
Tak lama kemudian Adel datang kembali ke kamar, dia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur bersebelahan dengan Albert.
"kalo mau tidur yang bener posisinya." tegur Albert.
"ck diam, kenapa sih gacor mulu kerjaannya." kesal Adel.
"cewek kok tidurnya gak ada anggun-anggunnya banget sih." ucap Albert.
Adel merubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang, dia melipat kedua tangannya dan menatap lurus kedepan.
"kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Al.
"tidak, aku hanya ingin diam saja." ucap Adel.
Adel meneggakkan tubuhnya, dia menatap wajah Albert dari dekat.
"kenapa melihatku seperti itu? Apa karena wajahku yang tampan ini." ucap Albert dengan pedenya.
"kalau di pikir-pikir nih ya, kenapa semakin kesini kau semakin bawel Al?" ucap Adel.
__ADS_1
"diam salah, banyak bicara dasar wanita." ucap Albert.
"ya kan biasanya kau itu ngomong irit, wajahnya aja datar tanpa ekspresi, pertama kali aku melihatmu rasanya seperti melihat manusia kulkas tau." ucap Adel.
"aku juga tidak tahu." ucap Albert jujur.
Adel merasakan sesuatu yang membuatnya bergerak tidak nyaman, perutnya terasa begah dan sesak. Albert menautkan alisnya melihat Adel seperti menahan sesuatu, saat hendak bertanya Adel mengangkat sebelah tubuhnya dan mengeluarkan suara..
Brooottt... Wushh..
"ahh.. Leganya.." ucap Adel mengusap perutnya.
Albert menutup hidungnya, dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya. Adel buang angin sembarangan di kamarnya, belum selesai bau busuk ramuan yang di minumnya di tambah lagi bau gas beracun yang berasal dari ****** lucknut Adel.
"sorry, daritadi perutku kembung tapi sekarang aku merasa lebih baik setelah membuang gas yang menumpuk dalam perutku." ucap Adel dengan wajah polosnya.
Albert mengambil remot Ac dari atas laci lalu menyalakannya, dia berharap dengan menyalakan Ac bau kentut Adel bisa hilang.
Setelah beberapa menit, baunya sudah mulai menghilang. Albert kini bisa bernafas dengan lega, dia melepaskan tangannya yang digunakan untuk menutup hidungnya.
__ADS_1
"Apa salah dan dosaku Tuhan, kenapa kau memberikan banyak sekali cobaan di hidupku." keluh Albert.
Adel memposisikan bantalnya dan juga guling pembatas antara dirinya dan juga Albert, Adel turun dari kasur lalu membantu Albert merebahkan tubuhnya.
malam semakin larut tetapi Adel dan juga Albert sama-sama tak bisa memejamkan matanya, Adel memiringkan tubuhnya menghadap Albert.
"kau tidak mengantuk?" tanya Adel.
"tidak, kau pun sama?" tanya Albert balik.
"iya, tidak tau kenapa rasanya mataku tak mau menutup." ucap Adel.
"bagaimana kalau kita mengobrol, daripada kita diam saja." ucap Albert.
"boleh, oh iya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu? Boleh?" tanya Adel.
"silahkan saja."ucap Albert.
"kenapa kau bersikap dingin pada orang lain?" tanya Adel.
__ADS_1
Albert menatap lurus ke atas langit-langit kamar, dia melipat kedua tangannya di atas dada.
"dulu aku diasuh oleh kakek dan nenekku, mereka sangat menyayangiku kakekku sangat tegas padaku, dia mendidikku agar menjadi pria yang kuat dan hebat, dulu aku juga bersikap biasa saja pada orang lain tapi kakek memberi pesan kepadaku agar jangan terlalu baik kepada orang lain, Daddy adalah orang terpandang begitupun kakek aku bisa melihat perbedaan antara kakek dan juga Daddy, Daddy memiliki sikap yang ramah pada orang lain tapi Kakek memiliki sikap dingin dan tegas. Perbedaannya adalah saat berada di dalam perusahan banyak penjilat yang mendekati Daddy namun beda halnya dengan kakek, mereka takut padanya karena sikapnya yang dingin dan juga tegas, tak pernah main-main dengan ucapannya maka dari situlah aku belajar bagaimana caranya menjadi pemimpin yang hebat dan di takuti oleh bawahannya, sebagai pewaris aku harus memiliki sifat yang kakek tunjukkan dan ajarkan padaku." jelas Albert.