
“Eeuughh.” Menahan suara yang mendesah ringan
“Kamu sengaja banget buat isu, aku di kira gila.” Sahut
Maira kesal mengingat Garra melakukan tanpa persetujuan nya.
“Eh, kalo mau membuat para netizen bisu, besok publis
hubungan kita.” Tangan Garra semakin lihai di leher Maira yang masih mematung.
“Bahas itu mulu, aku sebenarnya lebih tertarik dengan
tunangan mu yang udah sadar.” Sahut Maira mengesampingkan wajahnya, hingga pipi
Garra melekat di bibirnya.
“Kalian akan segera bertemu, aku akan menjemputnya besok.”
Ucapan itu membuat Maira seperti di sambar petir, matanya menjadi lebar, sesak
di dada nya semakin terasa menyakitkan.
“Lalu apa yang akan aku lakukan, atau apa yang akan
terjadi.” Sahut Maira menundukkan pandangan nya.
“Enngak tahu, yang jelas aku belom ingin cerain kamu.” Sahut
Garra dengan semakin meraba luas.
“Di sini tuan, gak niat mau punya dua istri kan.” Ucap Maira
was was.
“Enggak.” Sahut Garra yang membuat Maira mengepalkan tangan
nya kuat kuat.
Habis manis sepah di buang kah, itu sepertinya melekat dengan
takdir ku. gumam Maira menahan sekuat mungkin air mata sialan yang akan jatuh.
“Kamu gak lagi cemburu kan.” Tanya Garra yang tak melihat
reaksi dari Maira.
“Ah, kalau itu terjadi aku pasti sudah gila, lagian
cemburuin kamu ada masalah apa sih aku.” Sahut Maira dengan nada tenang.
Gara yang mendengarnya mengeraskan rahangnya dengan kesal,
mengecup kuat di leher Maira, hingga meninggalkan bekas, seperti menyalurkan,
emosi memalui kecupan di leher, yang membuat Maira sedikit meringis. Garra
__ADS_1
terlihat sangat kesal dari sorotan matanya, hingga setelah melakukan itu ia kembali fokus pada leptopnya.
Maira terpaku membisu dengan ulah Garra yang di luar dugaan.
Kesal sampai rasanya ia lupa kalau dengan rasa sakit di leher dan tubuhnya.
Maira bergegas ke ruangan ganti, dengan rasa bersalah namun
juga kesal, semuanya bercampur hingga Maira sendiri bingung untuk bersikap
seperti apa?
Setelah mengganti pakaian, Maira turun ke dapur untuk
beberapa saat ia memasak menu yang simpel, lalu membaginya dengan Garra.
“Hmpt moga saja tuan itu gak marah, ngambekin aku juga gak
bakal ngubah apapun.” Ucap Maira menaiki tangga menuju kamar.
Saat Maira membuka pintu, tepat dengan Garra yang akan
keluar hingga keduanya saling tabrak.
Auhh, keluh Maira saat kepalanya menabrak dada bidang Garra.
“Heh, punya mata gak sih jalan.” Sahut Garra menatap dengan
tatapan kesal.
karena roti di mulutnya masih menancap.
"Siang gini kamu udah goda aku, tadi pagi belum puas kah.”
Sahut Garra mengambil potongan roti di mulut Maira lalu di masukannya ke mulutnya.
Heh pikiran nya kenapa selalu mesum sih aduh shikopat. Gumam
Maira.
Garra merangkul pinggang Maira, dan mereka turun bersama
sama. Entah bagaimana semua para pelayan yang hampir 100 orang itu tiba tiba
saja menghilang dalam waktu semalam, dan waktu itu juga datang dalam waktu
singkat. Pak Marta juga tak menampakkan diri lagi.
****
Di night sky pertemuan Maira dengan seorang model Jenifer
wig, bersama sang asisten Carson.
Jenifer orang yang cuek dan terkesan arogan,
__ADS_1
duduk menunggu dengan sangat malas.
Maira dan Erian datang bersamaan untuk menyapa keduanya.
Terlihat jelas Jenifer sangat sombong saat berjabat tangan. Dia hanya menatap
sekilas lalu memberikan tangannya dengan lirikan smirk.
Maira kesal melihatnya, dia yang butuh tapi dia terlihat
sangat tidak peduli, sementara Carson sangat berbanding terbalik, di mana
Carson sangat antusias dengan perjamuaan
itu.
“Hallo.” Sapa Maira sopan
“Hallo nona, seperti dugaan ku anda memang sangat cantik.”
Sahut Carson berjabat tangan.
Berbeda dengan Jenifer tak peduli dan lebih sibuk dengan
ponselnya. Wajah Maira terlihat masam dengan kesal.
“Jadi begini, untuk
penampilan Jenifer nanti di ingin mode yang berbeda..” ucapan Carson tak
lanjut.
“Maaf, saya belum mengiyakan akan ikut terjun dalam
pembuatan gaun dari miss Jenifer.” Sahut Maira penuh penekanan.
Erian dan Jenifer, apalagi Carson terbelalak mendengar ucapan
Maira yang tanpa pikir panjang itu.
"Maksud anda.” Sahut Carson tak percaya, pasalnya banyak para
desainer yang ingin Jenifer memakai barang mereka, lalu mengapa Maira
menolaknya.
“Saya menolak, aku rasa ini sudah jelas.” Sahut Maira ingin
segera beranjak.
“Heh apa maksud kamu.” Protes Jenifer angkat bicara.
“Saya ini klien, dan kamu harus melayani klien, saya bukan
orang sembarangan kamu tahu gak.” Ucapan yang terdengar seperti bentakan.
__ADS_1