Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
rubah licik


__ADS_3

Acara kemarin malam masih membuat Maira takut, jika kali ini


Garra akan membunuhnya  secara perlahan.


“Maaf, sampaikan sama bos mu, aku gak bisa.” Sahut Maira


berlalu tanpa menunggu ucapan Rama.


Maira berjalan tergesa-gesa, meninggalkan acara itu. Erian


melihat Maira yang meninggalkannya, berniat ingin mengikuti Amira.


"Hiks hiks hiks."


Amira menangis, sudah sedikit jauh dari aula pesta.


Menyeka air matanya kasar lalu mengatur hembusan


nafasnya.


“Di sakiti Rama.” Suara seseorang yang tidak asing.


Bian


mendekati Maira lalu memberikan sapu tangan.


“Diam kamu.” Sahut Maira meraih sapu tangan dari Bian.


“Nih, udah gak butuh.” Sahut Maira memberikannya kembali setelah


menghapus air matanya.


“Weh, jangan galak donk.” Mengambil kembali sapu tangan nya dari Maira, lalu


mengulurkan tangan nya di hadapan Maira untuk kedua kalinya dalam menit yang sama


“kamu apaan sih.? Ucap Maira mantap heran.


“Wah jangan gitu donk.” Memaksa Maira untuk menjabat.


“Kalau, kamu mau di lihat oleh tangan kanan Rama, sebaiknya


terima bantuan ku.” Menunggu Maira berfikir


Maira melirik ke belakang, di lihatnya Erian dan Rama sedang


mengamati sekitar, Maira tak mau bertemu kedua, jadi menerima uluran tangan


Bian.


“Gitu aja lama banget.” Sahut Bian membawa Maira.

__ADS_1


Mereka berdua menuju mobil yang terparkir di lobi. Keduanya


masuk, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


“Kamu di selingkuhi sama Rama yah.? Tanya Bian melirik Maira, yang terlihat tak menanggapi


ucapan nya.


“Hebat juga yah kamu, bisa taklukan orang kayak Rama.”


Lanjut Bian berkata. Maira melirik dengan tatapan tajam.


“Eh, jangan tatap kayak gitu donk, horor tau.” Sedikit


kaget Bian saat mendapati tatapan Maira.


“Kamu sama Rama udah lama jalan nya.” Bian berkata dengan penuh penasaran


Bian memang mengira kalau Maira menikah dengan Rama, karena


waktu acara dengan raja arab Rama, adalah orang yang menghalangi Bian membawa


Maira.


Lalu mengira kalau Rama berkata membawa nama Garra hanya untuk menakutinya. Sebab Bian tahu kalau Garra memiliki tunangan.


“Aku bukan istri Rama, dia gak masuk kriteria cowok aku.”


“ Ya ampun  aku kira


itu hanya gertakan yang Rama Katakan, ternyata kamu memang istri dari Garra.”


Sahut Bian tak percaya.


“Hahaha, ternyata kau memang berbeda.” Sahut Bian tertawa.


“Dia selalu menyudutkan ku dengan ucapan tajam nya.” Ucap


Maira terlihat marah.


“Benarkah, dia dulunya tak seperti itu.” Ucap Bian masih


tertawa. Maira menatap Bian karena ucapan barusan.


“Rama itu adalah anak dari adik papah ku, dia anak adopsi


karena adik papah gak punya keturunan. Tapi setelah orang tua angkatnya meninggal


karena kecelakaan, dia jadi kayak gitu.” Jelas Bian


“Maksud kamu.” Masih mencerna ucapan Bian

__ADS_1


“Rama itu tipe orang yang sangat ceria, waktu SMP dan SMA kami selalu


bersama, sampai awal kuliah dia kehilangan kedua orang tuanya dan itu membuat dirinya


tertutup, dan menjadi kejam.” Jelas Bian dengan ekspresi.


“Waktu itu kamu gak tahu, karena dia kelas 8c dan kita di


kelas a1.”


“Dan aku juga gak niat kenalin kalian, makanya aku selalu


yang datang ke rumah kamu kalau ada kerja kelompok.” Ucap Bian bernostalgia.


“Tapi, aku rasa rama kenal sama kamu.” Beritahu Bian dengan


rinci


“Kok bisa.” Tanya Maira penasaran


“Waktu itu, kan kamu pernah datang tiba tiba ke rumah, buat


ngambil buku, nah dia ada di kamar, aku suruh sembunyi di lemari.” Sahut Bian


tersenyum jahat.


Maira mengingat kejadian itu, sekilas ingatan di mana dia


dan Bian berciuman mesra di kamar teringat jelas.


“Dasar brengsek, kamu sengaja.” Sahut Maira memukul Bian.


Oh pantas saja dia selalu menyuruh ku untuk menjaga sikap, hmptt ternyata dia tahu aku.


“Oke oke aku minta maaf.” Sahut Bian tertawa tanpa beban.


“Tapi kalau di pikir pikir waktu jaman SMA pacaran kek gak


ada beban kan.” Pikir Bian  tak berhenti


tersenyum.


“Aku masih marah sama kamu.” Senyuman Maira hilang saat


berkata seperti itu pada Bian.


“Aku minta maaf, tapi aku gak berniat jelasin ke kamu, kenapa


aku pergi waktu itu, maaf.” Ucap Bian merasa bersalah.


“Waktu aku gak mau kamu jelasin, kamu malah pengen cerita,

__ADS_1


sekarang ada waktu, kenapa gak ngomong.” sahut Maira terdengar penasaran.


__ADS_2