Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Albert murka.


__ADS_3

Sampai di perusahaan Satria menyambut kedatangan Albert, dia menyuruh supir membawa mobil lewat jalur rahasia yang tak bisa dilalui oleh siapapun kecuali dia dan juga pemilik perusahaan yakni Albert. Adel turun terlebih dahulu, dia mengambil kursi roda dan membantu suaminya turun dari mobil.


"mari nona ikut saya." ucap Satria.


Adel mengikuti langkah kaki Satria yang entah kemana membawanya pergi, Satria membuka pintu lift CEO lalu menekan lantai paling atas di perusahaan milik Albert.


Kabar kedatangan pemilik pemilik perusahaan sudah menyebar ke telinga seluruh karyawan, Albert di bawa masuk ke dalam ruang meeting yang belum ada satupun orang disana, Satria sengaja melakukannya agar tidak ada yang melihat kondisi albert saat ini.


" sembunyikan kursi rodanya di bawah meja tepat di depanku." titah Albert.


Satria mendudukkan tubuh Albert di atas kursi yang biasa ia tempati untuk memimpin rapat bersama karyawan maupun klien, Adel berdiri di samping Albert sedangkan Satria keluar memanggil para staff yang bersangkutan.


" sepertinya ini meeting penting, lebih baik aku keluar saja." ucap Adel.


"diam disini." titah Albert.


Adel menuruti perintah Albert, walaupun sebenarnya dia tidak mau ikut serta dalam meeting tersebut karena merasa dirinya tidak pantas berdiri disana.


Ceklek.


para staff, manager dan juga kepala bagian masuk ke dalam ruang meeting dengan menundukkan kepalanya masing-masing. Albert memasang wajah datar dan juga dinginnya membuat bawahannya bergidik ketakutan, aura yang di pancarkan Albert sangatlah kuat sehingga tak ada yang berani menatap kepadanya.

__ADS_1


"semua sudah hadir, kecuali bagian produksi." ucap Satria memberi laporan kepada Albert.


"hmm" jawab Albert.


Adel menatap satu persatu karyawan yang berada di ruangan meeting, tak sengaja tatapannya bertemu dengan orang yang sangat di kenalinya.


'sejak kapan dia bekerja disini?' tanya Adel di dalam hatinya.


'kenapa Adel berdiri di samping tuan Albert? Ada hubungan apa dia dan juga tuan Albert?' batin seseorang yang dikenali oleh Adel.


"kalian tau kenapa kalian di kumpulkan disini?!" tanya Albert dengan tegas.


tidak ada yang menjawab pertanyaan Albert, para karyawan diam saja menanggapi ucapan Albert karena takut salah menjawab padahal mereka tau di dalam perusahaan ada masalah besar.


tok.tok..tok..


"masuk" sahut Albert.


ceklek.


kepala produksi masuk ikut bergabung dengan yang lainnya, dia menelan ludahnya dengan kasar melihat wajah seram Albert.

__ADS_1


"tetap berdiri disana!" titah Albert.


"ba-baik tuan muda." ucap kepala produksi.


"mana laporan kerjamu, berikan padaku sekarang juga." desak Albert.


Dengan tangan gemetar kepala produksi memberanikan diri maju kedepan membawa berkas lalu memberikannya kepada Albert, Albert mengambil berkas tersebut membacanya dengan teliti dia meremas kertas yang sedang di bacanya lalu melemparnya ke bawah.


Brakkk..


"Astagfirullahal'adzim" ucap Adel memegang dadanya.


Deg!!


Wajah kepala produksi langsung pias, dia tak berani menatap wajah Albert. Ruangan meeting hening seketika setelah Albert menggebrak mejanya, dia menatap nyalang kearah kepala produksi.


"seperti ini kinerjamu selama aku tidak ada disini hah?!" bentak Albert.


"ma-maaf tuan muda, saya khilaf." ucap kepala produksi.


"khilaf katamu?! Disini sangat jelas perbedaan pemasukan dan juga pengeluaran yang begitu jauh berbeda, kau bilang khilaf?! Setelah berapa banyak uang yang kau korupsi dari perusahaan, mungkin satu atau dua kali bisa dikatakan khilaf tapi kau melakukannya selama berbulan-bulan, kau tahu sendiri bukan aku tidak suka ada tikus yang menyelinap di perusahaanku!" berang Albert.

__ADS_1


Baru kali ini Adel melihat kemarahan Albert yang begitu menyeramkan berbeda dengan Albert yang biasanya, tidak ada yang berkutik jika Albert sudah mengeluarkan taringnya.


__ADS_2