
Di dalam mobil Maira masih terdiam. Pikiran nya masih melayang layang mengingat ucapan Garra soal menjaga jarak dengan laki laki manapun termaksud kakak nya sendiri.
"Laki laki ini apa punya penyakit lain. Cemburuan sekali dia."
Rama yang fokus pada jalanan mengemudikan mobil membawa Garra dan Maira menuju pertemuan dengan raja Arab itu.
"Rama awasih nona muda ini. Aku tidak mau ia membuat masalah dan melibatkan ku." melirik Maira dengan ekor matanya.
"Siap tuan." jawaban singkat jelas dan padat.
"Heh di pikirnya aku beban apah.?
"Apa yang perlu aku lakukan selama berada di pesta penyambutan itu.? Tanya Maira ingin tahu.
"Kau cukup memasang wajah dan tersenyum seolah kau menikahiku dan hidup bahagia." memandang dengan intens pada wajah Maira.
"Tak perlu terkesima seperti itu. Aku tahu aku laki laki tampan." bicara dengan bangga diri.
"Tuan Garra selalu seperti biasanya. terlalu percaya diri." Rama membatin.
Perjalanan pun tiba di lokasi mereka pada akhirnya sampai di tempat pertemuan penyambutan raja Arab.
Bukan hanya Maira dan Garra melainkan Beberapa tokoh penting juga hadir para artis yang mengisi acara juga hadir.
Terlebih lagi utusan dari perusahaan Xione hadir dalam acara besar itu.
__ADS_1
Garra dan Maira berjalan layaknya pasangan serasi. Banyak mata yang memandang mereka terlebih pada Maira sosok gadis yang sama sekali bukan deretan orang berada apalagi artis ternama ataupun model.
"Tuan, kenapa semua orang melihat ke arah kita? Apakah pakaian ku atau dandanan ku bermasalah." berbisik pelan di telinga Garra sambil terus berjalan.
"Mereka sedang terpesona padamu." ujar Garra sambil tersenyum.
Saat mereka pun di sambut oleh beberapa yang tanam saham mulai dari para orang tua yang sudah berumur hingga pemuda pemuda tampan yang cukup kaya hadir dalam penyambutan raja Arab.
Ketika semua asik berbincang bincang raja Arab bernama Ibrahim itu mendekat ke arah Garra mereka pun bersalaman layaknya solidaritas kawan lama sesama perusahaan.
"Apa kabar tuan Garra. Senang bertemu dengan mu kawan lama." berjabat tangan lalu saling memeluk.
"Tentu saja baik. Senang rasanya anda berkunjung tahun ini." sambutan sesama pemilik bisnis.
Ibrahim melirik Maira yang berdiri di samping Garra dengan tatapan aneh. Dan itu hanya bisa akan di artikan sesama laki laki saja.
Maira sama sekali tidak mendengar pembicaraan antar Garra dan Ibrahim. Ia lebih fokus pada pandangan orang-orang padanya.
"Tatapan orang orang seperti sedang menghakimi diriku."
Karena tak nyaman dengan pandangan orang-orang Maira mulai merasa risih ia beberapa kali terlihat mengeluh bahkan ia menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Dia datang menemani ku sebagai pasangan." ujar Garra tatapan tajam pada Ibrahim.
keduanya saling memandang dingin satu sama lain seolah-olah tatapan mata mereka sedang beradu.
__ADS_1
"Hanya aku yang bisa menyingkirkan mu." perkataan Ibrahim penuh penekanan.
"Aku tidak takut. Sayangnya barang ku adalah hak ku. Kau tahu aku paling tidak suka berbagi." mengeratkan rahang dengan wajah mulai menghitam karena kesal.
"Aku pamit ke toilet sebentar." melepaskan tangannya yang melingkar pada Garra.
Berlalu tanpa persetujuan dari Garra. Maira berjalan menuju toilet dengan sedikit buru buru.
Saat berjalan mendekati toilet ia sekilas melihat seseorang dari masa lalunya.
Terhenti sejenak kembali memandang ke wajahnya yang pernah singgah di hatinya.
"Apa tadi itu? Aku seperti melihat Bian."
Sayangnya itu hanyalah pengelihatan sesaat. Maira yang kembali melihat sosok itu ternyata hanya orang yang sedikit mirip penampilan nya.
"Ah aku kenapa juga harus ingat dia." gumam Maira melangkah ke kamar mandi segera.
Maira di kamar mandi harus menunggu beberapa saat dulu sebelum ia keluar.
Saat masuk tadi belum ada orang di toilet. Tapi, saat berada di dalam dan akan keluar ia mendengar orang-orang berucap hal aneh terhadap nya.
"Hah benar benar di luar dugaan. Tuan Garra datang bersama seorang wanita yang sama sekali tidak pernah aku lihat." ujar pembicara 1
"Kamu benar. Aku sempat kaget dengan sosok wanita yang bersama tuan Garra. Mungkin saja dia adalah model." ujar pembicara 2.
__ADS_1
"Tapi aku belum pernah melihatnya modeling tampil di manapun." pembicara 1 berkata dengan heran.
"Oh mungkin saja dia adalah model luar." pembicara 2.