
“Berlari seperti ini membuat air mataku berhenti.” Omel Maira mulai ngos ngosan. Dadanya naik turun udara di paru paru benar benar sudah menipis.
Maira duduk di bangku taman. Dirinya harus bisa menentralkan rasa yang sekarang sedang bergemuruh ria. Hidung bangirnya mulai menghirup udara malam yang dingin itu secara perlahan lahan. Setelah di rasa cukup Maira mengadahkan wajahnya ke atas sambil menutup mata, merasa mulai bisa berdamai
dengan diri sendiri.
“Kayaknya aku harus sewa apartemen deh. Bentar lagi kan bakal di usir. Aku maunya pas keluar dengan rasa bangga. Bukannya rasa malu dan kasihan. untung punya simpanan.” Meraih ponselnya yang ada di dalam tas lalu mengklik pencarian apartemen yang masih kosong. Nafasnya masih memburu.
Maira membuka salah satu website yang di sediakan dari ponsel pintarnya itu, dengan cekatan dirinya mulai memilah milah dari tempat sampai harga.
“Ini tuh bagus banget, tapi kalau aku sewa ini kayaknya abis itu bakal gak bisa makan deh.” Gumam Maira Kembali melihat lihat situs pencarian.
Tak terasa waktu berjalan cepat, perut Maira mulai tak enak, dirinya merasakan mual yang hebat, dan tanpa sengaja dirinya mengklik apartemen yang tadi enggan untuk menyewanya karena mahal.
Huekkk ………..
Terus mengeluarkan cairan bening membuat Maira terasa lelah, dengan segera ia mencari cari taxi atau ojol agar bisa segera menuju kemana saja, tubuhnya sangat kelelahan sekali.
Cairan yang terus keluar membuat tenggorokan Maira mengering seperti sahara. Benar benar susah hidup sendirian di luar sana. Tak mau menyerah Maira berusaha melangkah dengan sempoyongan sampai ia berjumpa dengan taxi dan segera membawa nya menuju suatu tempat.
Salah seorang menatap gadis yang familiar itu hanya saja karena permintaan sang tuan membuat Rama tak memperdulikannya. Lebih tepatnya tak yakin kalau itu adalah istri dari sang tuan.
__ADS_1
Usai berbicara berdua dengan Sasha membuat Garra geram karena yang di bahas hanya Luis dan Omar. Terang terangan dirinya bilang sangat mengidolakan Luis seorang gangster atau Omar seorang jaksa.
Garra keluar kamar yang penuh memori itu tepat setelah Sasha tertidur lelap. Dan saat akan memasuki kamarnya ia yang berada satu Langkah dari pintu tiba tiba langkahnya terhenti, menatap pintu yang terbuka lebar,
seingat nya dirinya saat naik dari tangga tak menyentuh pintunya sedikit pun tapi bagaimana bisa pintu itu terbuka.
Tiba tiba Garra teringat dengan sosok Maira gadis yang menjadi istrinya itu kini Kembali menghantui dirinya, di mana dirinya sekarang, mengingat ini sudah sangat malam, pintu terbuka lebar, bahkan Garra tak menyentuhnya sama sekali.
Berarti benar, suara dentingan heels tadi adalah Maira, dia mendengar semua percakapan mereka. Sesaat Garra kalut, hatinya mulai tak tenang, namun di menit berikutnya ia bersyukur setidaknya ia tak perlu mengatakan langsung pada Maira. Tapi di mana gadis itu sekarang.
Bersamaan dengan itu pintu terbuka menampilkan sosok Rama yang berdiri menatapnya dengan kepala mengangguk.
“Dimana Maira.” Tanya Garra dengan tatapan khawatir. Disini yang suaminya siapa sih?
“Maaf bos, sehabis mengantar anda tadi saya langsung Kembali ke kantor.” Jelas Rama dengan raut wajah bingung.
“Jadi kau tak menjemput Maira. Stupit.” umpat Garra mengusap wajahnya kasar.
Rama menatap pintu kamar satunya yang terbuka, dan mulai paham situasi.
Jadi tuan menyatukan nyonya Maira dan Sasha! Gila benar benar gila. Umpat Rama tetap tenang dengan wajah kaget.
__ADS_1
“Ada apa dengan wajahmu. Cari Maira.” Teriak garra dengan gelisah.
“Baik bos.”sahut Rama pamit dengan sopan.
Rama melangkah menuju mobil, gambaran seorang wanita yang di lihatnya sama persis seperti Maira kembali membuat Rama yakin kalau itu adalah nyonya Garra. Memangnya ada orang yang sama persisi. Rama membatin kesal.
Sementara Garra terus menghubungi nomor Maira, yang sama sekali tak di angkat. Kekesalan Gara benar benar berada di puncak. “Kemana gadis itu pergi.” Menjambak kuat rambutnya.
Kalau saja Garra sudah mendapatkan apa yang selama ini menjadi pertanyaan nya, maka sudah dia pastikan tempat Sasha bukan disini melainkan penjara, dan Maira tak akan tersakiti.
“Lagi lagi aku membuatnya merasakan sakit. Laki laki bodoh sepertiku apakah pantas bersamanya.” Gumam Garra mulai muak dengan sandiwara murahan ini.
Uhsss
Ke esokan paginya, Garra yang enggan untuk ke kantor di paksa oleh Rama agar segera hadir karena ada hal yang cukup penting yang perlu di urus oleh tuan Garra seorang.
“Kau tahu Sasha masih tidur, aku tak mungkin meninggalkan nya seorang.” Jelas Garra enggan bangun.
Astaga tuan, bisa mati aku kalau proyek kali ini sampai ditunda.
“Tuan, waktu itu anda sendiri yang mengatakan kalau beberapa pemasok gaun di tanggung oleh wiliam grup, dan anda juga mengatakan bakal mencari beberapa orang berbakat.” Jelas Rama Panjang lebar menahan kesal.
__ADS_1
Dan saat itu juga dirinya menjadi bertambah kesal. “Undur saja itu sampai waktu yang tidak di tentukan, aku masih malas membahasnya.” Mulai bangun dengan mata yang sembab.
jangan lupa lahan parkirnya yah. di tunggu comenannya.