Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Hasil Operasi


__ADS_3

Diluar Albert mondar-mandir sangat jelas terlihat di wajahnya tersirat rasa khawatir, Pak Ahmad berusaha membujuk Albert agar tetap tenang.


"Satria hubungi Cindy dan juga orang tua Adel, bawa baju ganti sekalian." titah Albert.


"Baik Tuan." ucap Satria.


"Tuan muda tenanglah nona Adel pasti akan baik-baik saja, daripada tuan mondar-mandir disini lebih baik tuan muda berdoa untuk keselamatan nona di dalam agar operasinya berjalan dengan lancar." ucap Pak Ahmad dengan lembut.


"Bagaimana aku bisa tenang paman, istriku terluka parah gara-gara aku." ucap Albert sedih.


"Tuan muda, Adel bukanlah wanita yang lemah percayalah pada paman." ucap Pak Ahmad lembut.


Albert menghela nafasnya kasar, dia merasa bersalah karena telah memaksa Adel untuk ikut bersamanya ke perusahaan. Albert mengajak Adel bukanlah tanpa tujuan, dia sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Adel namun takdir berkata lain.


Burhan berusaha mengeluarkan peluru dari tangan Adel, dia juga meminta dokter Lidya sebagai pendampingnya mencari stok darah yang tersedia di rumah sakit karena Adel kehilangan banyak darah.


"Dokter Lidya tolong lihat stok darah yang masih tersedia, golongan darahnya tolong di percepat." titah dokter Burhan.


"Baik dokter." ucap dokter Lidya.

__ADS_1


Dokter Lidya langsung bergegas keluar mencari stok darah golongan A di bank dara, saat membuka pintu Albert langsung menghampiri dokter Lidya menanyakan kondisi istrinya.


"Dokter bagaimana keadaan istriku?" tanya Albert.


"Maaf tuan saya belum bisa memastikan kondisinya karena saya harus segera ke bank darah jika tidak pasien akan dalam bahaya." ucap dokter Lidya.


Dokter Lidya langsung pergi meninggalkan Albert, dia mencari apa yang dia butuhkan.


"Huuhh.. Untung masih ada 2 kantong darah." ucap dokter Lidya.


Dokter Lidya mengambil dua kantong darah kembali masuk ke ruangan Adel, dia langsung memberikan darah tersebut kepada Burhan.


Satu jam kemudian.


Burhan menghela nafasnya lega saat peluru berhasil tercabut, seakan memikul benda berat yang bertumpuk di pundaknya Burhan berkali-kali mengucap syukur jika sudah berurusan dengan Albert maka nyawa taruhannya.


Cindy dan juga kedua orang tua Adel datang tepat saat lampu ruang operasi padam, Fatimah datang dengan bercucuran air mata mendengar anak semata wayangnya kini sedang terluka parah. Rasa bersalah semakin menyeruak di hati Albert, dia menyambut kedua mertuanya dengan kepala tertunduk.


Brukk..

__ADS_1


"Ayah, ibu maafkan Al karena tidak bisa menjaga anak kalian." ucap Albert bersimpuh dihadapan kedua orangtua Adel.


Yusuf memegang kedua bahu Albert, dia menyuruh Albert untuk berdiri. Yusuf tau perasaan Albert saat ini menantunya pasti merasa bersalah, tetapi di balik semua itu ada Tuhan yang lebih tau kapan kita sehat, celaka, susah, senang dalam putaran roda dunia. Tidak ada yang menginginkan peritiwa ini terjadi, namun kita harus tetap menerima semua Qada dan Qodar yang telah di tetapkan.


"Bangunlah nak," ucap Yusuf.


Albert merasa gagal menjadi seorang suami untuk Adel, selama ini dia selalu dilindungi oleh istrinya bahkan sampai saat ini dia masih belum bisa menjaganya.


"Nak Al, kami tidak menyalahkanmu atas semua yang terjadi anggap saja ini adalah salah satu ujian yang Allah berikan dalam rumah tanggamu." ucap Fatimah.


"Kakak bagaimana sekarang keadaan kakak ipar?" tanya Cindy.


" Terimakasih Ayah, ibu kalian adalah orangtua yang hebat beruntung Adel memiliki orangtua yang baik seperti kalian. Sekarang dokter masih menangani Adel tapi sepertinya operasinya sudah selesai, kita tunggu dokter keluar untuk menanyakan bagaimana kondisi Adel sekarang." ucap Albert.


Ceklek.


Albert memutar tubuhnya saat mendengar pintu terbuka, dia langsu g berlari menghampiri Burhan.


"Bagaimana kondisi Adel Burhan?" tanya Albert.

__ADS_1


"Operasinya berjalan dengan lancar meskipun ada kendala karena peluru susah di keluarkan, pasien juga kehilangan banyak darah meskipun sudah di ikat maka dari itu aku menyuruh rekanku mengambil dua kantong stok golongan darah A, beruntung kami masih memiliki cadangan kalau tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi." jelas Burhan.


Albert dan yang lainnya akhirnya bisa bernafas lega, mereka mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mendengarkan doa mereka untuk Adel.


__ADS_2