Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
gambaran dosa istri


__ADS_3

“Reina, aku rasa kamu emang bener.” Maira memeluk erat Reina.


“Udah cinta sama diakan.” Jelas Reina membalas pelukan Maira.


Mengangguk, membenarkan ucapan Reina.


“Tunangan dia udah balik.” Maira bersuara dengan lirih, bisa di artikan kalau dirinya sedang terpuruk oleh perasaan yang hadir.


Dunia memang kejam bukan!


“Tahu ko, aku yang di utus untuk jemput dia.” Jelas Reina mengelus lembut punggung Maira.


“Dia tadi nyindir aku.” Sahut Maira menarik diri.


“Mai, kamu jangan mikir aneh tentang dia.” Tegas  Reina memegang pergelangan Maira.


Maira tak menyangka Reina akan mengatakan itu padanya di saat seperti ini.


Dimana teman yang selalu berpihak padanya?


Kenapa semua orang terasa sangat semena mena terhadap perasaan nya. Bahkan sahabat yang dianggap paling mengerti bicara seperti tuan Garra, sama persis dengan apa yang


tuan Garra katakan waktu itu soal Sasha.


Maira  menatap ke dalam manik mata Reina. Terlihat sangat yakin saat mengucapkan itu. Kembali mengembuskan nafasnya kasar lalu beranjak menjauh dari Reina.


“kamu mau kemana” tanya Reina ingin menahan Maira yang bahkan tak menyahut saat di panggil.


Maira berjalan dengan kebingungan, kini pikirannya benar benar tidak focus, hatinya sakit.


Reina mengikuti Langkah Maira berjalan, dan terus memanggil namanya.


“Maira kamu mau kemana sih.” Tegas, Reina memanggil Maira.

__ADS_1


“Stop.” Maira mengangkat tangannya ke udara. melambaikanya pada Reina.


“Jangan ikutin aku, disini aku ngerasa kamu atau aku tuh kaya orang lain.” Jelas Maira dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir.


Berbaik arah, melangkah menjauh dari Reina yang semakin kebingungan, tapi akhirnya Reina menuruti ucapan Maira untuk tidak mengikutinya.


Setelah beberapa langkah, dengan air mata yang terus mengalir Maira harus tetap berjalan menuju fluffy, tapi dirinya masih berada di area bandara.


Masih sakit rasanya hati Maira, entah dengan siapa dirinya harus bicara mengutarakan perasaan nya. Satu satunya orang yang dianggap sahabat malah berpihak pada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.


Tangan Maira satunya Kembali membungkam mulutnya, sementara yang satunya menggantung  dengan lesu.


Tempat yang jarang ada orang untuk singgah walaupun masih di area bandara.


Hiks ……….. hiks ………….. hiks ……….


“Kenapa sih, kenapa harus dia juga.” Gumam Maira semakin deras air matanya jatuh.


Sampai tangan  kekar


Maira menarik Kembali nafasnya memberi jeda sebelum mengehembuskan nya dengan kasar.


“Aku bilang jangan ikutin aku.” Ucap Maira setengah berteriak. Menghentakan tangannya dengan kuat agar genggaman tangan kekar


seorang pria itu  terlepas.


Sayangnya itu hanya harapan sesaat. Tindakan laki laki itu sulit di tebak. Belum juga Maira


menjatuhkan tangan kekar itu tubuhnya sudah lebih dulu bertengger di dada bidang


milik pria dengan aroma lemon segar.


“Kalau menangis bisa membuat kamu lega, jangan pedulikan bajuku yang basah.” Luis berkata dengan membelai rambut Maira

__ADS_1


Maira membulatkan matanya mendengar suara itu, siapa lagi kalau bukan Luis. Pria tampan yang bercumbu dengannya di malam yang hangat.


Malam hangat itu Kembali terdekumentasi di ingatan Maira.


Malam itu di rumah Luis.


Keduanya terdiam usai berciuman, saling melontarkan pertanyaan.


“Sudah menikah yah.” Gumam Luis memperhatikan Kembali bibir Maira.


“Ada niat selingkuh.” Tegas, menatap kedalam manik mata Maira.


“Enggak.” Sahut Maira beranjak.


“Tapi apa yang kita lakukan barusan adalah perselingkuhan.” Luis berdalih


“Emm.” Suara Maira sengaja di buat seperti ******* yang tertahan.


“Tapi kalau aku selingkuh dengan mu apa yang bisa aku dapatkan? Suamiku kaya, dia punya segalanya.” Jelas Maira angkuh


“Oh benarkah.” Menatap  ragu ragu.


“Kau sangat pintar berhalu.” Ujar Luis melangkah mendekati Maira lalu merangkul pinggangnya dengan mesra.


“Apa kau tahu.” Maira berkata. “Sekarang aku bisa saja melayanimu. Tapi hanya sekedar itu bukan, setelahnya kau tidak akan pernah ada


di hatiku.” Ucap maira dengan rasa gugup karena Luis Kembali memiringkan


kepalanya dengan posisi bibir mereka akan Kembali menyatu.


“Dan apakah kau tahu, di saat itu aku merasa lebih baik mati.” Ucap Maira memberanikan diri menatap kedalam mata Luis.


lahan parkir wahai para raidersku.

__ADS_1


ig:pzaima


__ADS_2