
“Tujuan kita sama! Tapi aku tidak mengikuti cara orang lain
bermain.” Garra berkata dengan wajah menggelap.
“Aku mau kita bekerja sama.” Ajak Omar melirik Gara.
“Aku tidak tertarik. Serahkan Maira.” Gara berkata geram dan sarkas.
“Jangan menyeretnya kedalam masalahmu.” Omar mengatakan dengan nada malas. Sebatang rokok menjadi pelarian untuk meredakan emosi.
“Seharusnya aku yang berkata demikian.” Garra menatap dengan menyalakan Omar korek api. Berfikir kalau Garra sebaik itu, kalian salah! Korek api itu merembet hingga mendekati mulut Omar. Dengan Gerakan cepat Omar
membuang rokok yang terbakar habis. Mulutnya perih karena semburan korek api.
Garra tertawa tapi sudut matanya tak berkerut.
Paham maksudnya kan!
“ Ck sudah cinta yah.” Omar bergumam, sudut bibirnya terangkat naik. Tanganya kembai menyalakan sebatang rokok. Omar adalah perokok berat. Ini salah satunya.
Garra meninggalkan villa Omar dengan rasa sedikit lega. Tapi ada sebuah rasa kerinduan yang mendalam di hatinya. Dirinya ingin bertemu dengan Maira. Sekarang! Sayang sekali Omar berada di baliknya. Tentu saja Garra tak bisa membawa Maira Kembali.
“ck.” Garra mengepalkan tinju dengan tangan yang menyangga
dagu. Dirinya tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sepeninggalannya dari vila Omar
raut wajah Gara benar benar tak bersahabat.
Ucapan Omar tentang tentang kejutan seperti sebuah kabar buruk.
“Pulanglah. Ada kejutan yang menantimu.” Garra mendengarkan
dengan seksama ucapan Omar yang ini. Dirinya di usir halus oleh sang pemilik
vila.
Tapi bukan itu masalahnya. Langkah kaki Garra yang baru akan beranjak
pergi. Suara Omar terdengar seperti hembusan angin. Garra bukanlah laki laki
bodoh dengan kosa kata Omar barusan. Garra menarik Gucci yang berdiri indah di
dekat pintu hingga benda itu berakhir menjadi puing puing tak berharga. Itulah
Garra.
Dirinya sangat paham dengan apa yang di ucapkan Omar. Maksud
dari kalimat itu bukanlah makna yang baik. Dirinya sedang berada dalam
permainan Omar.
Laju roda mobil membawa Garra memasuki area brescout.
Perjalan yang memakan waktu itu sangat melelahkan. Mengendarai mobil seorang
diri benar benar menguras tenaga. Apalagi perjalanan bolak balik. Jangan tanya
bagaimana sekarang lelahnya raga jiwa Garra.
Kelelahan! Satu kata yang bisa di gambarkan pada diri Garra
sekarang. Dirinya seperti orang yang tak memiliki masa depan cerah. Mata yang sayup,
raut wajah yang tak menimbulkan rona. Serta aura yang sangat konyol melekat
padanya saat ini.
Memasuki ruangan yang sudah bersih dengan puing puing
retakan membuat Garra tak terlalu memikirkannya. Sekarang dia butuh istirahat
__ADS_1
dari kelelahan mental fisiknya itu.
Siapa yang membereskan kekacauan itu? Entahlah. Mungkin Rama!
Berjalan dengan memaksa langkah kakinya untuk membawa raganya ke kamar. Garra memutar handle pintu. Dirinya ambruk. Masuk kedalam pelukan
gadis yang bertubuh mungil. Maira menyangga tubuh Garra yang akan jatuh.
“Maira.” Panggil Garra yang langsung mengeratkan pelukannya
pada tubuh Maira. Menghirup dalam dalam aroma tubuh gadis dalam pelukannya itu.
“Tuan. Apa anda baik baik saja.” Raut wajah Maira khawatir.
Dirinya seperti takut akan sesuatu. Seketika raga yang kehilangan jiwa itu
meneteskan air mata.
“Aku sedang tidak bermimpi kan.” Garra bicara. Sudut matanya
mengembun sempurna.
“Kamu benar benar nyata kan.” Pelukan Garra semakin erat.
Maira heran dengan 1000 pertanyaan di benaknya.
“Apa ini benar kamu Maira.” Maira mengangguk. “Jangan
pergi.” Garra terisak. “ Ku mohon jangan pergi.” Pinta Garra dengan air mata
yang turun lebih deras.
