
“Jelaskan langsung ke intinya.” Ucap Garra tajam.
“Aku bisa menanggung sampai 10 tahun, semua agar bisa
berpihak padaku, dengan komisi di luar nalar, sebelum aku jatuh miskin, tapi itu
semua ada syaratnya.” Ucap Ellyana dengan maksud di balik tujuan.
“Jelaskan, dan jangan membuang waktuku.” Sahut garra
tersenyum menyeringai.
“Hentikan Erian yang akan membawa istri paman kabur.” Sahut
Ellyana dengan tatapan kesal hampir menangis.
“Setelah bercerai.” Lanjut Ellyana kemudian.
“Heh, kamu pikir ngapain aku publis dia trus kasihin ke
orang sembarangan.” Jelas Garra seketika merasa kesal.
“Jadi paman, gak akan membiarkan mereka bersama kan.” Sahut
Ellyana tersenyum senang.
“Walaupun akan jadi mantan istriku, gak bakal aku kasihin ke
siapa pun.” Jelas Garra menatap kesal ke Ellyana.
“Oke paman, kalo kayak gitu gak ada drama lagi donk, untuk
akusisi media ems di bahwa naungan William grup.” Jelas Ellyana tersenyum senang.
“Lagiana hal kayak gini, kenapa paman bisa kasih ke kamu
yang bucinya minta ampun, sama laki laki bego kayak Bian.” Sindir Garra tepat di jantung Ellyana.
“Aku mintah sama papah, dan akhirnya dia setuju setelah aku
ancam mau bunuh diri. Tapi abis ini aku bakal di marahin abis abissan.” Ucap Ellyana
tertawa tak peduli.
“Lagian paman kenapa mau akusisi media ems dari sekian
banyak peusahaan besar, media ems kan gak seberapa juga.” Tanya Ellyana mulai
curiga.
“Karena bosan, dan aku emang pengen aja.” Sahut Garra mengambil
dokumen penting dari Ellyana
__ADS_1
Proses tanda tangan pun terjadi, mengingat perusahaan yamor
berada di bawah naungan media ems, karena tak mau menyuruh Maira pindah, dan
pasti menolaknya juga, maka dengan terpaksa Garra mengakusisi media ems agar
maira tetap tak bisa jauh darinya.
Pembicaraan keduanya membuat para keloga geleng kepala, karena
tak habis pikir dengan bos Garra yang terkenal kejam namun bucin pada istri
rahasianya itu.
Garra, dan Nadia terlihat sudah tak tahan dengan drama
percitaan antara paman dan ponakan itu yang bucinya parah.
Mempersiapkan sedatail mungkin untuk hak angket akusisi,
membayangkan perdebatan yang akan terjadi di luar naral, tapi apa yang di
bayangan mereka sangat sangat jauh dari bayangan.
Rama sendiri setelah tahu, dan menyelidiki semalaman tentang proses akusisi media ems,
sudah menduga setengah kejadian ini, jadi dirinya tak telalu kaget walalupun
ini sangat keterlaluan.
rama sampaikan pada Garra, tentang direktur yang akan hadir dan di gantikan
media ems, namun agar tak terlalu mencolok kalau mereka sudah tau, maka drama
pun di jalankan, dan benar saja kalau yang akan Ellyana pertahun, semua ada
sangkut pautnya dengan Bian yang tak lepas dar Maira juga. Wah dua orang miskin
yang memperngaruhi orang kaya bukan.
Setalah resmi menjadi
pemilik media ems, sekarang garra tinggal menunggu kedatangan maira. Semua
sduah di siapakn oleh rama atas perintah garra. Tak sabar dengan ststus baru
mereka yang akan di ketahui semua orang membuat garra merasa bahagia di tingkat
atas.
Perjalanan Garra menuju fluffy membuat dirinya tersenyum
sepanjang jalan.
__ADS_1
“Rama, sebentar lagi status Maira akan ramai orang tahu,
menjadi istri ku.” Ucap Garra terus menerus menampilkan deretan giginya yang
rapi.
“Aku juga teramat senang bos.” Sahut Rama menimpli dengan
senyuman.
Ya ampun kapan terakhir kalinya aku melihat senyuman mu bos.
Yang tulus seperti ini.
Saat perjalan semakin dekat, Garra mendapatkan pesan dari Maira.
“Aku sudah di bandara, kamu dimana.” Pesan singkat itu
membuat Garra menuatkan alisnya.
Garra langsung menekan tobol panggilan, namun tak bisa terhubung,
dengan cemas menyuruh Rama menuju bendara secepatnya.
Di samping itu Maira juga mendapatkan sms, yang sama dan itu
dari tuan Garra.
“Segera ke bandara, aku menunggumu di sana.” Isi pesan
singkar dari nomor Garra.
Dengan malas, Maira menyampaikan pada Nadia yang terlihat
sedikit kebingungan.
Eh, bukanya pertemuanya di fluffy yah. Gumam nadia heran
namun mengikuti ucapan maira
Keduanya menuju bandara untuk bertemu.
Maira yang tak tahu menahu tanpa banyak tanya hanya
mengikuti isi pesan singkat itu, sementara Nadia kebingungan, tapi jika
mengelak juga tak mungkin karena bunyi suara ponsel Maira tadi membuat ia paham
jika Maira menenrima pesan.
“Maaf nona, apakah itu perintah tuan Garra.” Tanya Nadia
segan.
__ADS_1
“Yeah, siapa lagi. Bos kalian mengirimkan pesan singkat, menyuruhku
menuju bandara.” Sahut Maira dengan malam.