
Acara kemarin malam masih membuat Maira takut, jika kali ini
Garra akan membunuhnya secara perlahan.
“Maaf, sampaikan sama bos mu, aku gak bisa.” Sahut Maira
berlalu tanpa menunggu ucapan Rama.
Maira berjalan tergesa-gesa, meninggalkan acara itu. Erian
melihat Maira yang meninggalkannya, berniat ingin mengikuti Amira.
"Hiks hiks hiks."
Amira menangis, sudah sedikit jauh dari aula pesta.
Menyeka air matanya kasar lalu mengatur hembusan
nafasnya.
“Di sakiti Rama.” Suara seseorang yang tidak asing.
Bian
mendekati Maira lalu memberikan sapu tangan.
“Diam kamu.” Sahut Maira meraih sapu tangan dari Bian.
“Nih, udah gak butuh.” Sahut Maira memberikannya kembali setelah
menghapus air matanya.
“Weh, jangan galak donk.” Mengambil kembali sapu tangan nya dari Maira, lalu
mengulurkan tangan nya di hadapan Maira untuk kedua kalinya dalam menit yang sama
“kamu apaan sih.? Ucap Maira mantap heran.
“Wah jangan gitu donk.” Memaksa Maira untuk menjabat.
“Kalau, kamu mau di lihat oleh tangan kanan Rama, sebaiknya
terima bantuan ku.” Menunggu Maira berfikir
Maira melirik ke belakang, di lihatnya Erian dan Rama sedang
mengamati sekitar, Maira tak mau bertemu kedua, jadi menerima uluran tangan
Bian.
“Gitu aja lama banget.” Sahut Bian membawa Maira.
__ADS_1
Mereka berdua menuju mobil yang terparkir di lobi. Keduanya
masuk, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
“Kamu di selingkuhi sama Rama yah.? Tanya Bian melirik Maira, yang terlihat tak menanggapi
ucapan nya.
“Hebat juga yah kamu, bisa taklukan orang kayak Rama.”
Lanjut Bian berkata. Maira melirik dengan tatapan tajam.
“Eh, jangan tatap kayak gitu donk, horor tau.” Sedikit
kaget Bian saat mendapati tatapan Maira.
“Kamu sama Rama udah lama jalan nya.” Bian berkata dengan penuh penasaran
Bian memang mengira kalau Maira menikah dengan Rama, karena
waktu acara dengan raja arab Rama, adalah orang yang menghalangi Bian membawa
Maira.
Lalu mengira kalau Rama berkata membawa nama Garra hanya untuk menakutinya. Sebab Bian tahu kalau Garra memiliki tunangan.
“Aku bukan istri Rama, dia gak masuk kriteria cowok aku.”
“ Ya ampun aku kira
itu hanya gertakan yang Rama Katakan, ternyata kamu memang istri dari Garra.”
Sahut Bian tak percaya.
“Hahaha, ternyata kau memang berbeda.” Sahut Bian tertawa.
“Dia selalu menyudutkan ku dengan ucapan tajam nya.” Ucap
Maira terlihat marah.
“Benarkah, dia dulunya tak seperti itu.” Ucap Bian masih
tertawa. Maira menatap Bian karena ucapan barusan.
“Rama itu adalah anak dari adik papah ku, dia anak adopsi
karena adik papah gak punya keturunan. Tapi setelah orang tua angkatnya meninggal
karena kecelakaan, dia jadi kayak gitu.” Jelas Bian
“Maksud kamu.” Masih mencerna ucapan Bian
__ADS_1
“Rama itu tipe orang yang sangat ceria, waktu SMP dan SMA kami selalu
bersama, sampai awal kuliah dia kehilangan kedua orang tuanya dan itu membuat dirinya
tertutup, dan menjadi kejam.” Jelas Bian dengan ekspresi.
“Waktu itu kamu gak tahu, karena dia kelas 8c dan kita di
kelas a1.”
“Dan aku juga gak niat kenalin kalian, makanya aku selalu
yang datang ke rumah kamu kalau ada kerja kelompok.” Ucap Bian bernostalgia.
“Tapi, aku rasa rama kenal sama kamu.” Beritahu Bian dengan
rinci
“Kok bisa.” Tanya Maira penasaran
“Waktu itu, kan kamu pernah datang tiba tiba ke rumah, buat
ngambil buku, nah dia ada di kamar, aku suruh sembunyi di lemari.” Sahut Bian
tersenyum jahat.
Maira mengingat kejadian itu, sekilas ingatan di mana dia
dan Bian berciuman mesra di kamar teringat jelas.
“Dasar brengsek, kamu sengaja.” Sahut Maira memukul Bian.
Oh pantas saja dia selalu menyuruh ku untuk menjaga sikap, hmptt ternyata dia tahu aku.
“Oke oke aku minta maaf.” Sahut Bian tertawa tanpa beban.
“Tapi kalau di pikir pikir waktu jaman SMA pacaran kek gak
ada beban kan.” Pikir Bian tak berhenti
tersenyum.
“Aku masih marah sama kamu.” Senyuman Maira hilang saat
berkata seperti itu pada Bian.
“Aku minta maaf, tapi aku gak berniat jelasin ke kamu, kenapa
aku pergi waktu itu, maaf.” Ucap Bian merasa bersalah.
“Waktu aku gak mau kamu jelasin, kamu malah pengen cerita,
__ADS_1
sekarang ada waktu, kenapa gak ngomong.” sahut Maira terdengar penasaran.