Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
kepo


__ADS_3

Acara makan siang kini telah selesai, para lelaki berkumpul di ruang tengah sedangkan para wanita membereskan piring bekas makan dan juga mencucinya.


" nak Al butuh sesuatu?" tanya Yusuf.


"tidak ayah." jawab Al.


Adel dan Cindy ikut bergabung, sedangkan Fatimah masih menata perabot yang sudah di gunakan ke dalam lemari.


" ayah nanti udah sholat anternya yah biar enak." ucap Adel.


"iya del, sini duduk dulu." ucap Yusuf.


Adel duduk di sebelah Al, sedangkan Cindy terus mepet kepada Satria yang bergerak tidak nyaman. Albert melihat kelakuan Cindy, dia menatap tajam ke arah adiknya namun Cindy belum menyadarinya.


"Cindy." panggil Al lengkap dengan wajah dinginnya.


Glek..


Cindy menelan ludahnya dengan kasar, orang yang paling di takuti olehnya adalah kakak pertamanya berbeda dengan Rasya yang dekat dengannya walaupun suka jail.


"pindah." titah Al.


"rasain lu, ngapain juga mepet-mepet kayak gitu." cibir Adel.


Cindy mengerucutkan bibirnya, dia kesal kepada kakaknya karena sangat jarang bisa memiliki kesempatan berduaan dengan Satria yang setiap harinya bekerja.

__ADS_1


Di negara lain.


Indah berbaring di atas hospital bed, Rasya menemaninya dengan duduk di sebelahnya. wajahnya pucat bibirnya pun kering, tangan yang di tancapi selang infus dan selang oksigen di hidungnya.


"Mom pasti kuat, demi anak-anakmu kau harus tetap sehat" ucap Rasya menguatkan Indah.


"mommy akan berusaha sya." ucap Indah lemah.


dokter datang memeriksa keadaan Indah, Rasya hanya bisa memperhatikan dari jauh dengan hati yang berkecamuk.


' semoga mommy bisa selamatkan ya Allah' batin Rasya.


*****


Adel dan yang lainnya sholat berjamaah di rumah yang di imami oleh Yusuf, sholat berlangsung khusyuk dari awal sampai selesai.


"ayah siap-siap dulu ya del." ucap Yusuf.


"oke ayah." ucap adel mengacungkan jempolnya.


Albert melihat sekeliling rumah milik orangtua Adel yang sederhana, banyak tembok yang sudah retak dan berlumut baginya rumah yang di tempati oleh Adel dan orangtuanya tidak layak huni.


"Satria kemarilah." titah Al.


Satria bangkit dari duduknya dan menghampiri Albert, Adel menggeserkan tubuhnya. Al berbisik di telinga Satria yang di angguki oleh asisten setianya itu, Adel kepo dengan yang di bisikkan oleh Al dia mendekatkan telinganya agar bisa mendengar apa yang di bisikkan oleh suaminya.

__ADS_1


"bisik-bisik apa sih?" tanya Adel kepo.


"Kepo" jawab Albert menyentil kening Adel.


Pletak.


"issh.. Aww.. Sakit onyon." keluh Adel.


Adel mengusap keningnya yang sakit, Yusuf terkekeh melihatnya.


"rasain lu" ejek Cindy.


"awas loe ya, berani ngejek gue." ucap Adel tidak terima di ejek oleh Cindy.


Adel menyerang tubuh Cindy, dia menggelitiki sahabat sekaligus adik iparnya. Cindy tertawa melepaskan dirinya dari Adel, dia bersembunyi di balik tubuh Fatimah yang baru saja datang dari dapur.


"ibu ada monyet." adu Cindy.


Fatimah mengerutkan keningnya, sejak kapan di rumahnya ada monyet dia mengedarkan pandangannya mencari monyet yang di maksud oleh Cindy.


"enggak ada kok." ucap Fatimah.


"yaakkk.. Loe bilang gue monyet." amuk Adel.


"iya loe sama kayak monyet, suka garuk-garuk wleee" ucap Cindy menjulurkan lidahnya mengejek Adel.

__ADS_1


Adel maju menarik tubuh Cindy dari balik tubuh fatimah, dia menggelitiki perut Cindy sampai berguling-guling di bawah. Kelakuan istri dan adiknya menjadi hiburan untuk Al, dia merasa sangat beruntung di kelilingi oleh orang baik seperti Adel dan orangtuanya yang menerima dia tanpa melihat kondisinya yang cacat.


__ADS_2