
Kekesalan Garra tak dapat di ekspresi kan lagi. Ia bukan hanya mencekik kuat leher Rama namun juga ia menendang betis Rama beberapa kali.
Para pengawal tercengang melihat Garra yang menghantam Rama tanpa ampun. Sementara pak Marta berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Garra terus terusan melayangkan pukulan pada Rama hingga ia sama sekali kehabisan tenaga setelah pak Marta memeluk kuat dirinya.
"Rama segeralah jemput nona Maira." perintah pak Marta." berteriak sambil memeluk kuat tubuh Garra dari belakang.
Rama saat itu sedang tersungkur di lantai akibat pukulan Garra, ia sama sekali tak membalas sedikit pun pukulan yang Garra berikan.
Mendengar ucapan pak Marta segera Rama bangun lalu melangkah pergi bersama dengan beberapa pengawal lainya.
Rama merasa semakin tak tega dengan Garra yang kerap kali selalu tak bisa mengontrol emosinya.
Rama sangat mengerti kondisi Garra yang seperti itu karena beberapa sebab.
Di perjalanan Rama yang menyetir mobil ia sama sekali tak terlihat seperti kesakitan.
Ia hanya sedikit kesal dengan nona Maira yang tidak memikirkan tuan Garra sedikitpun.
Di dalam mobil Maira seperti kebingungan dengan beberapa pengawal yang ikut bersama Rama.
"Kenapa kamu membawa banyak sekali pengawal." tanya Maira melihat kebelakang yang di susul beberapa mobil.
"Agar anda tidak melarikan diri." ucap Rama spontan sambil sedikit meringis.
__ADS_1
"Kamu kan tahu, melawan mu saja aku tidak sanggup bagaimana mungkin aku melarikan diri dari pengawasan sebanyak itu." Maira memajukan bibirnya kesal pada Rama juga Garra.
"Lalu kenapa anda melarikan diri dari tuan Garra." tanya Rama sedikit kesal.
"Aku merasa terkurung." ucap Maira sedikit malu.
"Nona Maira jika perintah tuan Garra adalah menghabisi mu maka aku adalah orang pertama yang akan melakukan itu." ucap Rama dengan suara dinginnya.
Maira kaget mendengar ucapan Rama, ia sedikit merinding hampir saja ia berteriak minta tolong.
"Kau menakuti ku." ucap Maira menahan nafas.
"Aku sedang tidak bercanda." jawaban Rama sama sekali tak melihat kalau Maira adalah nyonya Garra yang sah.
Sampai ia teringat dengan ucapan Garra yang mengatakan kalau ia tak mau melihat Maira bersentuhan dengan laki laki manapun bahkan Kaka ya sekalipun.
Otak Maira lancar saat itu juga, setengah sudut bibirnya tersenyum siap akan membalas ucapan Rama.
"Aku punya penawaran denganmu." ucap Maira berpura pura berfikir.
ucapan Maira membuat alis mata Rama naik satu.
"Tuan mu Garra tidak suka melihat ku di Sentul oleh laki laki lain, aku hanya ingin tahu apakah itu berlaku untuk mu juga." menatap pundak Rama dengan bangga.
"maksud anda apa nyonya Garra." ucapan Rama se sopan mungkin.
__ADS_1
"Aku akan mencium mu di depan Garra. Biar kita mati bersama dalam satu lubang yang sama." Tersenyum lalu tertawa dengan puas.
"Anda begitu licik nyonya." ucap Rama sedikit tertekan. Ia hanya takut jika kalau ucapan Maira benar ia lakukan.
Mobil melaju dalam hening. Maira merasa menang dengan ucapannya.
sampai mobil yang mereka kendarai memasuki halaman mewah Brescout.
Halaman rumah megah itu tak menampakkan satu orang pun pekerja di sana.
Maira sama sekali tak menduga hal apa yang akan terjadi. Ketika ia turun dari mobil, seketika pak Marta menyambut nya namun sebelum itu ia bicara dengan Rama.
"Den Rama, pergilah ke rumah sakit lalu beristirahat lah beberapa hari." ucap pak Marta demikian.
Rama paham dengan situasinya sekarang namun ia khawatir dengan nyawa Maira.
Maira terlihat kebingungan dengan pembicaraan dua orang di dekatnya itu.
Seketika Maira memperhatikan Rama sedikit lebih intens, dan benar saja sepertinya Rama sedang dalam kondisi kurang sehat. pergelangan nya terlihat memerah bahkan lehernya juga bekas jari nampak jelas.
"Baik pak Marta saya mohon pamit." berjalan menjauh mengendarai mobil dan menghilang.
Wajah Maira nampak Bingung ia jelas memperhatikan saat Rama berjalan sedikit agak pincang.
"Nyonya Maira, tuan Garra sudah menunggu anda di kamar." ucap pak Marta mempersilahkan Maira berjalan lebih dulu.
__ADS_1