
Rama melaju di kegelapan malam. Pikiran nya masih mengarah pada tuan Garra dan nona Maira.
Rama menepi di pinggiran jalan sejenak. Mengusap kasar wajah nya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa nona baik baik saja? Bagaimana dengan tuan Garra? Pasti sekarang ia melakukan kebiasaan nya lagi. Rama bergumam.
"ck .... ..." Rama frutasi.
Rama bimbang apakah harus kembali melihat keadaan tuan nya, dan memastikan kalau nona Maira baik baik saja.
Tapi, jika ia kembali sementara Nona Maira tak akan berguna sama sekali jika ia berada di sana.
Sejenak Rama kembali terdiam menatap jalan yang semakin sepi. kemudian menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi.
Maira menatap dengan keringat dingin di sekujur tubuh.
Wajah yang semakin memucat, adalah tanda kalau Maira benar benar takut dengan Garra.
Mencoba melawan rasa takut. Beberapa kali Maira menarik napas pelan untuk menetralisir kan rasa ketakutan yang luar biasa.
"Pergi." suara dingin milik Garra terdengar menakutkan.
Mengangkat kepala dengan pandangan tajam pada Maira.
"Aku bilang pergi." Teriakan amarah Garra menggema di setiap sudut ruangan.
Maira terdiam kaku dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Menelan paksa salivinga nya yang terasa susah.
*Aku harus pergi, ini saatnya aku pergi*. meyakinkan diri
Maira mundur beberapa langkah kebelakang dengan yakin melangkah. Namun, sesaat kemudian ia terhenti. Langkah nya tak terus.
Maira kembali menatap Garra. kali ini ia melihat dengan rasa sedikit rasa iba pada Garra.
__ADS_1
Memejamkan mata, lalu mengepal kuat kedua tangan nya.
*Ayolah Maira, tinggalkan laki laki ini sekarang juga. Peluang seperti ini jarang terjadi. Ingat kesempatan tak akan datang dua kali*.
Maira kembali membuka mata, melipat bibir nya sejenak lalu ia menatap Garra yang sedang melihat nya dengan tatapan tajam.
Garra mengangkat tangannya lalu mengayunkan kan pada Maira. Yang dapat di artikan agar Maira mendekat pada Garra.
Berjalan kaku ke arah Garra dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
*Seperti nya dia benar benar memakai ilmu hitam. Apakah sekarang ia sedang melakukannya padaku*?. berjalan mendekat
Dekat, semakin mendekati Garra yang terduduk di sofa. Maira memaksa bibir nya tersenyum walaupun, bibir mungil itu sedang mengigil karena rasa takut.
Pengelihatan Maira semakin jelas dengan darah segar yang keluar dari jeri jeri Garra. Luka sobek, bahkan ada sisa kaca yang masih menancap di beberapa bagian tangan Garra.
Garra membiarkan nya. melihat dan mengamati cara Maira mengobati luka di tangan miliknya.
"Aku memang bukan anak kesehatan. Tapi kalau masalah seperti ini aku sudah dapat pengalaman sewaktu di PMR."
Merasa, kalau Garra tak yakin dengan pertolongan pengobatan yang ia lakukan.
"Ini tidak akan membuat anda infeksi ataupun iritasi." *Ternyata sekretaris es itu bisa menembak semua hal. Wow ini termaksud seperti hubungan yang rumit nantinya*.
Garra memperhatikan intens wajah Maira yang sedang mengobati nya dengan sangat fokus dan berhati-hati.
"Ikatan mu tidak buruk, seperti anak TK." memperhatikan Maira yang membalut lukanya dengan perban.
__ADS_1
"Aku anggap itu sebagai pujian." sahut Maira mengikat kain kasa yang membalut tangan kekar Garra.
"Hey kau mau mematahkan tanganku." bicara tanpa ekspresi.
*Ia, aku mau patahkan kedua tanganmu. Biar kau tak mubazir dengan barang barang yang mahal ini*.
"Maaf tuan, aku hanya membuat ikatannya bisa menahan darah yang keluar."
"Kau akan menyesal kalau tangan ku sampai tak berfungsi." Garra berbisik dengan \*\*\*\*\*\*\* di telinga Maira.
Merinding tubuh Maira mendengar ucapan Garra. Tangan nya kembali bergetar, jantung nya berpacu hebat hingga Garra bisa mendengar nya.
Suara jantung Maira semakin kencang. Suara Garra seperti sirine yang berbunyi. Membuat yang mendengar nya seperti sebuah kabar buruk.
Garra memejamkan kedua matanya lalu meletakkan kepalanya di pundak Maira.
Wajah Maira Merona seketika. Terlalu muda untuk dia harus mengidap penyakit jantung.
*Ada apa dengan laki-laki ini? Tadi ia begitu menakutkan! Sekarang terlihat seperti laki laki yang manja*.
Maira memandang ke arah Garra. Tercium shampoo mint pudar yang begitu menyejukkan pikiran. Tanpa Maira sadari ia mengelus kepala Garra dengan lembut.
Sejenak menjadi sedetik. Sedetik menjadi semenit. Semenit menjadi sejam. Sejam berlalu menjadi semalam yang panjang.
Garra pun terlelap di pundak Maira. Merasakan kelembutan dari sapuan tangan wanita yang ia nikahi sore hari itu.
Di balik pintu rumah megah itu, Rama tersenyum dengan raut wajah lega. Ia merasakan sebuah hal baik akan terjadi kedepannya. Seperti mendapat kan harta Karun yang ia cari selama ini.
Tinggalin jejak yah guys biar tahu kalau cerita ini ada penghuninya.
__ADS_1