Duda Keren Itu Pahlawanku

Duda Keren Itu Pahlawanku
bag 138


__ADS_3

Fahri pulang dari kantornya dan langsung menuju ke kamar Kirana,ia melihat Kirana sedang tertidur dengan sangat nyenyak.Tak mau mengganggu istrinya,Fahri memutuskan untuk membersihkan diri dan setelah itu ia keluar dan bergabung dengan Laras dan Doni yang berada di ruang keluarga.


"Kamu sudah makan Fahri,aku siapkan makan malam dulu yaa..",ucap Laras.


"Nggak usah ras,kebetulan tadi aku sudah makan di luar,sekalian ketemu klien..",jawab Fahri.


"Bagaimana keadaan Kirana, kalian tadi


ke psikiater lagi kan??",tanya Fahri.


"Emm.. sebenarnya tadi sebelum kita ke psikiater,Kirana sempat nangis histeris sihh..dia bilang..emm... dia pengen cerai dari kamu..",jawab Laras ragu.


"Lalu...",Fahri menghela nafasnya kasar.


"Tapi setelah kembali dari psikiater,ia sudah terlihat lebih tenang sihh..",jawab Laras.


"Laras,karena selama 3 hari kemarin aku tidak masuk kerja, pekerjaan ku jadi terbengkalai dan juga ada kendala pada anak perusahaan ku yang di luar kota..",ucap Fahri.


"jadi selama seminggu ini atau mungkin bisa juga lebih,aku harus keluar kota untuk menyelesaikan permasalahan yang ada disana, Laras aku nitip Kirana ya..",ucap Fahri.


"Fahri,kau tak usah khawatir,Kami semua disini akan menjaga Kirana dengan baik..",sahut Doni.


"Iya Fahri semoga, sepulang mu dari luar kota,Kirana sudah lebih baik lagi...",timpal Laras.


"terima kasih yaa...Laras, Doni...",ucap Fahri.


"sama-sama Fahri..oh ya, rencananya kapan kamu akan berangkat keluar kota??"tanya Laras.

__ADS_1


"Malam ini.. sekarang Riko sedang dalam perjalanan kesini",jawab Fahri.


"Emm..Laras,besok tolong sampaikan ke Kirana kalau aku ada pekerjaan di luar kota,saat ini Kirana sedang tidur dan aku tak tega untuk membangunkan nya..",ujar Fahri.


"Iyaa,besok akan aku sampaikan ke Kirana..",jawab Laras.


Sebenarnya Fahri ingin berpamitan langsung kepada istrinya tapi ia takut membuat Kirana menangis seperti tadi pagi sebelum ia berangkat ke kantor.


Tak berapa lama Riko sudah sampai di rumah laras,setelah berpamitan kepada Laras dan Doni akhirnya Riko dan juga Fahri pamit untuk segera berangkat keluar kota.


Sebelum ia ke rumah laras, sebenarnya Riko mengantarkan Vita terlebih dahulu ke rumah orang tua Vita.Karena keadaan Vita yang tengah berbadan dua jadi Riko tidak tega meninggalkan istrinya itu sendirian di apartemen nya.


Biasanya ketika Fahri dan Riko ada kerjaan di luar kota,Vita selalu menemani Kirana di rumah Fahri.Tapi karena hubungan Vita dan Kirana yang kurang baik karena kesalahpahaman kemarin,Vita memilih untuk tinggal bersama orangtuanya saja.


Vita merasa tidak enak akan sikapnya yang sudah sangat keterlaluan kepada Kirana tempo hari.Ia ingin meminta Maaf kepada Kirana,namun Riko memberi tahu istrinya tersebut tentang keadaan Kirana yang sedang depresi,dan memutuskan untuk nanti saja meminta maaf kepada kirana kalau Kirana sudah lebih baik.Sungguh Vita semakin merasa bersalah,ia tak berniat membuat Kirana sampai harus mengalami semacam guncangan jiwa karena perkataannya dan sikapnya.


Keesokan harinya,Kirana membuka matanya dan tak menemukan suaminya di sebelahnya.Ia bergegas membersihkan diri dan setelah itu pergi ke ruang makan.


Kirana tidak langsung duduk,ia memperhatikan semua orang yang berada di ruang makan tersebut satu persatu.Hanya ada Laras,Doni dan Arka,ia tak menemukan suaminya disana.


