
Maira masih membenamkan wajahnya di pelukan Garra yang hangat mencoba mencari rasa nyaman. Baru saja air mata Maira mengembun tiba tiba handle pintu berputar dari luar. Mata Garra melirik dengan segera dirinya
menyingkirkan Maira dari pelukanya.
“Eh, aku ganggu yah.” Sasha berkata. “ Lagi ada proyek apa sama Maira.” Sasha kaget melihat kehadiran Maira. Langkah kakinya tertahan
di pintu masuk.
Garra berjalan setengah berlari menghampiri Sahsa. “ Kamu ngomong apa sih.” Garra menarik tangan Sasha agar mengikutinya masuk.
“Rencana aku mau kasih surprise buat kamu.” Garra berkata. Tangan kekarnya menyingkirkan rambut nakal yang menutupi Sebagian wajah Sasha.
“Oh, benarkah! .” Sahut Sasha menatap coretan karya tangan Maira.
“HM.” Garra Kembali berdehem
“Kamu nentuin gaun aku langsung sama desainernya! Ya ampun sayang.” Sahsa memeluk erat tubuh Garra. “Jadi kita copple.! Menatap gambar yang memperlihatkan desain pasangan baju. Garra mengangguk. Tangannya membalas pelukan Sasha. Sangat mesra. “ Terimakasih. Sweet banget.” Sasha membenamkan wajahnya di dada Garra. Sama halnya Maira tadi.
__ADS_1
“Maira terimakasih yah.” Sasha mengadahkan kepalanya untuk menatap Maira dari punggung Garra.
Sebuah senyuman terukir kaku di wajah Maira.
“I-ia.” Maira berkata dengan kaku. Matanya hampir saja mengeluarkan cairan bening. Berusaha untuk menahan dengan objek yang ditatapnya tanpa berkedip sebelum berekting menguap. Saat itu dirinya sudah tak mampu untuk membendung air di mata sebelah kanan.
“Kenapa ke sini, aku kan sudah menyuruhmu untuk menunggu.” Meraup wajah Sasha dan menatapnya lebih intens.
“Terlalu lama, lagian tadi aku menelfon mu ada di bawah.” Wajah Sasha cemberut sembari bertingkah manja.
Dada Maira semakin terasa sesak, dirinya sudah tak mampu untuk berpura pura lagi, ia ingin segera pergi dari tempat itu sampai Rama
Sasha berada dalam pelukan Garra, sementara Maira sang istri berada tak jauh dari samping Garra tengah menunduk tangannya mengepal di depan bibirnya. Beriringan dengan hembusan nafas kasar. Dan cairan bening yang
mengalir keluar. Dengan cepat cepat Maira mengusapnya kasar. Sayangnya mata Rama
sangat jeli. Sasha melihat kedatangan Rama melepaskan pelukannya perlahan.
__ADS_1
Rama yang tengah masuk dengan membawa dokumen bertuliskan, PERJANJIAN PERNIKAHAN. Dengan cepat menyembunyikannya di punggung. Sayangnya
terlambat lirikan Maira membacanya dengan cepat bantuan dari tulisan kapital
itu.
Lagi dan lagi sesak semakin menghimpit dadanya Maira sampai sampai ia tak dapat menahan air mata yang keluar dari mata kanan nya itu lagi. Mengembungkan kedua pipinya dengan cepat menyeka bulir air mata itu agar tak menimbulkan bekas.
“Bagaimana dengan semua persiapannya.” Bertanya saat melihat kedatangan Rama dengan tatapan penuh.
“Semua sudah di atasi.” Melirik Maira yang terus menatap lantai dengan pipi yang mengembung.
Mendengar itu Sasha Kembali terkejut dengan teramat senang, bahkan dengan cekatan tangan nya Kembali melingkar di tubuh Garra.
“Terimaksih sayang, aku benar benar tak menduganya.” Memeluk erat. “Kau akan mengizinkan aku mengundang Luis dan Omar.” Sasha bahkan mengatakan itu dengan nada permohonan.
Mereka seperti pasangan yang lupa tempat. Di sana masih ada Maira istri sah. Tapi kehadirannya bukan suatu masalah. Bisa di bayangkan sesakit apa wanita yang menyandang status sebagai istri sah itu. Bisa di katakan lewat tindakan Garra kalau dirinya memang hanya status semata. Apakah di hati Garra hanya ada nama Sasha yang terukir sampai sampai dirinya tak peduli soal lain. Maira kamu berhak dan pantas bercerai nanti. jangan sepelekan jika ada kesempatan itu datang.
__ADS_1
Lahan parkir di hati Maira donk.