Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
hari sakral tanpa harapan


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Tepat jam 10 pagi Maira sudah duduk manis di dalam ruangan kantor Garra. Duduk diam dengan terus memandangi beberapa lukisan dan benda benda lainnya.


Maira kembali teringat dengan kejadian kemarin. Dimana Garra memberikan sapu tangan padanya setelah di tampar oleh Malik dengan keras.


Kejadian yang berhasil membuat Maira merinding.


cukup lama Maira menunggu, padahal dirinya dan sang Kaka sudah datang sejak pagi sekali.


"Ngomong ngomong aku menunggu sampai kapan ini." Maira bicara dengan sedikit bosan.


Tak lama pintu terbuka lebar, memperlihatkan seorang pria yang tinggi dengan pinggang ramping, dan wajah bak malaikat. Sebelum Pintu itu tertutup kembali, di ikuti seorang yang tak kalah tampan memegang beberapa berkas di tangan. Tentunya tak kalah tampan, hanya saja tuan Garra lebih tampan di atas 2%. Hehe


Paras yang sempurna, daya tarik yang luar biasa. Mata biru dengan tatapan elang itu sangat sangat dan sangat indah ya tuhan. Malaikat jenis apa ini!


"Tatapan matamu seperti sedang mengejek kami." Garra bicara. " Apa benar begitu. HM." memandang dengan tatapan tajam berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Ah maaf, aku hanya ......... " belum usai Maira berkata dengan lantang Garra memotong ucapannya.


"Jika otak bodoh mu itu berani memikirkan ku, akan aku rebus dengan tubuhmu." kalimat mengancam yang melekat di tubuh Garra membuat orang yang mendengar nya akan ketakutan. Maira sekarang mengalaminya.


Cih laki laki satu ini seperti cenayang. Bagaimana bisa dia tahu Maira tengah memikirkan nya.


"Maafkan saya tuan, tadi saya bermaksud menyambut kedatangan anda." dengan nada selembut mungkin Maira bicara


"Ini kantor milik ku, untuk apa kau menyambut ku.? ucapan Garra membuat Maira merasa tersudutkan.


Y**a Tuhan aku ingin menggali tanah lalu menyembunyikan tubuhku dari manusia gila ini.


karena berhasil di pukul telak dan tak bisa menjawab membuat Maira terdiam dengan rasa kesal.

__ADS_1


Rama yang awalnya mematung berdiri tegak, ingin segera menyudahi perdebatan keduanya yang langsung menyerahkan persyaratan pra nikah pada Maira.


"Mohon di baca dan simak baik baik." bicara tanpa ekspresi dan meletakan kertas tepat di depan Maira .


perasaan maira sudah tidak enak saat sekretaris Rama mulai memberikan kertas dengan tulisan yang harus di patuhi.


... peraturan selama pernikahan...


...*Mematuhi semua ucapan pihak pertama....


...*Hukuman dari pihak pertama berlaku jika pihak kedua melanggarnya....


...*Tak ada kompensasi setelah bercerai....


" Jangan menganalisanya seperti siput." ucap Garra meledek. "baca dan simak. HM.! Ucapan Garra barusan, seperti nada mengejek. Dan itu memang kenyataannya.


Apa dia gila, peraturan macam apa ini. Maira membatin.


"Apa kau lupa dengan kalimat sabar." Maira berkata dengan tatapan masih pada lembaran pra nikah.


"Maaf nona, sebaiknya tanda tangan saja dulu. Mau mengulur waktu pun rasanya percuma orang seperti tuan Garra tak akan menerima alasan apapun." Rama bicara dengan sopan.


Suara ketukan pintu, membuat ketiganya beralih. Menatap seorang yang baru saja masuk. Dia adalah orang yang akan menikahkan Garra dan Maira


Di tempat ini?


Di kantor?


Sekarang? Oh tidak! Tanpa gaun pengantin? Astaga. Sekarang Maira hanya menggunakan pakaian kemeja putih dengan celana kain berwarna hitam.


Tak ada altar pernikahan yang seperti dia dambakan. Resepsi juga tak ada. Haha apakah takdir sangat kejam seperti ini. Kasihan Maira.

__ADS_1


Menikah dengan laki laki yang akan mencintaimu, atau pasangan yang saling mencintai. Heh lolucon macam apa itu. Maira menikah dengan pebisnis kaya sialan yang pelit harta itu dengan sangat sederhana dan tanpa persiapan apapun. Ya tuhan seperti menikahkan anak singa saja bukan.


Hati siapa tak terkoyak. Coba kasih tahu Maira gadis mana yang tidak sakit hati dengan pernikahan seperti ini.


Semesta rasanya mengutuk kebahagian Maira, walaupun ia menikah dengan orang terkaya ternyata pernikahan nya hanya lah gambaran akan suramnya kehidupan selanjutnya.


Kesedihan yang Maira rasakan, di hari pernikahan nya membuat ia harus menelan pil pahit lalu masuk kedalam jurang yang gelap.


Berbeda dengan Kaka brengseknya, yang lebih menampilkan wajah cerah, karena dengan menikahnya Maira dengan Garra. Itu membuktikan kalau dirinya akan punya ATM berjalan .


Saksi hanya ada Rama dan Malik. Tak ada cincin pernikahan hanya sebuah mahar yang diucapkan oleh bibir laki laki brengsek itu.


Mau pecah rasanya tangis Maira, pernikahan mainan yang baru saja selesai terasa seperti khayalan dari mimpi buruk.


Rama menatap sejenak pada Maira. Wajah sayu dengan mata yang berkaca kaca mencoba Maira sembunyikan di balik pipi yang menggelembung dengan sengaja itu.


"Rama akan membawamu pulang." Garra bicara dengan nada dingin. Maira mengangguk pasrah.


A**ku hanya tidak ingin berada di dunia ini sendirian. Kakak kau hanya keluarga ku satu satunya, tapi kenapa kau tega lakukan ini . Maira membatin


"Rama." memangil dengan wajah dingin


"Ya tuan."


"Bawa dia ke brescout." perintah Garra.


"Seorang diri." suara dingin tak bisa di bantah.


"Lalu kakakku bagaimana? Aku mau dia ikut denganku." Maira meminta.


"Apa kau tuli.Hm." Garra melirik dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Nona." panggil Rama dengan sopan. " silahkan ikut saya." ajak Rama dengan santun.


"Maira pergilah, aku akan menemui bik Sima." Malik bicara karena paham dirinya tak bisa meluluhkan hati seorang Garra Wiliam. Apalagi adiknya bukan wanita yang Garra cintai. Akan sangat mustahil bukan.


__ADS_2