"Duduklah dek..",Laras menarik kursi untuk Kirana,dan mendudukkan Kirana di kursi itu.


Setelah itu dengan telaten Laras mengambilkan Kirana sarapan paginya,Laras merasa Kirana sedang mencari sesuatu karena dari tadi matanya tak bisa berhenti menatap kesana kemari.


"Apa kau sedang mencari suamimu??",tanya Laras kepada Kirana.


Kirana menoleh ke arah Laras,ia menatap wajah Laras,mencari jawaban disana,Kirana yakin Laras tahu dimana keberadaan Fahri.

__ADS_1


"Dek,Fahri ada urusan pekerjaan di luar kota jadi untuk seminggu ini Fahri berada di luar kota,semalam dia berangkat bersama dengan Riko, sebenarnya Fahri ingin membangunkan mu tapi ia tidak tega,karena semalam tidurmu sangat nyenyak..",ucap Laras panjang lebar.


Kirana yang mendengar perkataan Laras merasa tak bersemangat lagi,ia hanya memakan makanannya beberapa suapan dan kembali lagi ke kamarnya.


Beberapa hari setelah kepergian Fahri,Fahri tetap memantau perkembangan Kirana melalui Laras.Ia sering sekali menghubungi Laras hanya menanyakan kabar istrinya.Laras sudah pernah menyuruh Fahri untuk menghubungi Kirana langsung tapi sepertinya Fahri takut kejadian kemarin terulang lagi.Fahri tak mau Kirana semakin takut dan trauma ketika bersamanya.


Keadaan Kirana berangsur membaik,hari ini jadwal ia melakukan terapi lagi ke psikiater yang menanganinya.Laras selalu setia mendampingi Kirana,ia selalu mengantar Kirana dan menemani Kirana untuk terapi.Ini semua dilakukannya karena Laras ingin sekali Kirana sembuh.


Pada saat di ruang tunggu, tiba-tiba Kirana menggenggam tangan Laras,ia menatap wajah Laras.


"Kak Laras...",ucap Kirana tiba-tiba.


Laras terkejut mendengar Kirana memanggil namanya,karena biasanya ia hanya diam saja.


"iya dekk...ada apa??kamu mau apa??",tanya Laras.


"Kak Laras..Kirana mau sembuh..",jawab Kirana.


"Dek,kamu pasti sembuh..kamu harus punya semangat untuk sembuh yaa...kakak yakin kok kamu pasti bisa...",Laras memeluk Kirana.


Tak berapa lama kemudian,nama Kirana dipanggil oleh salah seorang perawat dan dipersilahkan masuk ke ruangan psikiater.Sementara Laras menunggu di luar.


Suatu kemajuan yang pesat,setelah keluar dari ruangan psikiater tersebut Kirana nampak tersenyum,ia juga sudah berbicara walaupun tidak banyak,setidaknya ada perkembangan.Sebenarnya Laras pun sudah diberikan penjelasan dari psikiater yang menangani Kirana,bahwa jika ingin sembuh Kirana harus mempunyai semangat untuk sembuh,semangat untuk Bangkinang lagi melawan semua keterpurukannya.Dan Laras yakin saat ini Kirana sudah mempunyai semangat itu.


Setelah sampai rumah,Laras segera mengabari Fahri tentang perkembangan Kirana,Fahri merasa senang, sebenarnya ia pun ingin segera kembali pulang.Hanya saja pekerjaannya tidak memungkinkan untuk ia tinggalkan.Fahri masih harus disana selama beberapa hari lagi sampai urusan pekerjaan nya disana benar-benar selesai.Fahri hanya menitipkan salam untuk Kirana,Laras sudah menyarankan agar Fahri menghubungi Kirana sendiri,tapi Fahri masih belum mau,masih ada ketakutan dalam diri Fahri,ia takut Kirana semakin membencinya,karena terakhir kali mereka bertemu ketika Fahri ingin mencium Kirana dan Kirana menolaknya dengan memalingkan wajahnya kesamping.Dan pada saat itu Fahri berfikir ia sudah membuat Kirana ketakutan dengan sikapnya,andai saja ia bisa mengontrol keinginannya untuk mencium istrinya pasti tidak akan ada kejadian seperti kemarin.


TBC dears...

__ADS_1


terima kasih sudah mendukung karya author..


. happy reading dears 🤗😘


__ADS_2