarat yang simple. Katakan siapa penghianat itu.”
lanjut Omar bicara.
“Aku harap kalian bisa menjamin keselamatan ku.” Kata Bian
dengan taatapan tajam.
“Tuan Ibrahim. Dia mengingkan Wanita seperti Maira.” kata Bian
“Shit.” Umpat Omar.
Sudut bibir Bian tersenyum melihat ke tiga tuan muda itu
terlihat kesal.
Sampai Omar berdiri lalu menghantam kepala Bian dengan ujung
pistol. Mantan suami Ellyana itu tergeletak hingga merasakan dinginya lantai
marmer mewah.
“Apa yang kau rencanakan.” Omar bicara setelah dirinya
menarik Kembali kerah baju Bian.
“Mari kita mati Bersama.” Kata Bian.
Beberapa detik sebelum si jago menelan mereka ke
dalam kobaran api yang besar karena Gedung yang baru saja mereka pijak seketika
meledak
__ADS_1
plot twits :Guys jangan lupa lahan parkirnya yah,like nya itu perlu untuk author biaar lebih semangat. yang baca 1000an yang like gak nyampe 10 lho kok bisa. tolong kalau udah baca tinggalin jejak yah.