“Tuan ini aku Maira. Apa yang terjadi dengan mu, tuan.” Maira
bertanya dengan suara terengah-engah. Dadanya sesak, pelukan Garra sangat erat.
Oksigen di paru parunya mulai menipis.
intens ke setiap sudut wajah gadis itu. Mata Gaara membulat lebar. Maira sekarang
berada di depanya. Tak puas hanya menatap wajah cantik itu yang hampir
membuatnya gila. Garra menyambar bibir ranum Maira.
Melu*m*t dengan segera. Benar benar mencari kehangatan yang
luar biasa. Tak hanya sampai di situ Garra sangat menginginkan gadis ini
sekarang. Kemana jiwa yang hilang tadi? Apakah sudah Kembali ke raganya saat
melihat Maira. Oh mungkin saja!
Garra mulai melucuti pakaian Maira satu persatu.
Dilemparkannya kesembarang arah. Hasrat Garra benar sudah di berada di puncak.
Maira merasakan hal aneh pada diri Garra. Dirinya seketika merasa seperti
manekin hidup. Perlakuan Garra yang seenaknya seperti perjanjian tertulis di
ingatan Maira.
Dia bosan selalu berakhir di ranjang dengan sikap Garra. Tak
adanya kelembutan yang Maira rasakan. Garra selalu seenaknya. Hati Maira sakit
kali ini Garra menatapnya dengan tatapan sangat menginginkan.
Apalagi ucapan Garra barusan bernada perintah. Tapi kenapa?
Apakah dia akan menikahi Sasha tanpa menceraikannya. Kalau begitu apa fungsinya
__ADS_1
sebagai istri? Maira frustasi di bawah Garra yang bermain sangat brutal. Maira
bukan alat pemuas *****.
Air mata Maira menetes. Matanya terasa panas. Erangan nya
menggema. Sepertinya bukan karena merasakan nikmat tapi sakit hati. Maira
berteriak agar dadanya yang sekarang sesak bisa merasa lega. Sosok yang berada
di atasnya ini adalah iblis.
“Habis ini aku akan benar benar menceraikanmu tuan. Aku tahu
kau tak akan melakukan hal bejat begini dengan Sasha karena kalian belum resmi
dengan ikatan pernikahan. Hanya saja aku
menjadi pelampiasan Hasrat konyolmu itu tak bisa bersandiwara lebih lama.”
Maira membatin dengan air mata yang terus keluar.
Erangan dan ******* nafas maupun suara menggema di setiap
sudut ruangan. Garra terus mem**** b***ng k***r yang b***at itu ke vag*** Maira
dengan hentakan kasar. Gigitan, remasan cengkraman begitu terasa menyakitkan
kala Maira harus berada di bawah laki laki yang tengah memacu dengan irama
sarkas. Garra tak melakukan kelembutan sama sekali. Dirinya sangat b**s.
Menganggap Maira seperti hewan.
Pejaman mata Maira yang terus mengeluarkan air membuat
dirinya merasa seperti diperkosa.
“Maira.” Garrra memangilnya. ‘E**g’ Maira hanya men***ah
ringan. Menganggap dirinya sudah menjawab panggilan Garra. Tak mau bersuara
yang nantinya akan menyadarkan laki laki itu kalau dirinya menangis. Suara
parau Maira akan membuat Garra paham.
“Besok kau bisa datang Bersama Rama di acara ulang tahun Sasha.” Buk bongkahan batu
besar jatuh kedalam dada Maira. Dirinya seperti tak berharga sama sekali.
Disaat seperti ini, dimana Garra berada di atasnya dia membicarakan soal Sasha.
Apakah Garra membayangkan tubuh Sasha saat Bersama Maira.
Seperti palu yang menancapkan paku di tembok, rasanya sakit.
Perih sekali. Gunung sahara Kembali kering ribuan tahun tak ada hujan bahkan
kini terlihat jelas retaknya.
“Tak perlu dengan Rama. Aku bisa datang sendiri.” Maira
tersenyum dengan suara ringan. Tanpa membuka mata dirinya merasakan sakit hati
yang luar biasa. Keterlaluan.
Alam seperti sedang menghukum gadis itu.
Hay raiders ku yang setia sebelumnya terimakasih sudah menunggu cerita Maira dan Gaara dengan begitu sabar. Maaf karena author jarang update. Sekali lagi maaf yah. kalian bisa lihat cupikan sepenggal kisah mereka di instagram PZAIMA yah.
Berikan tanggapan kalian di bawah soal bab ini. 20 comentar author up doble.
__ADS_1