
“Reina, aku rasa kamu emang bener.” Maira memeluk erat Reina.
“Udah cinta sama diakan.” Jelas Reina membalas pelukan Maira.
Mengangguk, membenarkan ucapan Reina.
“Tunangan dia udah balik.” Maira bersuara dengan lirih, bisa di artikan kalau dirinya sedang terpuruk oleh perasaan yang hadir.
Dunia memang kejam bukan!
“Tahu ko, aku yang di utus untuk jemput dia.” Jelas Reina mengelus lembut punggung Maira.
“Dia tadi nyindir aku.” Sahut Maira menarik diri.
“Mai, kamu jangan mikir aneh tentang dia.” Tegas Reina memegang pergelangan Maira.
Maira tak menyangka Reina akan mengatakan itu padanya di saat seperti ini.
Dimana teman yang selalu berpihak padanya?
Kenapa semua orang terasa sangat semena mena terhadap perasaan nya. Bahkan sahabat yang dianggap paling mengerti bicara seperti tuan Garra, sama persis dengan apa yang
tuan Garra katakan waktu itu soal Sasha.
Maira menatap ke dalam manik mata Reina. Terlihat sangat yakin saat mengucapkan itu. Kembali mengembuskan nafasnya kasar lalu beranjak menjauh dari Reina.
“kamu mau kemana” tanya Reina ingin menahan Maira yang bahkan tak menyahut saat di panggil.
Maira berjalan dengan kebingungan, kini pikirannya benar benar tidak focus, hatinya sakit.
Reina mengikuti Langkah Maira berjalan, dan terus memanggil namanya.
“Maira kamu mau kemana sih.” Tegas, Reina memanggil Maira.
__ADS_1
“Stop.” Maira mengangkat tangannya ke udara. melambaikanya pada Reina.
“Jangan ikutin aku, disini aku ngerasa kamu atau aku tuh kaya orang lain.” Jelas Maira dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir.
Berbaik arah, melangkah menjauh dari Reina yang semakin kebingungan, tapi akhirnya Reina menuruti ucapan Maira untuk tidak mengikutinya.
Setelah beberapa langkah, dengan air mata yang terus mengalir Maira harus tetap berjalan menuju fluffy, tapi dirinya masih berada di area bandara.
Masih sakit rasanya hati Maira, entah dengan siapa dirinya harus bicara mengutarakan perasaan nya. Satu satunya orang yang dianggap sahabat malah berpihak pada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.
Tangan Maira satunya Kembali membungkam mulutnya, sementara yang satunya menggantung dengan lesu.
Tempat yang jarang ada orang untuk singgah walaupun masih di area bandara.
Hiks ……….. hiks ………….. hiks ……….
“Kenapa sih, kenapa harus dia juga.” Gumam Maira semakin deras air matanya jatuh.
Sampai tangan kekar
Maira menarik Kembali nafasnya memberi jeda sebelum mengehembuskan nya dengan kasar.
“Aku bilang jangan ikutin aku.” Ucap Maira setengah berteriak. Menghentakan tangannya dengan kuat agar genggaman tangan kekar
seorang pria itu terlepas.
Sayangnya itu hanya harapan sesaat. Tindakan laki laki itu sulit di tebak. Belum juga Maira
menjatuhkan tangan kekar itu tubuhnya sudah lebih dulu bertengger di dada bidang
milik pria dengan aroma lemon segar.
“Kalau menangis bisa membuat kamu lega, jangan pedulikan bajuku yang basah.” Luis berkata dengan membelai rambut Maira
__ADS_1
Maira membulatkan matanya mendengar suara itu, siapa lagi kalau bukan Luis. Pria tampan yang bercumbu dengannya di malam yang hangat.
Malam hangat itu Kembali terdekumentasi di ingatan Maira.
Malam itu di rumah Luis.
Keduanya terdiam usai berciuman, saling melontarkan pertanyaan.
“Sudah menikah yah.” Gumam Luis memperhatikan Kembali bibir Maira.
“Ada niat selingkuh.” Tegas, menatap kedalam manik mata Maira.
“Enggak.” Sahut Maira beranjak.
“Tapi apa yang kita lakukan barusan adalah perselingkuhan.” Luis berdalih
“Emm.” Suara Maira sengaja di buat seperti ******* yang tertahan.
“Tapi kalau aku selingkuh dengan mu apa yang bisa aku dapatkan? Suamiku kaya, dia punya segalanya.” Jelas Maira angkuh
“Oh benarkah.” Menatap ragu ragu.
“Kau sangat pintar berhalu.” Ujar Luis melangkah mendekati Maira lalu merangkul pinggangnya dengan mesra.
“Apa kau tahu.” Maira berkata. “Sekarang aku bisa saja melayanimu. Tapi hanya sekedar itu bukan, setelahnya kau tidak akan pernah ada
di hatiku.” Ucap maira dengan rasa gugup karena Luis Kembali memiringkan
kepalanya dengan posisi bibir mereka akan Kembali menyatu.
“Dan apakah kau tahu, di saat itu aku merasa lebih baik mati.” Ucap Maira memberanikan diri menatap kedalam mata Luis.
lahan parkir wahai para raidersku.
__ADS_1
ig:pzaima