
Maira seperti tak melakukan kesalahan apapun, toh dipikirnya hanya pergi sebentar dan itu cuman soal pamit sementara ia pergi tanpa pamit.
Maira berjalan lebih dulu di banding pak Marta, ia sama sekali tak merasakan apapun.
Saat akan menaiki tangga menuju kamar ia merasa sedikit risih jika pak marta mengantarnya sampai di depan kamar. "Maaf pak Marta,aku bisa sendiri menuju ke kamarku." pikir Maira untuk apa harus di antar toh, ia juga tahu jalan.
"Maaf nona muda aku hanya takut anda akan melarikan diri lagi nanti." Ucap pak Marta langsung mengenai jantung Maira.
Senyuman Maira seketika kecut ia merasa seperti melakukan kejahatan yang luar biasa, yang bahkan ia sendiri tak paham di mana letak kejahatan nya.
Tak mau berdebat akhirnya Maira mengikut saja. Tapi kali ini pak Marta berjalan lebih dulu dari Maira sampai berada di depan pintu kamar lalu mengetuknya pelan "tok tok tok .............. "
"Tuan muda Garra." Ucap pak Marta sebelum ia mempersilahkan Maira masuk.
"Nyonya muda dengan sangat saya memohon tolong jaga kestabilan emosi tuan garra, dengan begitu banyak nyawa yang akan selamat." Tatapan pak marta begitu tulus untuk orang tua yang peduli pada anaknya.
Maira tersenyum sekilas sebelum ia menganggukan kepalanya pelan.
Ucapan pak Marta membuat Maira gelisah sebelum ia masuk ke dalam kamar dan menghilang dari pandangan pak Marta di balik pintu kayu yang elegan itu.
Entah kenapa perasaan Maira sedikit was was mengingat ucapan pak Marta barusan, ia meliat sekeliling memperhatikan setiap sudut ruangan namun tak menemukan keberadaan tuan Garra. "Apakah dia ada di kamar.? Ah, sepertinya tidak." Berjalan santai menuju tempat tidur.
"Apa kau senang jika aku tak ada di sini." Memegang kuat pergelangan Maira.
__ADS_1
Maira yang kaget hampir saja ia berteriak sebelum ia menyadari Marra dan hanya bisa menutup matanya karena ketakutan.
"Apa kau begitu senang lari dariku." Menarik dagu maira yang tertunduk menghadap lantai.
"Apa kau ingin membuatku mati karena tak bisa menahan emosi semakin mencengkram kuat dagu Maira.
"Apa aku begitu menakutkan untuk di cintai." Garra menyudutkan langkah Maira yang berjalan mundur.
"Ya." Ucapan Maira dengan suara yang besar berteriak ke arah Garra karena tak tahan lagi dengan cengkraman Garra.
"Kau begitu menakutkan untuk di cintai, aku bahkan tidak sudi berada di dekatmu." Air mata mulai menetes mengalir liris di pipi Maira.
ujung kaki Maira tak dapat di kondisikan ia berusaha mungkin untuk membantah Garra.
"Semua orang terpaku dengan dirimu yang tak bisa menahan emsoi bahkan melupakan aku yang juga punya perasaan, apa kau tahu bagaimana rasanya menahan sesak di dada yang bahkan bayangan mu pun tak akan mendengarkanmu."
Hiks hiks hiks " Aku takut Garra, tak dianggap itu menyakitkan." Ucap Maira hampir jatuh terduduk lesu beruntung Garra sigap menahan dirinya dan langsung menarik Maira ke dalam pelukanya.
Tangan Garra sudah hampir melayang mendengar bantahan Maira, sayangnya alasan Maira membuat Garra menahan tangan nya lalu berakhir menjadi tarikan perlindungan.
"Cintai aku, bahkan hanya aku." Memeluk erat tubuh Maira.
Kaget mendengar ucapan Maira barusan membuat Maira semakin sempit berfikir "Maksud kamu apa " bingung dan bimbang.
__ADS_1
"Jangan lari dariku, cintai aku, cintai aku aku seorang, hanya aku seorang." Kedua tangan Garra berpindah tempat di wajah Maira dan bahkan menatapnya tanpa cela.
Maira menatap kedua mata Garra, kemarahan, kemalangan, ketakutan, untuk pertama kalinya Maira melihat sesuatu itu di mata Garra. Kedua mata pria kasar itu mengeluarkan air mata yang memiliki ketakutan. Dan ucapan barusan terdengar seperti paksaan.
__ADS_1