
"Nona Maira kenapa anda sangat suka membuat tuan Garra meledak." gumam Rama sedikit kesal.
Ia harus menyusuri tempat dan jalanan yang sama lagi dan lagi. Seperti memiliki tempat baru Rama begitu sering mengunjungi apartemen Reina hanya untuk mencari orang yang sama.
Melaju dengan kesal melewati suasana yang menjelang tengah hari membuat Rama terlihat tertekan.
Pria yang penuh misteri ini bukan hanya harus mengurusi tuan Garra melainkan nona Maira dan segalanya keperluannya.
Tatapan tabu nya membawa ia dengan hening menuju apartemen Reina.
Tak dapat di lukiskan lagi bagaimana rasa kesal di benak Rama memuncak. Namun semua itu harus ia tahan di dadanya.
Akhirnya mobil mewah dengan Nomor DN 1 yang entah berapa biaya pajaknya perbulan itu mendarat dengan mulus di depan apartemen Reina.
Beberapa mobil mewah lainya juga ikut berbaris rapi di belakan mobil yang Rama kendarai.
Rama sang asisten pribadi turun dari mobil dengan pakaian lengkap nya makin terlihat sempurna.
Jaz yang menempel indah di tubuhnya membuat ia terlihat seperti bintang film papan atas. Wajah tampan dengan alis tebal benar benar daya tarik sempurna di wajahnya.
Postur tubuh tinggi dengan gaya rambut rapi walaupun badai yang datang tak akan pernah goyah.
Rama berjalan masuk ke dalam apartemen Reina dengan beberapa pengawal yang mengikuti nya dari belakang.
Banyak mata yang melihat ke arah mereka apalagi para wanita yang begitu terpesona dengan Rama dan beberapa pengawal tampan lainya.
Lift membawa mereka tepat di depan pintu apartemen Reina. Di ketuk pelan oleh pengawal sebelum Rama yang mengambil alih untuk mendobrak nya.
Untung nya sebelum Rama yang beralih terlihat Reina sudah membuka pintu dengan wajah sedikit kesal.
__ADS_1
"tok took tok ....." suara ketukan pintu pelan.
"Siapa sih tamu datang jam segini." keluh Reina saat asik mendengarkan curhatan Maira.
Maira begitu suntuk saat ia harus mengangkat kepalanya yang bersandar nyaman pada Reina.
Berjalan dengan kesal bahkan ia ingin berteriak kesal dengan orang yang mengetuk pintunya.
Dan detik itu juga wajah Reina jadi kalem seketika saat pandangan nya bertemu dengan Rama walaupun pintunya tak terbuka lebar.
"May kamu gak pamit yah ke sini." tanya Reina panik.
Maira dengan polos nya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya.
"Gilak apa kamu.! Reina memberikan isyarat lewat gerakan kalau di luar ada Rama sang asisten.
Maira menjadi panik melihat isyarat dari Reina.
Sayangnya Maira terlambat untuk menyembunyikan diri, Rama mulai kesal ia langsung mendobrak pintu apartemen Reina hingga rusak.
"Akkkkkkkhhhhh." teriak Maira dan Reina bersamaan.
Rama mendengus kesal melihat wajah Maira lalu kembali menatap wajah Reina. Tatapan tajamnya seperti akan menusuk mereka berdua.
Rama melonggarkan sedikit dasinya dari leher, sebelum ia bertolak pinggang.
Rama terlihat sedikit frustasi sebelum ia memerintahkan para pengawal untuk ambil tindakan.
Maira di bawah oleh beberapa pengawal bersama Rama, bahkan Reina di jaga oleh beberapa pengawal atas perintah Rama.
__ADS_1
"Kau tak perlu menakuti sahabatku juga." ucap Maira kesal saat ia duduk dalam mobil bersama Rama.
Rama hanya diam tanpa menyahuti ucapan Maira.
"Kau menakuti nya, aku tak mau meninggalkan nya dengan para pengawal mu." mencoba turun dari mobil.
"Nona Maira, aku harap anda paham dengan persyaratan yang sudah anda sepakati bersama." ujar Rama menahan amarahnya.
"Apa anda tahu kejadian apa yang akan terjadi jika tuan Garra yang menjemput anda dengan helikopter nya saat ini." Rama benar benar penuh penekanan saat mengucapkannya.
"Apa anda tahu bagaimana nasib para pekerja di Brescout saat anda melarikan diri." nada bicara Rama mulai pelan banun menusuk.
"Apa anda pernah memikirkan perasaan tuan Garra. Tuan Garra begitu posesif dengan berbagai hal." menatap Maira dari cermin.
Rama kembali teringat bagaimana ia harus berusaha dengan susah payah agar Garra tidak perlu menjemput Maira.
Bahaya jika sampai Garra yang menjemput Maira, akan sangat sulit kalau Garra yang turun tangan.
Brescout 08:39
Mendengar ucapan seorang pekerja yang mengatakan kalau Maira menghilang membuat sang mata elang Garra murka.
tatapan setajam elang dengan rahang tegas itu sedang memberikan penjelasan kalau aura hitam di wajahnya pertanda ia sedang dalam mode bahaya.
"Siapkan helikopter." ujar Garra berjalan keluar dengan berapi-api.
Rama yang paham dengan tindakan Garra membuat ia dalam mode waspada.
Rama memberanikan diri menghadang Garra yang full power itu. Menghalangi jalan Garra yang akan keluar dari pintu.
__ADS_1
Rama mendapatkan tatapan buas dari Garra saat ia merasa dapat perlawanan.
"Kau bosan hidup." mencekik kesal leher Rama.