
Di perusahaan.
Satria berdiri di depan kaca yang langsung menghadap ke jalanan, banyak mobil berlalu lalang di bawahnya tetapi fokus Satria bukanlah melihat ke bawah melihat aktifitas manusia di bawah sana karena pikirannya melayang entah kemana.
"Ternyata aku serapuh ini." gumam Satria sedih.
Satria kembali duduk di kursi yang biasa ia tempati selama bekerja, dilihatnya beberapa tumpukan berkas melambaikan tangannya minta di periksa. Hati Satria saat ini sedang tidak baik-baik saja, banyak pertanyaan muncul dalam benaknya dan juga kesedihan yang mendalam mengingat perjuangan ibunya. Berperang dengan pikirannya sendiri membuat Satria semakin sedih dan gelisah, tak terasa Satria tertidur dengan tangan bertumpu diatas meja.
Seseorang menepuk pundak Satria agar terbangun, Satria menggeliatkan tubuhnya melihat siapa yang tengah membangunkannya. Seorang wanita cantik tengah berdiri dan tersenyum kearahnya, wajahnya sangat mirip dengannya yang ia yakini wanita dihadapannya adalah ibunya.
"Nak, kau sudah besar dan juga tampan sayang." ucap wanita tersebut.
"Ibu? Benarkah kau ibuku?" tanya Satria.
Wanita tersebut menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca, Nadia merentangkan tangannya Satria memeluk ibunya menumpahkan semua kesedihannya dan juga kerinduannya.
"Ibu kau kemana saja? Aku merindukanmu ibu hiks..hiks." tangis Satria pecah.
Ibu Satria bernama Nadia, wanita yang sudah melahirkan Satria ke dunia dan meninggalkannya sendirian atas panggilan sang maha kuasa. Nadia tak bisa berkata-kata, mulutnya bergetar dengan air mata yang bercucuran begitu derasnya.
"Ibu selalu ada di dalam setiap aliran darahmu, maafkan ibumu ini nak," ucap Nadia dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Selama ini aku selalu mengharapkan pelukanmu ibu, jangan tinggalkan aku lagi bu hikss..hikss.." ucap Satria menangis tersedu.
Seorang Satria yang di kenal dengan kepribadiannya yang cuek tak berlaku jika ia sudah berhadapan dengan ibunya, ibu yang selalu ia rindukan dan ibu yang selalu ia cari selama ini kini ada di hadapannya, memeluk tubuhnya dengan erat dan hangat.
"Jaga dirimu baik-baik nak, sekarang ibu harus pergi." ucap Nadia.
"Jangan pergi bu, aku mohon," ucap Satria memohon di hadapan Nadia.
"Tidak bisa nak, dunia kita sudah berbeda, yang perlu kau tahu adalah ibu sangat menyayangimu." ucap Nadia menangkup wajah Satria mengusap air mata yang masih mengalir di wajahnya.
Perlahan Nadia berjalan mundur melepaskan pelukannya dari Satria, Sekuat tenaga Satria memegang erat tangan ibunya agar tidak pergi namun tetap saja tubuh Nadia semakin menghilang tak bisa di sentuh layaknya asap.
Sekertaris Albert yang bernama Raden masuk ke dalam ruangan Satria karena tidak ada jawaban saat ia mengetuk pintu berkali-kali, Raden melihat Satria bergerak gelisah dengan mata yang tertutup hingga akhirnya ia memutuskan untuk membangunkannya.
"Pak Satria, bangun pak." ucap Raden.
"IBU, JANGAN PERGI BU.." racau Satria.
"Pak bangun, pak.. Hey.." Raden terus menepuk punggung Satria agar bangun dari tidurnya.
"IBU...." teriak satria membuka matanya.
__ADS_1
'Ternyata semuanya hanyalah mimpi, tapi terasa begitu nyata' batin Satria.
"Istigfar pak," ucap Raden
Satria menyugar rambutnya kebelakang, dia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Raden mengambilkan segelas air minum untuk Satria, dia yakin bahwa Satria tengah memimpikan ibunya yang selama ini ia cari, Satria pernah bercerita kepadanya kalau ia sedang mencari orangtua kandungnya yang entah dimana.
"Minumlah, jangan lupa istigfar." ucap Raden menyodorkan segelas air kepada Satria.
"Terimakasih." ucap Satria mengambil air yang di berikan oleh Raden.
"Pak Satria bermimpi?" tanya Raden.
"Iya aku bermimpi bertemu ibuku, tapi alam kami sudah berbeda sebelum nyonya Indah berangkat ia memberitahuku kalau ibuku sudah meninggal dunia saat aku masih kecil" ucap Satria.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, turut berduka cita ya pak, semoga beliau di terima di sisi sang maha pencipta." ucap Raden.
"Aamiin, terimakasih Raden." ucap Satria.
Satria meminta berkas yang di bawa oleh Raden, dia membacanya kemudian menandatangani berkas tersebut. Selama Rasya maupun Albert tidak ada di perusahaan Satria lah yang menggantikan keduanya, semua berkas yang sudah di tandatangani olehnya nantinya akan di berikan kepada Albert dan juga Rasya sebagai bukti kalau berkasnya sudah di periksa dengan teliti oleh Satria.
"Kasihan sekali pak Satria' batin Raden.
__ADS_1